Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada awal pekan perdagangan yang lebih singkat seiring libur panjang pada Kamis dan Jumat. Pada penutupan perdagangan Senin sore, IHSG turun 63 poin atau 0,92% ke level 6.905, melanjutkan penurunan dari Jumat sebelumnya.
IHSG dibuka di 6.959 dan sempat menyentuh level tertinggi harian 7.001. Namun, indeks kemudian turun hingga 6.846 sebelum memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan.
Tekanan terutama terlihat pada sejumlah indeks sektoral dan tematik. IDXTRANS turun 2,88% ke 2.010, I-GRADE melemah 2,87% ke 169, dan IDXESGL terkoreksi 2,79% ke 124. Di sisi lain, IDXINFRA menguat 1,52% ke 2.151 dan menjadi penahan tekanan, sementara ISSI masih naik tipis 0,13% ke 250.
Dari dalam negeri, pasar mencermati sejumlah indikator konsumsi yang memberi sinyal ketahanan. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 naik tipis menjadi 123,0 dari 122,9 pada Maret. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini meningkat ke 116,5, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen tetap optimistis di 129,6 meski lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
Data penjualan mobil juga menunjukkan perbaikan. Penjualan mobil baru pada April tercatat melonjak 55,0% secara tahunan (YoY) menjadi 80.776 unit, berbalik dari kontraksi 13,8% pada Maret. Dalam empat bulan pertama 2026, penjualan mobil naik 12,5% menjadi 289.787 unit. Meski demikian, data konsumsi tersebut belum cukup mengangkat IHSG keluar dari tekanan.
Dari eksternal, data ekonomi Amerika Serikat pada Jumat sebelumnya dinilai belum memberi arah yang tegas. Nonfarm Payrolls April bertambah 115 ribu, lebih tinggi dari konsensus 62 ribu, tetapi melambat dibanding 185 ribu pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3% dan partisipasi tenaga kerja turun tipis ke 61,8%.
Tekanan upah terlihat mereda, dengan pendapatan rata-rata per jam naik 0,2% secara bulanan (MoM) dan 3,6% secara tahunan (YoY), di bawah prakiraan. Sementara itu, sentimen konsumen Michigan melemah ke 48,2 dari 49,8, meski ekspektasi inflasi turun menjadi 4,5% untuk satu tahun dan 3,4% untuk lima tahun. Kombinasi data tersebut membuat pelaku pasar menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat, namun perlambatan upah dan turunnya ekspektasi inflasi sedikit meredakan kekhawatiran terhadap sikap agresif The Fed.
Pelaku pasar juga menunggu agenda tinjauan MSCI pada Mei 2026. Isu ini tidak hanya terkait rebalancing rutin, tetapi juga menyangkut kualitas free float dan transparansi kepemilikan saham Indonesia. MSCI masih menahan kenaikan Foreign Inclusion Factors dan Number of Shares, tidak menambah konstituen baru Indonesia ke indeks IMI, serta menunda migrasi saham dari Small Cap ke Standard.
Risiko terbesar disebut berasal dari saham yang masuk kerangka High Shareholding Concentration (HSC), karena berpotensi mengalami penyesuaian bobot hingga dikeluarkan dari indeks. Kondisi tersebut mendorong investor lebih selektif terhadap saham berkapitalisasi besar yang berisiko terdampak rebalancing.
Dari sektor komoditas, perhatian tertuju pada keputusan pemerintah menunda rencana kenaikan royalti dan bea keluar mineral. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih mencari formula yang ideal agar penerimaan negara tetap optimal tanpa menekan pelaku usaha tambang. Isu ini dinilai relevan bagi saham mineral seperti nikel, tembaga, timah, emas, dan perak karena dapat memengaruhi biaya, margin, serta persepsi investor terhadap sektor tambang.
Di sisi global, investor menanti rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei. Agenda pertemuan diperkirakan mencakup isu luas, mulai dari perang Iran, aliran minyak melalui Selat Hormuz, perdagangan, logam tanah jarang, semikonduktor, hingga rantai pasok AI.
Menurut analis Goldman Sachs, pertemuan tersebut dinilai lebih berpeluang menjadi penstabil taktis bagi pasar ketimbang titik balik besar hubungan AS–Tiongkok. Goldman menilai hasil yang paling realistis berupa kesepakatan bertahap, termasuk potensi peningkatan pembelian produk pertanian, energi, barang modal, dan manufaktur AS oleh Tiongkok sebagai imbalan atas pelonggaran terbatas pada tarif dan pembatasan teknologi.
Di saat yang sama, risiko geopolitik masih menjadi perhatian setelah Trump menolak respons Iran terhadap proposal damai AS. Selat Hormuz yang disebut belum sepenuhnya pulih turut mendorong harga minyak kembali naik, sehingga investor memantau dampaknya terhadap inflasi, Dolar AS, dan minat terhadap aset berisiko.
Bagi IHSG, pertemuan Trump–Xi yang berlangsung konstruktif berpotensi membantu sentimen terhadap ekuitas Asia, terutama jika premi risiko minyak mereda dan kekhawatiran rantai pasok berkurang. Namun, ruang optimisme dinilai tetap terbatas karena peluang tercapainya “kesepakatan besar” disebut kecil, sementara isu semikonduktor, Taiwan, keamanan nasional, dan persaingan industri masih menjadi ganjalan.