Inaugurasi Sastra 2025 menjadi panggung kreativitas sekaligus ajang kebersamaan bagi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Kegiatan yang termasuk dalam rangkaian ospek fakultas ini melibatkan berbagai departemen serta alumni, dan menghadirkan pertunjukan seni-sastra yang menyatukan karya dan solidaritas mahasiswa dalam satu acara.
Dua mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fardani dan Ganesha Tridharma Waluyo, menyampaikan kesan positif terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut Fardani, panitia terlihat matang dan kompak sehingga rangkaian acara berjalan lancar dan penuh antusiasme. Sementara Ganesha menilai acara menarik dari awal hingga akhir karena menampilkan beragam ekspresi dan gaya berkesenian dari mahasiswa sastra.
Keduanya juga menilai Inaugurasi Sastra sebagai wadah penting untuk mempererat hubungan antarangkatan dan antarprogram studi. Selain menambah relasi, kegiatan ini dinilai memperluas wawasan tentang dunia seni dan sastra.
Bagian yang paling berkesan bagi Fardani dan Ganesha justru terjadi pada masa persiapan. Mereka menggarap musik pengiring dalam waktu empat hari dan memperoleh penghargaan sebagai penata iringan terbaik. Fardani mengenang proses latihan dan geladi yang dijalani dengan semangat tinggi, menyenangkan, dan penuh kebersamaan.
Dalam pengamatan keduanya, penampilan kelompok Sedesa (Sastra Seni dan Desain) menjadi salah satu yang paling menonjol karena konsep pertunjukannya dinilai unik dari segi kostum, properti, hingga gaya musikal. Sementara itu, departemen Sasindo disebut paling berhasil menyampaikan makna sastra yang mendalam melalui pementasan teater.
Dari sisi pelaksanaan, acara digelar di area parkir yang memiliki keterbatasan ruang. Meski demikian, suasana pertunjukan tetap terasa mendukung berkat pencahayaan dramatis dan tata artistik yang membangun nuansa khas pertunjukan sastra pada malam hari.
Fardani dan Ganesha berharap Inaugurasi Sastra dapat terus diselenggarakan setiap tahun. Menurut mereka, kegiatan ini bukan hanya wadah ekspresi, tetapi juga sarana belajar, bersosialisasi, dan mengasah kemampuan berkesenian mahasiswa sastra. Ganesha menegaskan bahwa tanpa acara semacam ini, mahasiswa sastra dinilai tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri.
Untuk pelaksanaan berikutnya, keduanya menyarankan perbaikan pada koordinasi dan manajemen waktu, serta evaluasi tata panggung agar penonton dapat menikmati pertunjukan dengan lebih nyaman.
Penyelenggara juga menyampaikan harapan agar Inaugurasi Sastra pada tahun berikutnya dapat berlangsung lebih maksimal, meriah, dan kondusif. Sejumlah catatan yang disorot antara lain perlunya perencanaan lebih matang, pembagian kerja yang merata, serta peningkatan fasilitas pendukung. Selain itu, diharapkan seluruh elemen mahasiswa dapat berpartisipasi tanpa perbedaan perlakuan antarjurusan sehingga kegiatan ini benar-benar menjadi simbol kebersamaan dan semangat berkarya mahasiswa Fakultas Sastra UM.