Di desa Bich Khe, komune Ai Tu, pengrajin Do Van Thien terus merawat dan memainkan alat musik tradisional yang baginya bukan sekadar benda, melainkan kawan yang menemaninya menjaga jiwa musik rakyat Vietnam. Meski telah berusia 90 tahun, dengan lebih dari tujuh dekade mengabdikan diri pada musik upacara, semangatnya masih tampak ketika ia berbicara tentang tradisi yang diwariskan turun-temurun di keluarganya.
Thien bercerita mulai belajar sejak usia 16 tahun, mengikuti ayahnya dan menyimak para tetua memainkan musik upacara. Ia menekankan bahwa memainkan musik upacara menuntut keterampilan teknik sekaligus pemahaman mendalam terhadap esensi karya agar bunyi gendang, terompet, biola dua senar, seruling, dan tepukan tangan dapat menyatu selaras.
Selama bertahun-tahun, ia menguasai berbagai instrumen khas seperti gendang, terompet berbentuk labu, dan biola dua senar, serta melodi kuno di antaranya Long Ngam, Kim Tien, Xuan Nu, Luu Thuy, Nam Ai, Nam Binh, Thai Binh, dan Trong Quan. Keluarganya juga dikenal masih melestarikan tarian dan musik “Trống Quân” dalam bentuk yang disebut otentik—sebuah repertoar yang menuntut kemampuan tinggi dari para penampilnya.
Menurut Thien, “Trống Quân” kerap dimainkan dalam festival tradisional dan kegiatan keagamaan berskala besar dengan tujuan mendoakan “perdamaian dan kemakmuran nasional”. Melodinya dinilai santai, namun tetap menghadirkan suasana khidmat dan agung. Ia menyebut tradisi musik di keluarganya telah berlangsung lebih dari sembilan generasi dan diwariskan dari ayah ke anak.
Di tingkat daerah, Thien dikenal sebagai sosok yang kerap menampilkan “Tari Gendang”, yang disebut sebagai jiwa Festival Pasar Bich La di komune Trieu Phong. Pada 2001, ia bersama para perajin desa Bich Khe mewakili distrik Trieu Phong (sebelumnya) dalam festival budaya dan seni etnis di distrik Dakrong, dan meraih hadiah pertama secara keseluruhan serta sejumlah penghargaan A. Penampilan pembuka “Trong Quan” bersama Klub Musik Tradisional Bich Khe pada peringatan 30 tahun pembebasan bekas distrik Trieu Phong juga disebut meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
Jejak musik upacara Bich Khe juga tercermin dari silsilah para pelakunya. Pada generasi ke-11, keluarga ini memiliki Do Thien Hue yang pernah menjabat Direktur Musik Provinsi Quang Tri. Hue, bersama sejumlah leluhur desa Bich Khe, beberapa kali diundang Dinasti Nguyen untuk melayani “Upacara Pemujaan Surga” di altar Nam Giao (Hue) dan dianugerahi pangkat “pejabat tingkat delapan” oleh raja. Selain itu, dua leluhur lain dari desa tersebut—Hoang Huu Dung dan Le Quang Tam—juga disebut menerima gelar yang sama.
Setiap tahun, pada tanggal 16 bulan ke-10 kalender lunar, warga desa Bich Khe menggelar upacara peringatan leluhur berskala besar untuk menyampaikan terima kasih kepada para pendiri tradisi musik ini. Dalam upacara itu, para pengrajin memainkan instrumen seperti biola dua senar, gendang, terompet, seruling, tepukan tangan, dan kecapi, menghadirkan beragam ritme—dari lembut, melankolis, hingga heroik—yang menggambarkan perpaduan harmonis antara unsur manusia dan alam.
Dahulu, Bich Khe dikenal sebagai tempat berkembangnya musik tradisional di tiga keluarga: Le, Hoang, dan Do. Seiring waktu, keluarga Hoang dan Do disebut masih bertahan, bahkan ada keluarga yang memiliki tiga hingga empat generasi yang masih mempraktikkan keahlian tersebut, termasuk keluarga Do Van Thien dan Le Tri. Pola pewarisan “dari ayah ke anak” dinilai membantu menjaga esensi, kehalusan, dan gaya elegan musik upacara yang berakar pada tradisi istana.
Namun, Thien mengungkapkan perubahan fungsi musik upacara di desa kini menjadi kegelisahan tersendiri. Ia menyebut masyarakat lebih sering menggunakan musik upacara untuk pemakaman dan hanya sesekali tampil dalam festival, sehingga banyak karya jarang dimainkan. Dalam satu momen, ia sempat menawarkan untuk memperdengarkan melodi upacara, lalu mengambil biola dua senar yang tergantung di dinding dan memainkan lagu Ly Con Roi. Meski permainannya tetap terampil, ia mengaku berharap dapat mengajarkan repertoar itu kepada anak dan cucunya karena kemampuan fisiknya tak lagi seperti dulu.
Tanggung jawab pelestarian juga terlihat dari keterbukaan warga Bich Khe berbagi pengetahuan. Disebutkan bahwa lebih dari 200 tahun lalu, leluhur mereka pernah mewariskan keterampilan kepada kelompok musik desa Trung Chi (Dong Ha). Hingga kini, orang dari berbagai daerah seperti Lam Thuy, Dong Bao, Nai Cuu, Tan Lien, bahkan dari provinsi lain, datang ke Bich Khe untuk belajar dari para pengrajin.
Upaya pelestarian dilakukan secara lebih terorganisasi sejak 2007, ketika Do Van Thien mendirikan Klub Musik Upacara Tradisional Bich Khe yang kemudian diresmikan oleh Komite Rakyat Komune Trieu Long (dahulu). Klub beranggotakan 23 orang dengan Thien sebagai ketua, menjadi wadah bertukar pengalaman, belajar, dan menjaga esensi musik upacara tradisional. Selama lebih dari 20 tahun, klub tersebut disebut berkontribusi pada pelestarian warisan budaya di Provinsi Quang Tri dan lebih luas di tingkat nasional.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan generasi. Di desa itu, hanya sekitar 30 orang yang dapat tampil dan sebagian besar merupakan lansia. Repertoar yang sangat sulit seperti Trong Quan dan Long Ngam—yang membutuhkan teknik tinggi serta kepekaan spiritual—kini hanya dikuasai segelintir seniman.
Putra Thien, Do Thien Thach, menyatakan keluarga mereka memiliki tradisi sembilan generasi dalam musik upacara. Ia berharap ada perhatian lebih dari pihak berwenang untuk digitalisasi dan pelestarian partitur kuno, serta dukungan pendanaan dan pelatihan bagi generasi musisi berikutnya.
Sejumlah kebutuhan pelestarian juga mengemuka, mulai dari pengumpulan dan transkripsi partitur musik kuno yang ditulis dalam aksara Tiongkok hingga kebijakan dukungan praktis bagi para perajin. Selain itu, diperlukan lingkungan pertunjukan yang memberi ruang bagi generasi muda untuk mengakses dan mempraktikkan musik upacara secara berkelanjutan.
Menjelang senja di desa Bich Khe, suara biola dua senar dari rumah Do Van Thien masih terdengar. Bagi para pelaku tradisi, bunyi itu bukan hanya musik, melainkan jejak ketekunan lintas generasi yang berupaya menjaga warisan agar tetap hidup.