Komunitas Kindai Seni Kreatif berencana menggelar Kemah Sastra di Banjarbaru pada 1–3 Juli 2022. Kegiatan ini dirancang sebagai perkemahan yang memusatkan aktivitas pada pengenalan dan pendalaman sastra, mulai dari pelatihan kepenulisan hingga penampilan karya peserta.
Konsep kemah sastra bukan hal baru. Empat tahun sebelumnya, kegiatan serupa pernah digelar di Bumi Blambangan, Banyuwangi, dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, D Zawawi Imron, Hasan Aspahani, serta Wayan Jengki Sunarta. Di Banjarbaru, gagasan ini baru diwujudkan melalui inisiatif Kindai Seni Kreatif, komunitas yang bergerak di bidang kesenian, khususnya sastra.
Salah satu pendiri Kindai Seni Kreatif, Ali Syamsudin Arsy, mengatakan kemah sastra yang mereka susun berbeda dengan kegiatan perkemahan sekolah pada umumnya. Menurutnya, agenda utama diarahkan pada materi sastra seperti pelatihan menulis, disertai pementasan dari peserta maupun penampil yang telah disiapkan.
“Dalam acara nantinya, akan lebih banyak sharing atau bincang motivasi dari pemerhati sastra ataupun pelaku sastra sendiri,” ujarnya.
Kegiatan direncanakan berlangsung di lokasi Kindai Seni Kreatif Banjarbaru. Tempat ini dinilai mendukung karena berada jauh dari keramaian dan memiliki halaman yang cukup luas untuk kegiatan perkemahan.
Hingga saat ini, tercatat sekitar empat sekolah telah mendaftar. Di antaranya SMPN 4 Paringin dengan 10 peserta dan 2 pendamping, SMAN 1 Tamban dengan 5 peserta dan 1 pendamping, SMP Muhammadiyah Banjarbaru dengan 10 peserta dan 1 pendamping, serta SMPN 11 Banjarbaru dengan 10 peserta dan pendamping. Meski pendaftaran dibuka untuk wilayah Kalimantan Selatan, panitia mempertimbangkan pembatasan jumlah peserta agar pelaksanaan tetap maksimal.
Ali Syamsudin Arsy yang akrab disapa “Asa” menyebut pembatasan diperlukan untuk mengantisipasi kebutuhan teknis. Ia mencontohkan kesiapan air dan fasilitas buang air yang harus diperhitungkan agar kegiatan tidak terkendala.
Dari sisi pendanaan, ia menjelaskan bahwa biaya kegiatan berasal dari beberapa sumber, termasuk bantuan personal dari rekan-rekan berkesenian. Selain itu, terdapat uang insentif, dengan ketentuan minimal lima hingga 10 peserta dalam satu regu membayar Rp300 ribu. Sementara bila pendaftaran atas nama personal, bukan sekolah, biayanya direncanakan menjadi setengah dari ketentuan tersebut.
Kemah Sastra ini disebut sebagai pelaksanaan jilid pertama. Panitia membuka kemungkinan kegiatan berlanjut dan menjangkau peserta yang lebih luas, tidak terbatas pada pendidikan umum. “Kalau ini berjalan lancar, entah tiga atau enam bulan ke depan, kami akan menggelarnya lagi. Bahkan bisa jadi mengundang teman-teman sastrawan dari luar Kalimantan,” kata Asa.