BERITA TERKINI
Klaim Herbal Bisa Sembuhkan TBC dari Bude Wellness Menuai Sorotan, Dokter Ingatkan Risiko Menyesatkan

Klaim Herbal Bisa Sembuhkan TBC dari Bude Wellness Menuai Sorotan, Dokter Ingatkan Risiko Menyesatkan

Konten kreator Bude Wellness menjadi perbincangan setelah mengunggah video yang mengklaim ramuan herbal dapat menyembuhkan tuberkulosis (TBC). Dalam video tersebut, ia menyarankan masyarakat menggunakan ramuan alami tertentu untuk menangani infeksi kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).

Pernyataan itu memicu perdebatan di kalangan warganet dan tenaga kesehatan. Sejumlah pihak menilai informasi semacam ini berisiko menyesatkan masyarakat, terutama pasien TBC yang membutuhkan pengobatan medis yang tepat dan terkontrol.

Salah satu yang menyoroti klaim tersebut adalah dokter Adam Prabata. Melalui akun X miliknya, ia menyebut informasi itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. “Gue mau berkata ini menyesatkan,” tulisnya.

Dokter Adam menjelaskan bahwa TB/TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi ini umumnya terjadi di paru-paru, namun dapat menyerang organ lain seperti usus, tulang, hingga otak. Ia menekankan bahwa bila tidak ditangani dengan baik, TBC paru dapat menimbulkan masalah kesehatan berat sampai berujung kematian.

Ia juga memaparkan langkah-langkah yang telah terbukti secara ilmiah efektif dalam penanganan dan pencegahan tuberkulosis, antara lain penggunaan masker untuk mencegah penularan, memastikan ventilasi rumah yang baik, vaksinasi BCG, serta terapi pencegahan TB bagi individu yang berisiko tinggi terpapar.

Terkait klaim herbal, dokter Adam menyatakan hingga saat ini belum ada herbal yang terbukti dapat mengobati TBC. Menurutnya, herbal hanya dapat diposisikan sebagai terapi pendamping, bukan terapi utama.

Dokter Adam turut mengingatkan potensi dampak dari klaim semacam itu, termasuk risiko pasien menunda pemeriksaan dan menunda memulai pengobatan TBC karena ingin mencoba herbal terlebih dahulu. Ia menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan kepada keluarga atau orang serumah akibat pengobatan yang tidak sesuai standar medis.

Selain itu, ia menyoroti kemungkinan pasien menghentikan pengobatan lebih cepat karena merasa sudah mengonsumsi herbal, yang dinilai dapat membahayakan proses penanganan penyakit.