BERITA TERKINI
iForte NDC Surabaya Tampilkan Paduan Tari Pop dan Nuansa Nusantara, 21 Grup Lolos Kurasi Offline

iForte NDC Surabaya Tampilkan Paduan Tari Pop dan Nuansa Nusantara, 21 Grup Lolos Kurasi Offline

Surabaya—Gelaran iForte National Dance Competition (NDC) kurasi offline di Surabaya menampilkan kreativitas anak muda yang memadukan lagu pop dengan elemen budaya Nusantara. Ajang yang berlangsung Sabtu (17/1/2026) ini menunjukkan bahwa unsur tradisi tetap bisa hadir dalam karya tari yang energik dan relevan bagi generasi muda.

Dari total 73 pendaftar, sebanyak 21 grup tampil dalam kurasi offline Surabaya. Para peserta menyuguhkan koreografi dengan sentuhan tradisi yang menjadi ketentuan dalam kompetisi tersebut.

Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing, mengatakan kewajiban menghadirkan nuansa tradisi dimaksudkan untuk memberi ruang bertumbuh bagi pelajar dan mahasiswa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.

“Kami ingin memberi ruang bertumbuh bagi pelajar dan mahasiswa agar mereka semakin mencintai budaya. Itulah mengapa kami mewajibkan ada nuansa tradisi dalam setiap penampilan,” ujar Victor.

Kompetisi tahun kedua yang mengusung tema “Inspirasi Diri” itu disebut semakin diminati. Surabaya menjadi kota ketiga dari rangkaian tur yang digelar di 13 kota di Indonesia. Victor menilai kualitas peserta di Surabaya merata dan tetap mempertahankan unsur tradisi dalam karya yang ditampilkan.

“Jadi nggak melulu karya tari K-Pop atau yang lain, tapi kita punya nilai dan masing-masing peserta menampilkan itu di panggung,” imbuhnya.

Selain memperebutkan kesempatan tampil di Grand Final di Jakarta pada 25–26 April, kompetisi ini juga menjadi pintu menuju peluang lain. Victor menyebut para juri yang merupakan koreografer profesional turut melakukan pencarian talenta untuk dilibatkan dalam Pagelaran Sabang Merauke di Indonesia Arena pada Agustus mendatang.

“Tidak cuma jago menari, kami melihat disiplin dan konsistensinya. Harapannya, meski tidak juara di sini (NDC), mereka bisa terpilih tampil di pagelaran nasional tersebut,” kata Victor.

Bagi peserta, memadukan tari kontemporer dengan tradisi menjadi tantangan tersendiri. Try An-Naafi’u Adha Wijaya, peserta yang meraih kemenangan pada kategori mahasiswa, mengatakan timnya berupaya meramu gerakan yang atraktif, aman, dan tetap estetik, sekaligus menghadirkan konsep tradisi yang dapat dinikmati anak muda.

“Anak muda zaman sekarang mulai rendah antusiasmenya terhadap tradisi lama. Jadi, kami kembangkan konsep tradisi yang bisa dinikmati generasi muda,” ungkap Adha, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Alexandra, perwakilan dari St. Louis 1 Surabaya yang menjadi juara kategori SMA/SMK, menyebut membuat koreografi dengan lagu bebas tanpa menghilangkan kesan Nusantara bukan hal mudah. Ia mengatakan timnya berlatih sekitar dua minggu dan tidak menyangka bisa meraih kemenangan.

“Dengan latihan sekitar dua minggu, kami puas dengan hasil yang kami dapatkan. Dan tidak menyangka bisa menang,” tandasnya.