BERITA TERKINI
Kilas Balik Industri Musik 2016: Drama Selebritas, Album Berpengaruh, dan Kepergian Legenda

Kilas Balik Industri Musik 2016: Drama Selebritas, Album Berpengaruh, dan Kepergian Legenda

Tahun 2016 menjadi salah satu periode paling berkesan dalam industri musik global. Sejumlah peristiwa besar—mulai dari perseteruan publik antar-bintang, kemunculan album yang memengaruhi budaya pop, hingga kabar duka dari para musisi legendaris—ikut membentuk arah percakapan musik pada tahun tersebut.

Salah satu sorotan terbesar datang dari memanasnya kembali konflik Taylor Swift dan Kanye West. Setelah sempat terlihat berdamai pada 2015, hubungan keduanya kembali retak ketika West merilis lagu “Famous” dari album The Life of Pablo. Dalam liriknya, West menyebut Swift dengan frasa kontroversial, “that b***h.” Situasi makin rumit ketika Kim Kardashian—istri West saat itu—membagikan rekaman panggilan telepon pribadi yang diklaim menunjukkan Swift telah mengizinkan lirik tersebut. Peristiwa ini memicu gelombang “pembatalan” publik terhadap Swift, sebelum namanya disebut baru benar-benar bersih pada 2020 ketika kebenaran terungkap. Meski begitu, hubungan Swift dan West tidak kembali pulih.

Di sisi rilisan, Beyoncé mengguncang dunia lewat album visual Lemonade. Album ini dipandang luas sebagai salah satu karya terkuatnya, dengan narasi emosional yang menyinggung isu perselingkuhan yang diduga dilakukan Jay-Z. Melalui Lemonade, Beyoncé menampilkan spektrum emosi—dari luka dan kemarahan hingga keputusan untuk memaafkan dan mempertahankan pernikahan—yang kemudian menjadikannya fenomena budaya sekaligus mendapat pengakuan kritikal.

Tahun yang sama juga penting bagi penggemar Rihanna lewat rilis album Anti. Album ini memuat hit kolaborasi dengan Drake, “Work,” dan mendapat tempat khusus di kalangan pendengar. Namun, Anti kemudian menjadi album terakhir Rihanna yang dirilis hingga satu dekade setelahnya, membuat penantian terhadap karya baru terus berlanjut.

Perubahan cara industri berjalan turut tercermin dari langkah Chance the Rapper. Pada 2016, ia menegaskan jalur independen dengan menolak kontrak label rekaman tradisional. Mixtape ketiganya, Coloring Book, dirilis pada tahun itu dan kemudian memenangkan Grammy untuk Album Rap Terbaik pada tahun berikutnya. Karya ini juga mencatat sejarah sebagai mixtape pertama yang masuk Billboard 200 berdasarkan streaming, serta album streaming-only pertama yang meraih Grammy.

Dari ranah pop, Zayn Malik memulai babak baru setelah keluar dari One Direction pada 2015. Ia merilis single debut solo “Pillowtalk” pada 29 Januari 2016, disusul album Mind Of Mine pada 25 Maret—tepat setahun setelah kepergiannya dari grup tersebut.

Di tengah euforia rilisan dan sorotan budaya pop, 2016 juga diwarnai kehilangan besar. Dunia musik berduka atas wafatnya David Bowie akibat kanker yang dirahasiakannya dari publik. Pada April, Prince juga meninggal dunia, dan di penghujung tahun Leonard Cohen berpulang. Kepergian tiga ikon ini meninggalkan duka mendalam, sementara warisan karya mereka terus dikenang.

Di ranah rap dan arus utama, Drake mengukuhkan diri sebagai kekuatan dominan lewat album Views. Album ini disebut sebagai salah satu rilisan terbesar tahun itu dengan capaian komersial yang masif. Lagu-lagu seperti “One Dance,” “Too Good” yang menampilkan Rihanna, dan “Child’s Play” mempertegas popularitas Views, yang masih kerap dianggap sebagai album Drake yang paling populer.

Sementara itu, Britney Spears menandai 2016 dengan rilis album Glory serta kembalinya ia ke panggung MTV Video Music Awards setelah hampir satu dekade, membawakan “Make Me” bersama G-Eazy. Di tahun yang sama, Ariana Grande semakin memantapkan statusnya sebagai bintang pop lewat album Dangerous Woman, dengan deretan lagu yang menonjol seperti “Side to Side” bersama Nicki Minaj dan “Into You.”

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana 2016 bukan hanya tentang lagu-lagu yang mendominasi tangga musik, tetapi juga tentang dinamika budaya pop, perubahan model distribusi, serta momen-momen yang membekas dalam ingatan publik.