BERITA TERKINI
Kebahagiaan di Tempat Kerja Disebut Mendorong Kinerja dan Produktivitas

Kebahagiaan di Tempat Kerja Disebut Mendorong Kinerja dan Produktivitas

Kebahagiaan di tempat kerja kian dipandang sebagai faktor penting yang berkaitan dengan kinerja. Penulis asal Houston sekaligus mantan eksekutif Southwest Airlines, Lorraine Grubbs, dalam bukunya How to Create a Happy Workplace, What Award Winning Companies Know mengingatkan bahwa tingginya angka karyawan keluar dan banyaknya ketidakhadiran karena sakit dapat menjadi sinyal adanya persoalan kebahagiaan di lingkungan kerja. Southwest Airlines sendiri dikenal sebagai perusahaan yang berupaya membuat karyawan dan pelanggannya bahagia.

Perdebatan yang kerap muncul adalah apakah seseorang bahagia karena sukses, atau justru sukses datang setelah seseorang merasa bahagia. Bagi korporasi, kepastian arah hubungan ini dinilai penting karena menjadi dasar untuk membangun kultur yang mampu menarik dan mempertahankan orang-orang dengan kinerja terbaik, terutama saat menghadapi tantangan berat seperti pandemi.

Sejumlah peneliti, Paul B. Lester, Ed Diener, dan Martin Seligman, meneliti keterkaitan kebahagiaan dengan kinerja dan mempublikasikan temuannya di Journal of Happiness Studies serta MIT Sloan Management Review. Studi tersebut melibatkan hampir satu juta tentara Angkatan Darat Amerika Serikat selama lima tahun, termasuk mereka yang ditugaskan ke medan perang seperti Irak dan Afghanistan. Pada tahap awal, para tentara diminta menilai kesejahteraan yang mereka rasakan, tingkat kebahagiaan, dan optimisme.

Peneliti kemudian melacak siapa saja yang menerima penghargaan berdasarkan kinerja pekerjaan. Penghargaan itu mencakup, antara lain, predikat tentara teladan dan penghargaan atas kinerja luar biasa untuk tindakan heroik. Dalam periode lima tahun penelitian, penerimaan penghargaan semacam itu tergolong jarang: dari hampir satu juta tentara, hanya sekitar 12% yang menerima kedua jenis penghargaan tersebut.

Secara umum, peneliti menilai kesejahteraan dan optimisme memang berpengaruh terhadap kinerja. Namun, mereka menyatakan terkejut dengan besarnya peran kebahagiaan dan optimisme. Tentara yang sejak awal berada pada kelompok paling bahagia (kuartil atas) tercatat menerima penghargaan empat kali lebih banyak dibanding mereka yang berada pada kelompok paling tidak bahagia (kuartil bawah).

Temuan itu mengarah pada kesimpulan bahwa kebahagiaan dan optimisme dapat digunakan untuk memprediksi peluang seseorang berkinerja baik atau memperoleh penghargaan, bahkan lebih kuat dibanding faktor demografi seperti warna kulit, jenis kelamin, suku, maupun usia.

Gagasan serupa juga diangkat Stacey Epstein dalam artikel berjudul “Why Happiness is the Corporate Currency”. Ia menyebut sebuah penelitian yang menunjukkan perusahaan dengan karyawan bahagia dapat 20% lebih unggul dibanding pesaing, 12% lebih produktif, 65% lebih energik, serta mampu mengurangi hari tidak masuk karena sakit hingga 10 kali lipat. Pada lini terdepan, tenaga penjualan yang bahagia disebut dapat mendorong penjualan 37% lebih tinggi.

Masih menurut Epstein yang mengutip penelitian Deloitte, karyawan yang bahagia cenderung lebih peduli terhadap perusahaan, terdorong membantu perusahaan lebih sukses, dan merasa lebih berinvestasi pada tempat kerja. Kebahagiaan juga dikaitkan dengan keterlibatan yang lebih tinggi: karyawan menjadi lebih hadir, lebih memperhatikan kebutuhan pelanggan, serta lebih sadar terhadap proses dan sistem organisasi. Karyawan yang bahagia juga disebut lebih loyal, inovatif, dan lebih sehat—yang pada akhirnya turut memengaruhi kepuasan pelanggan.

Dalam pandangan tersebut, pekerjaan dan kebahagiaan yang sebelumnya kerap dipisahkan kini mulai dipertautkan secara lebih formal dalam istilah bisnis. Pandemi disebut ikut memicu pemikiran ulang mengenai peran kebahagiaan di tempat kerja.

Karena itu, perusahaan yang mampu menumbuhkan kebahagiaan dinilai berpeluang melahirkan karyawan berkinerja tinggi. Para pemimpin bisnis didorong mengikuti perkembangan sains terkait kebahagiaan dan menyusun pendekatan terstruktur untuk mempromosikan serta mengembangkannya. Pemimpin juga disarankan membuat ukuran-ukuran kebahagiaan, mengembangkannya secara berkelanjutan, dan mempertahankan karyawan yang bahagia. Dalam saran peneliti yang menulis di Journal of Happiness Studies, pemimpin perlu memberi contoh perbaikan kebahagiaan di perusahaan karena karyawan cenderung belajar dari apa yang mereka lihat.