Institute Sains dan Teknologi (IST) Akprind menegaskan bahwa pengembangan teknologi seharusnya bermuara pada kebahagiaan umat manusia. Pesan tersebut disampaikan dalam acara pelepasan wisudawan yang digelar Rabu (23/5/2017).
Rektor IST Akprind Amir Hamzah mengatakan perkembangan sains dan teknologi telah mendorong perubahan dunia dengan sangat cepat. Menurutnya, manusia terus memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam laju yang tinggi.
Namun, Amir menilai teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan hidup dan meningkatkan kesejahteraan belum otomatis menghadirkan kebahagiaan. Ia menyebut masyarakat masih merasakan berbagai dampak buruk dari produk teknologi.
Amir mencontohkan persoalan transportasi di Indonesia yang, menurutnya, bertumpu pada produk luar negeri melalui kebijakan impor kendaraan. Kondisi itu disebut turut membuat transportasi menjadi ruwet di hampir seluruh kota besar di Indonesia.
Ia juga mengutip data WHO yang menyatakan bahwa pada 2015 angka kecelakaan lalu lintas tertinggi di Asia terjadi di Indonesia, dengan 38.279 kematian dalam setahun atau sekitar 105 orang per hari.
Di sisi lain, Amir menyoroti teknologi komunikasi dan informasi yang mendorong kebebasan informasi, tetapi juga diikuti penyebaran konten pornografi, perjudian, fitnah, dan penipuan.
Amir menambahkan, kemajuan sains dan teknologi juga belum sepenuhnya tercermin dalam indeks kebahagiaan manusia. Ia merujuk World Happiness Report 2017 yang menyusun peringkat kebahagiaan negara berdasarkan enam parameter, yakni pendapatan per kapita, dukungan sosial, kesehatan dan harapan hidup, kebebasan membuat pilihan hidup, toleransi, serta persepsi korupsi. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat 81 dari 155 negara.
Ia menilai negara dengan kemajuan teknologi dan ekonomi tidak selalu menjadi yang paling bahagia. Dalam laporan yang sama, Jepang berada di urutan 51 dan Tiongkok di urutan 79, sementara Norwegia menempati peringkat pertama dan Denmark peringkat kedua.
Amir mengatakan hasil survei tersebut bisa saja diperdebatkan, tetapi setidaknya memberi gambaran bahwa kemajuan sains dan teknologi di suatu negara tidak otomatis membuat penduduknya bahagia. Ia berharap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nilai-nilai agama dapat lebih mendukung kebahagiaan manusia Indonesia.
Ia juga mengingatkan para lulusan bahwa saat terjun ke masyarakat, mereka akan menghadapi banyak persoalan kompleks di luar sains dan teknologi.
Dalam wisuda tersebut, IST Akprind meluluskan 203 orang yang terdiri dari 185 lulusan program sarjana dan 18 lulusan program diploma III. Para lulusan berasal dari Fakultas Teknologi Industri sebanyak 155 wisudawan, Fakultas Sains Terapan 22 wisudawan, serta Fakultas Teknologi Mineral 26 wisudawan.
Pada kesempatan itu, delapan wisudawan meraih predikat cumlaude dengan rata-rata IPK 3,67 dan masa studi delapan semester. Lulusan terbaik pertama program sarjana diraih Rudi Nurbiantoro dari Program Studi Teknik Industri dengan IPK 3,91 dan masa studi tujuh semester. Sementara lulusan terbaik pertama program Diploma 3 diraih Arman Nur Erfian, juga dari Program Studi Teknik Industri, dengan IPK 3,74 dan masa studi tujuh semester.

