Indonesia dan Singapura mulai menyiapkan arah baru kerja sama bilateral menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027. Fokus pembahasan diarahkan pada pengembangan energi hijau, industri berkelanjutan, ketahanan pangan, serta konektivitas untuk memperkuat fondasi ekonomi kawasan.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, momentum enam dekade hubungan diplomatik tidak semata menjadi perayaan seremonial, melainkan kesempatan memperkuat kemitraan strategis untuk jangka panjang. “Ini adalah kesempatan untuk membangkitkan kembali kemitraan kita untuk dekade mendatang dan untuk merancang arah strategis baru bagi kedua negara kita,” ujar Sugiono dalam pernyataan pers bersama Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Jakarta, Selasa (13/5/2026).
Sugiono menilai hubungan Indonesia-Singapura selama enam dekade terakhir dibangun di atas kepercayaan strategis, kepentingan ekonomi bersama, dan stabilitas kawasan. Karena itu, kedua negara kini meninjau sejumlah proyek prioritas yang dinilai dapat memperkuat daya tahan ekonomi regional.
Salah satu perhatian utama adalah pengembangan perdagangan listrik lintas batas serta investasi energi bersih. Pemerintah kedua negara menilai proyek tersebut berpotensi menjadi salah satu pengembangan kelistrikan berkelanjutan terbesar di Asia Tenggara.
Selain energi, kerja sama diperluas pada ketahanan pangan melalui pengembangan teknologi agribisnis. Upaya ini dipandang penting untuk menjaga pasokan pangan di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian rantai pasok global.
Di sektor industri, Indonesia dan Singapura sepakat melanjutkan pengembangan kawasan industri Batam-Bintan-Karimun serta Kendal Industrial Park di Jawa Tengah. Kedua negara juga menjajaki pembentukan kawasan industri berkelanjutan baru. Sugiono menekankan proyek-proyek tersebut tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga diharapkan membuka kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan. “Inisiatif ini bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga peluang bagi kedua negara untuk menyediakan lebih banyak lapangan kerja, menciptakan peluang baru, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” kata Sugiono.
Dalam isu geopolitik, kedua negara menegaskan kembali komitmen terhadap sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada keamanan energi dan rantai pasok Asia Tenggara. “Kami terus menekankan pentingnya de-eskalasi dialog dan penghormatan penuh terhadap hukum internasional,” ujar Sugiono.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi hijau karena sumber daya energi terbarukan yang melimpah. “Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di bidang energi, seperti energi surya, panas bumi, dan tenaga air,” ujarnya.
Menurut Balakrishnan, tantangan utama Indonesia bukan lagi pada ketersediaan sumber energi, melainkan kemampuan menarik investasi dan mempercepat realisasi proyek energi hijau. Ia menilai potensi energi Indonesia dapat bersinergi dengan posisi Singapura sebagai pusat teknologi dan pembiayaan infrastruktur kawasan, sehingga kolaborasi dinilai dapat mempercepat transformasi ekonomi hijau di Asia Tenggara.
Balakrishnan juga menyinggung proyek bilateral yang terus berkembang, seperti Nongsa Digital Park di Batam dan Kendal Industrial Park di Jawa Tengah, yang dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi digital dan industri hijau.
Di tingkat regional, Singapura mendorong penguatan kolaborasi bersama Malaysia, termasuk pengembangan konektivitas transportasi dan integrasi ekonomi SIJORI (Singapura-Johor-Riau). “Di kawasan, kami juga berharap dapat melihat lebih banyak investasi dalam konektivitas transportasi, proyek digital, dan mewujudkan ASEAN Power Grid,” kata Balakrishnan.
Ia menambahkan, Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong sebelumnya telah menyaksikan penandatanganan proyek perdagangan listrik lintas batas dan pembangunan industri berkelanjutan dalam pertemuan pemimpin kedua negara tahun lalu.