BERITA TERKINI
Indonesia Masuk 10 Besar Pasar Musik Dunia pada 2025, Catat 178,9 Miliar Streaming

Indonesia Masuk 10 Besar Pasar Musik Dunia pada 2025, Catat 178,9 Miliar Streaming

Industri musik Indonesia mencatat capaian baru di tingkat global. Berdasarkan data Luminate, Indonesia menempati peringkat ke-8 sebagai pasar musik terbesar di dunia pada 2025, dengan total 178,9 miliar streaming sepanjang tahun tersebut.

Peringkat ini menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan konsumsi musik digital tertinggi, sekaligus mencerminkan perubahan kebiasaan mendengarkan musik yang kian didominasi platform digital.

Peningkatan aktivitas streaming disebut berkaitan dengan penetrasi internet dan adopsi layanan streaming musik yang terus meluas. Mengacu pada laporan We Are Social dan Meltwater pada awal 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 185,3 juta jiwa atau sekitar 66,5 persen dari total populasi.

Dengan basis pengguna internet yang besar, layanan seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music, serta platform lokal seperti Joox dan Langit Musik menjadi pilihan utama. Kemudahan akses, harga berlangganan yang dinilai terjangkau, dan keberadaan paket bundling dari operator telekomunikasi turut mendorong pertumbuhan jumlah streaming.

Dari sisi demografi, generasi muda menjadi kontributor utama konsumsi musik digital. Berdasarkan data Spotify Wrapped dan berbagai riset industri yang dikutip, kelompok usia 18 hingga 34 tahun mendominasi aktivitas streaming, dengan preferensi genre yang beragam, mulai dari pop, hip-hop, EDM, hingga dangdut dan musik indie lokal.

Selain itu, viralisasi lagu melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels ikut berpengaruh terhadap lonjakan streaming. Mekanisme algoritma dan konten buatan pengguna membuat sebuah lagu dapat meluas popularitasnya dalam waktu singkat.

Laporan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) juga mencatat pertumbuhan pesat pasar musik digital di Asia Tenggara, dengan Indonesia disebut sebagai salah satu penggerak utama. Perkembangan ini dinilai membuka peluang bagi musisi lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional, sekaligus menarik perhatian label rekaman global terhadap ekosistem musik Indonesia.

Meski demikian, tingginya angka streaming tidak otomatis sejalan dengan kesejahteraan musisi. Sistem royalti dari platform streaming masih kerap menjadi perdebatan karena pembagian pendapatan per stream dinilai relatif kecil.

Dalam berbagai diskusi forum industri musik, musisi independen kerap menyampaikan keluhan terkait minimnya penghasilan dari streaming. Karena itu, sebagian dari mereka mengandalkan konser, penjualan merchandise, serta kolaborasi brand untuk menopang keberlanjutan karier. Situasi ini menjadi catatan bagi ekosistem musik nasional agar pertumbuhan industri dapat dirasakan lebih merata oleh para pemangku kepentingan.