KUALA SIMPANG — Instalasi Farmasi RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang mulai pulih dan kembali menjalankan aktivitas secara bertahap setelah sempat lumpuh akibat banjir yang mengakibatkan area instalasi terendam lumpur tebal.
Hampir dua bulan setelah bencana, instalasi farmasi kini sudah dapat difungsikan kembali, meski masih disertai penyesuaian terhadap kondisi lapangan dan keterbatasan yang ada.
Kepala Instalasi Farmasi RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Puput Mayasari, mengatakan pemulihan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sarana dan prasarana yang terdampak serta keterbatasan sumber daya manusia. Pada awal bencana, seluruh aktivitas operasional terhenti karena instalasi dipenuhi lumpur.
“Awal bencana, kondisi instalasi farmasi benar-benar penuh lumpur. Banyak yang sudah melihat di media sosial bagaimana situasi kami saat itu. Alhamdulillah, setelah hampir dua bulan pasca bencana dan sekitar dua minggu sejak akhir Desember, kami sudah mulai bisa beraktivitas kembali di sini,” ujar Puput, Senin (19/1/2026).
Saat ini, instalasi farmasi masih difungsikan sebagai gudang penyimpanan obat. Pelayanan farmasi untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan rawat jalan masih dilaksanakan di gedung terpisah, sementara pelayanan rawat inap sudah mulai berjalan dengan sistem yang disesuaikan.
Penataan obat-obatan dilakukan secara bertahap sesuai bentuk sediaan dan standar tata cara penyimpanan yang berlaku. Puput menyebut, apabila seluruh obat telah tertata rapi dan kondisi gedung dinilai aman, maka seluruh pelayanan farmasi—baik rawat jalan maupun rawat inap—akan dipindahkan kembali ke gedung instalasi farmasi utama.
Meski layanan berangsur pulih, distribusi obat hingga kini masih dilakukan secara manual. Sistem aplikasi farmasi belum dapat dioperasikan karena gangguan pada server.
Sebelum bencana, pendistribusian obat dilakukan melalui aplikasi yang terhubung langsung dengan sistem stok, serta distribusi oleh petugas farmasi sehingga data keluar-masuk obat tercatat secara sistem dan fisik. “Sekarang, karena kondisi pasca bencana dan aplikasi yang belum bisa digunakan, pendistribusian obat kami lakukan secara manual agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan,” kata Puput.
Ia menambahkan, pencatatan manual dilakukan secara cermat dan terkontrol untuk menjaga akurasi stok obat, terutama guna mendukung pelayanan rawat inap yang sudah kembali berjalan.

