Pasar keuangan mengawali pekan dengan pergerakan positif, meski masih dibayangi berbagai sentimen global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga agenda rilis data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan dalam sepekan ke depan terdapat sejumlah agenda ekonomi yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar. Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti rilis data seperti indeks kepercayaan konsumen, penjualan sepeda motor, penjualan ritel, hingga penjualan mobil.
Namun, menurut Gunawan, perhatian pasar diperkirakan lebih banyak tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat yang kerap menjadi rujukan dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter bank sentral negara itu. “Namun, perhatian pelaku pasar diperkirakan akan lebih banyak tertuju pada data ekonomi dari Amerika Serikat yang menjadi acuan ekspektasi kebijakan moneter The Fed,” ujarnya, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, Amerika Serikat dijadwalkan merilis sejumlah data penting, antara lain penjualan ritel, serapan tenaga kerja di luar sektor pertanian, tingkat pengangguran, serta inflasi. Rangkaian data tersebut dinilai akan memengaruhi ekspektasi pasar terkait peluang pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral AS ke depan.
Pada perdagangan awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 7.970. Penguatan ini sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona hijau.
Meski demikian, Gunawan menilai IHSG masih perlu menguji sentimen negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s yang sebelumnya menurunkan outlook rating kredit Indonesia menjadi negatif. Ia menambahkan, pergerakan IHSG saat ini masih sangat bergantung pada sentimen regional, terutama dinamika bursa saham di kawasan Asia.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi terpantau stabil dengan kecenderungan menguat. Rupiah bergerak sideways di tengah stabilnya indeks dolar AS di level 97,6 serta tekanan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di kisaran 4,22 persen. Rupiah ditransaksikan di sekitar Rp16.855 per dolar AS.
Di sisi lain, harga emas dunia kembali menguat ke level 5.032 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Kenaikan harga emas disebut dipicu ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Gunawan mengingatkan, ancaman konflik masih membayangi pasar global. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan permintaan aset safe haven seperti emas, sekaligus berpotensi menekan IHSG dan Rupiah apabila eskalasi meningkat.

