Perkembangan genre lagu di Vietnam pasca-1975 ditandai oleh satu dorongan yang nyaris tak terhindarkan: inovasi berkelanjutan. Setelah pembebasan Saigon dan penyatuan kembali negara, pembaruan dalam musik lagu muncul cepat dan meluas. Namun, inovasi yang berjalan terlalu lama pada masa awal juga memunculkan sisi gelap: prestise lagu-lagu perlawanan sempat ternoda, sementara musik klasik—termasuk lembaga seperti Teater Opera dan Balet Nasional Vietnam serta Orkestra Simfoni Vietnam—ikut terguncang. Seiring waktu, fase itu disebut telah berlalu. Dalam konteks pembangunan ekonomi serta stabilitas politik dan sosial, musik Vietnam kemudian berkembang pesat di berbagai genre, terutama musik lagu, meski masih menyisakan sejumlah kekurangan.
Salah satu penanda awal perubahan pasca-1975 adalah kemunculan bahasa musikal yang lebih ringan untuk tema-tema besar seperti negara, Partai, dan Presiden Ho Chi Minh. Musisi muda saat itu, Tran Tien, disebut sebagai pelopor melalui “Melodi Tanah Air” berirama rock lambat dan “Jika Kau Ingin Menemukan Lenin - Ho Chi Minh” dengan irama soul. Kedua lagu ini mendapat sambutan antusias dari penonton muda dan dipandang sebagai titik balik, menyusul kesuksesan kampanye “Bernyanyi untuk Rekan Sebangsa” dengan karya-karya Trinh Cong Son, Ton That Lap, Truong Quoc Khanh, Tran Long An, dan lainnya yang ditulis sebelum 1975. Sejak itu, musik ringan hadir di Vietnam Utara dan Selatan, lalu menjadi suara bersama mayoritas masyarakat di seluruh negeri.
Gelombang karya berikutnya memperlihatkan bagaimana tema tentang Ho Chi Minh dan tanah air terus digarap melalui beragam pendekatan. Di antaranya “Seolah Paman Ho hadir pada hari kemenangan besar” (Pham Tuyen), “Negara, sebuah lagu pengantar tidur” (Van Thanh Nho), “Melodi musim semi” (Cao Viet Bach - Luu Trong Lu), “Tanah Air” (Giap Van Thach - Do Trung Quan), “Sore ini laut bernyanyi” (Hong Dang), “Negara di tepi ombak” (Thai Van Hoa), serta “Negara” (Pham Minh Tuan - Ta Huu Yen). Sejumlah penulis dinilai berhasil menulis tentang Paman Ho, dengan Thuan Yen disebut menonjol karena mampu mengubah gaya penulisannya dari karya-karya seperti “Ibu Selatan yang mengalahkan musuh dengan tangan kosong” dan “Setiap langkah yang kita ambil” menjadi lagu-lagu seperti “Paman Ho, sebuah keyakinan tanpa batas,” “Ia kembali mengunjungi tanah airnya,” “Vietnam Tengah mengenang Paman Ho,” dan “Bulan di atas Ba Dinh” (puisi Pham Ngoc Canh).
Selain tema tokoh dan nasionalisme, penulisan tentang berbagai daerah tetap menjadi tradisi kuat. Daftar karya yang disebut mencakup “Musim Semi di Kota Ho Chi Minh” (Xuan Hong), “Sikap Ben Tre” (Nguyen Van Ty), “Nha Trang di Musim Gugur” (Van Ky), “Cinta untuk Tanah Merah Wilayah Timur” (Tran Long An), “Kampung Halamanku Desa Quan Ho” (Nguyen Trong Tao - puisi Nguyen Phan Hach), “Lagu Cinta Dataran Tinggi Tengah” (Hoang Van), “Sa Pa, Kota dalam Kabut” (Vinh Cat), “Hue, Cintaku” (Truong Tuyet Mai - puisi Thanh Binh), hingga “Oh Madrack” (Nguyen Cuong).
Di antara berbagai lokasi, Hanoi digambarkan sebagai ruang yang hampir selalu memanggil para komposer untuk menumpahkan perasaan. Banyaknya lagu tentang ibu kota membuat para pencipta harus mencari kata-kata baru dan cara ungkap yang khas agar dapat menonjol di tengah karya-karya yang telah mapan seperti “Rakyat Hanoi” (Nguyen Dinh Thi) dan “Berbaris Menuju Hanoi” (Van Cao). Keragaman itu terlihat dari lagu-lagu seperti “Hanoi - Hati Merah Muda” (Nguyen Duc Toan), “Emosi Oktober” (Nguyen Thanh - puisi Ta Huu Yen), “Mengenang Musim Gugur Hanoi” (Trinh Cong Son), “Oh, Sayangku, Jalanan Hanoi” (Phu Quang - puisi Phan Vu), “Lagu Rakyat Hanoi” (Tran Hoan), “Mengenang Hanoi” (Hoang Hiep), “Hanoi di Musim Tanpa Hujan” (Truong Quy Hai - puisi Bui Thanh Tuan), “Hanoi di Malam Berangin” (Trong Dai - lirik Chu Lai dan Trong Dai), “Selamanya Masa Kecilku di Hanoi” (Nguyen Cuong), “Hanoi di Musim Gugur” (Vu Thanh), dan “Musim Semi di Sungai To” (Le Viet Hoa). Disebut pula puisi tahun 1972 “Hanoi - Iman dan Harapan” karya Phan Nhan yang dinilai telah memuat unsur inovatif dalam ekspresinya.
Dalam masa damai, cakupan refleksi tentang tanah air ikut meluas. Tema bisa berupa pujian atas keindahan suatu tempat hingga kisah legenda rakyat. Gaya ini dicontohkan melalui rangkaian karya Pho Duc Phuong seperti “Danau di Gunung,” “Legenda Danau Nui Coc,” “Sekilas Danau Barat,” dan “Di Puncak Phu Van.”
Namun, sejarah pasca-penyatuan tidak sepenuhnya senyap. Masa-masa awal perdamaian dan penyatuan nasional diikuti sepuluh tahun perang perbatasan. Pada periode ini, lagu-lagu kembali mengumandang dengan tekad kuat untuk menang dan dengan ekspresi baru, antara lain “Perpisahan di Titik Keberangkatan” (Vu Trong Hoi), “Lagu Perbatasan” (Xuan Giao), “Panjangnya Perbatasan” (Tran Chung), “Mawar di Titik Penopang” (Ho Bac), “Bernyanyi Tentang Dia” (The Hien), “Bunga Sim Perbatasan” (Minh Quang), dan “Lagu Cinta Masa Muda” (Ton That Lap).
Kesetiaan pada sosok prajurit juga hadir dalam lagu-lagu yang lebih lirih, seperti “Menyanyikan Lagu Mars Selamanya” (Diep Minh Tuyen), “Jembatan yang Menghubungkan Pantai-Pantai Bahagia” (Van An - puisi Phan Van Tu), “Di Pulau yang Jauh” (The Song), “Sebuah Puisi Cinta Kecil dari Seorang Marinir” (Hoang Hiep - puisi Tran Dang Khoa), “Ketika Tank Melewati Wilayah Quan Ho” (An Thuyen - puisi Nguyen Ngoc Phu), serta “Musim Semi di Jendela” (Xuan Hong - puisi Song Hao). Ketika menyentuh prajurit terluka, para martir, dan citra ibu, emosi digambarkan memuncak melalui lagu-lagu seperti “Jejak Kaki Bulat di Pasir” (Tran Tien), “Lagu yang Tak Terlupakan” (Pham Minh Tuan), “Warna Bunga Merah” (Thuan Yen - puisi Nguyen Duc Mau), “Rumput Muda Benteng Kuno” (Tan Huyen), “Legenda Sang Ibu” (Trinh Cong Son), dan “Ibu Vietnam yang Heroik” (An Thuyen).
Meski demikian, catatan kritis muncul ketika memasuki masa damai. Disebutkan bahwa kronik dua perang perlawanan dapat ditulis lewat lagu-lagu tentang pertempuran dan kemenangan, tetapi kekuatan itu justru menjadi kelemahan dalam periode rekonstruksi: jumlah lagu yang memuji keberhasilan pembangunan setelah reunifikasi dinilai masih sedikit. Beberapa contoh yang disebut adalah “Gema Musim Semi Trị An” (Ton That Lap), “Sinar Matahari Hangat Tanah Air” (Vinh An), “Pembangunan Hanoi” (Quoc Truong), dan “Musim Semi di Sumur Minyak” (Pham Minh Tuan).
Di sisi lain, musik ringan dinilai menutup kelangkaan tema kehidupan keluarga. Pasangan seniman Ngoc Le dan Phuong Thao disebut melalui lagu-lagu seperti “Oh, Sepeda!” dan “Tiga Lilin,” yang menghadirkan citra sakral namun hangat. Kontribusi besar juga datang dari deretan lagu cinta populer, antara lain “Perahu dan Laut” (Phan Huynh Dieu - lirik Xuan Quynh), “Beri Aku Satu Hari” (Duong Thu), “Aroma Rahasia” (Vu Hoang - lirik Phan Thi Thanh Nhan), “Musim Burung Walet Terbang” (Hoang Hiep - lirik Diep Minh Tuyen), “Menunggu” (Huy Thuc - lirik Vu Quan Phuong), “Lagu Rakyat Kau dan Aku” (An Thuyen), “Perpisahan Saat Matahari Terbenam” (Thuan Yen - lirik Hoai Vu), “Musim Semi yang Berbisik” (Ngoc Chau), serta “Waktu Bunga Merah” (Nguyen Dinh Bang - lirik Thanh Tung).
Tiga nama disebut menonjol dalam warna penulisan tema cinta: Trinh Cong Son, Thanh Tung, dan Tran Tien. Lagu-lagu cinta Trinh Cong Son digambarkan menyejukkan dan menenangkan, karya-karya Thanh Tung menghadirkan kehangatan, sementara lagu-lagu Tran Tien memancarkan gejolak emosi yang membara. Ketiganya dinilai sangat sukses dan disebut dapat menjadi bahan kajian tersendiri.
Kelompok penulis lain yang juga populer di kalangan pelajar muda turut disebut, seperti Nguyen Ngoc Thien dengan “Oh, Beloved Life,” Tu Huy dengan “A Glimpse of Homeland” (ditulis bersama Thanh Tung), serta Nguyen Van Hien dengan “I Wouldn't Dare.”
Di luar tema-tema tersebut, terdapat bidang luas yang dikhususkan bagi anak prasekolah dan anak usia dini. Lagu-lagu anak disebut telah meraih keberhasilan yang cukup besar, namun sekaligus menghadirkan banyak tantangan untuk perbaikan dan peningkatan efektivitas. Pembahasan rinci mengenai tema ini dinilai perlu ditempatkan sebagai topik terpisah.
Secara keseluruhan, perjalanan inovasi musik lagu pasca-1975 memperlihatkan dua sisi: dorongan pembaruan yang membuat musik ringan menjadi bahasa bersama masyarakat, sekaligus pengalaman guncangan yang meninggalkan pelajaran penting. Di tengah kemajuan yang disebut jelas terlihat, sejumlah pekerjaan rumah—terutama kelangkaan lagu tentang rekonstruksi di masa damai—masih menjadi catatan dalam peta perkembangan musik Vietnam.