Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya telah lama menjadi sumber inspirasi bagi karya seni dan sastra. Sejumlah film, novel, hingga kegiatan seni rupa pernah mengangkat tema tersebut. Namun, beberapa kalangan menilai eksplorasinya masih belum beragam, terutama untuk karya instalasi dan musik. Karena itu, muncul dorongan agar peringatan Hari Pahlawan tidak hanya hadir lewat agenda parsial, melainkan melalui festival besar yang melibatkan berbagai elemen seniman.
Salah satu karya yang mengangkat latar pertempuran Surabaya adalah film animasi Battle of Surabaya (2015). Film ini menampilkan tokoh utama Musa, remaja 14 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai penyemir sepatu. Dalam cerita, dinamika hidup di tengah perang membawanya menjadi sosok penting pada pertempuran 10 November 1945.
Sutradara film tersebut, Aryanto Yuniawan, memilih Musa sebagai tokoh utama alih-alih menempatkan tokoh-tokoh sejarah seperti Bung Tomo atau Soekarno. Menurutnya, pilihan itu menunjukkan bahwa kepahlawanan tidak selalu identik dengan pemimpin pasukan atau orang berpendidikan tinggi. Ia menekankan bahwa sosok yang kerap tidak diperhitungkan pun dapat menjadi pahlawan.
Battle of Surabaya tercatat telah diputar di enam negara, yakni Indonesia, Republik Irlandia, Belanda, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Film ini juga meraih sejumlah penghargaan, salah satunya Best Animation Feature dari Hollywood International Moving Pictures Film Festival (HIMPFF) 2018.
Aryanto menyatakan film animasi dengan konten sejarah berpeluang menarik minat penonton. Ia mencontohkan, Battle of Surabaya dikerjakan dengan melibatkan 100 animator dan dinilainya terbukti sukses. Menurutnya, untuk menghasilkan film animasi panjang dengan kualitas yang baik, idealnya dibutuhkan 200–300 animator, disertai penguatan pada cerita, pengerjaan animasi, penyuntingan, hingga pemasaran. Ia juga menyebut telah menyiapkan konsep sekuel kisah Musa, tetapi hingga kini belum menemukan investor.
Selain film, karya seni dan sastra lain juga pernah mengangkat latar 10 November. Pada 1990, sutradara Imam Tantowi merilis film Soerabaia 45. Sementara itu, sastrawan angkatan ’45 Idrus menulis novel Soerabaja yang berlatar peristiwa 10 November 1945.
Dari ranah seni rupa, Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) pada 2020 tidak lagi menggelar agenda November Art yang biasanya hadir setiap tahun untuk memperingati Hari Pahlawan. Ketua Umum Koperjati Muit Arsa mengingat kembali kegiatan tahun sebelumnya, ketika komunitas tersebut membuat lukisan sepanjang 10 meter bertema Hari Pahlawan yang kini disimpan di Museum Tugu Pahlawan.
Lukisan itu memadukan karya banyak pelukis dari beragam aliran. Namun, mereka sepakat menggunakan gaya realis agar lebih mudah dipahami masyarakat. Muit menyebut pengerjaan dilakukan selama berhari-hari untuk menghasilkan karya bersama yang utuh.
Ia juga mengingat November Art pada 2018 yang menampilkan rangkaian pertunjukan dalam durasi panjang, antara lain tari hingga 10 jam, melukis on the spot 11 jam, permainan biola 19 jam, serta pembacaan puisi selama 45 jam. Rangkaian durasi tersebut disusun untuk membentuk angka 10-11-1945.
Pada 10 November 2020, rencana Koperjati menggelar pameran seni di Gedung Balai Pemuda dibatalkan dengan pertimbangan keamanan dan kesehatan. Pada hari itu, Balai Pemuda justru menjadi lokasi pameran keris yang berlangsung hingga 15 November, menampilkan berbagai barang pusaka.
Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi menilai 10 November bukan hanya tanggal bersejarah pada era kemerdekaan. Ia menyebut tanggal tersebut juga diperingati sebagai hari berdirinya kerajaan, sehingga ia memandangnya sebagai hari yang sakral.
Chrisman menilai selama ini Hari Pahlawan kerap lebih banyak menjadi momentum aktivitas produksi seni atau penyelenggaraan acara yang bertepatan dengan tanggal bersejarah itu. Ia menekankan bahwa pemaknaan Hari Pahlawan dapat dilakukan lebih luas, termasuk melalui pameran benda pusaka yang esensinya mengingatkan masyarakat pada sejarah. Menurutnya, aktivitas berkesenian yang baik tidak hanya berhenti pada produksi karya, melainkan juga menumbuhkan kecintaan yang lebih dalam kepada bangsa.
Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro menyatakan karya seni yang memakai tema dan latar Hari Pahlawan sebenarnya sudah banyak, tetapi kurang beragam. Ia menilai karya instalasi seni bertema Hari Pahlawan masih jarang, begitu pula lagu atau musik. Menurutnya, para seniman masih dapat mengeksplorasi dua bentuk tersebut.
Purnawan juga berharap peristiwa khas Surabaya ini dapat melahirkan lebih banyak produksi suvenir bertema Hari Pahlawan. Ia menyebut tokoh dan lokasi seperti Bung Tomo, Hotel Yamato/Hotel Oranje, atau Jembatan Merah dapat menjadi sumber inspirasi, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan kenang-kenangan dari Surabaya.
Selama ini, perayaan seni untuk memperingati Hari Pahlawan di Surabaya dinilai lebih sering dilakukan secara parsial. Purnawan mendorong adanya festival besar yang melibatkan berbagai elemen seniman Surabaya untuk berkarya bersama memperingati 10 November. Ia menilai diperlukan program khusus yang didukung Pemerintah Kota Surabaya agar misi para seniman dapat disatukan secara lebih terarah pada momen tersebut.

