Fenomena musik hipdut belakangan kian ramai di media sosial. Genre ini memadukan unsur hip-hop, trap, EDM, dan dangdut, lalu banyak digunakan sebagai audio untuk berbagai konten hingga masuk ke playlist pendengar muda.
Salah satu lagu yang ikut mendorong tren tersebut adalah “Garam & Madu” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii. Lagu itu sempat viral di TikTok, kerap dipakai untuk konten jedag-jedug maupun dance challenge. Di Spotify, lagu tersebut tercatat telah didengar lebih dari 288 juta kali.
Namun, hipdut tidak berhenti pada satu judul lagu. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak musisi muda yang muncul dengan warna serupa. Nama-nama seperti DIA, RYO, Naufal Syachreza, Suisei, hingga Kirohta mulai dikenal lewat karya-karya bernuansa hipdut.
Sejumlah nama tersebut juga berada di bawah satu kolektif bernama ANTINRML, yang menaungi Jemsii sebagai music director. Musik yang dibawa ANTINRML dikenal banyak mencampurkan hip-hop, dangdut, hyperpop, hingga jedag-jedug yang lekat dengan konten TikTok. Lagu-lagu seperti “EEEEEE AAAAA”, “NACKAL (Mama Papa Larang)”, “Cuma Temen”, hingga “Mejikuhibiniu” pun ramai digunakan di media sosial.
Di tengah tren musik global, hipdut justru menonjol karena identitasnya terasa sangat lokal. Beat hip-hop dan elektronik modern dipadukan dengan cengkok dangdut yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Pengamat musik Aldo Sianturi menilai hipdut bukan sekadar kemunculan genre baru, melainkan cerminan perubahan cara generasi muda menikmati musik. Menurutnya, anak muda saat ini tidak lagi terlalu terpaku pada pakem genre, melainkan pada seberapa relevan sebuah lagu, seberapa asyik dipakai membuat konten, serta apakah lagu tersebut memiliki identitas.
Aldo juga melihat hipdut lahir dari pertemuan antara beat hip-hop modern dan karakter dangdut yang sejak lama dekat dengan masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan “Garam & Madu” sebagai lagu yang menunjukkan dangdut dapat terdengar urban, playful, dan relevan bagi Gen Z.
Ia menilai ada perubahan budaya dalam cara anak muda memandang dangdut. Jika sebelumnya dangdut kerap dinikmati diam-diam, kini justru dipamerkan lewat TikTok, dipakai untuk dance challenge, bahkan menjadi simbol tongkrongan dan gaya hidup tertentu.
Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, disebut menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat hipdut cepat berkembang. Aldo menilai format hipdut cocok dengan pola konsumsi konten digital karena memiliki hook yang cepat masuk, beat yang langsung bergerak sejak awal lagu, serta lirik yang mudah dijadikan caption atau potongan video. Ia menyimpulkan, jika dahulu lagu menjadi hit karena diputar media, kini lagu menjadi hit karena dipakai publik.
Lebih jauh, Aldo menilai selera musik generasi muda semakin cair dan terbuka terhadap campuran genre. Menurutnya, hipdut menunjukkan ketertarikan pada “hybrid culture”—kombinasi lokalitas dan modernitas—dengan nuansa yang tetap membumi sekaligus memiliki estetika digital.
Kondisi itu, menurut Aldo, turut membuat batas antar-genre kian kabur. Ia mencontohkan bagaimana algoritma memungkinkan lagu dangdut muncul di feed pendengar dari berbagai latar, sebagaimana lagu dari genre lain juga bisa menembus ruang dengar yang berbeda.
Meski begitu, Aldo mengingatkan tantangan terbesar hipdut adalah menjaga keberlanjutan agar tidak berhenti sebagai tren viral. Ia menilai musisi hipdut perlu membangun identitas artistik yang kuat. Menurutnya, risiko terbesar ada pada repetisi: banyak tren cepat jenuh ketika terlalu banyak karya memakai formula serupa tanpa karakter yang jelas.
Hingga kini, hipdut masih terus berkembang seiring munculnya lagu dan musisi baru dengan warna serupa. Genre ini perlahan tidak lagi semata identik dengan musik viral TikTok, tetapi mulai membentuk kultur dan identitas baru di kalangan pendengar muda. Dengan perpaduan dangdut dan hip-hop modern yang dekat dengan kultur internet, hipdut menjadi salah satu warna yang menonjol dalam lanskap musik digital Indonesia.