Klub Lagu Rakyat UEH merayakan ulang tahun ke-30 melalui acara bertema “Pulang Kampung” yang digelar baru-baru ini di Kota Ho Chi Minh. Perayaan ini menandai tiga dekade perjalanan salah satu klub budaya dan seni tertua di UEH, sekaligus menjadi momen untuk meninjau kembali peran kegiatan kampus dalam menjaga musik tradisional Vietnam.
Klub tersebut didirikan pada 1996, ketika aktivitas mahasiswa di lingkungan universitas lebih banyak berfokus pada bidang akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler umum. Pada masa awal, para anggota menghadapi berbagai kendala, mulai dari mencari tempat kegiatan, meminjam auditorium, hingga merekrut mahasiswa yang berminat.
Mengenang proses pembentukan klub, Dr. Nguyen Thien Duy—yang menandatangani keputusan pendirian Klub Lagu Rakyat UEH—mengatakan dirinya sempat terkejut karena mahasiswa dari bidang ekonomi menunjukkan ketertarikan khusus pada budaya nasional dan mengusulkan pembentukan klub yang mempelajari lagu-lagu rakyat. Ia juga mengingat dukungan dari seniman dan peneliti musik tradisional pada masa awal, termasuk Dr. sekaligus Seniman Berjasa Hai Phuong dan almarhum Profesor Tran Van Khe, yang disebut turut menginspirasi generasi mahasiswa untuk mencintai musik tradisional Vietnam.
Menurut Dr. Duy, di tengah integrasi internasional dan internasionalisasi pendidikan tinggi, kegiatan budaya tradisional di sekolah menjadi semakin penting untuk melestarikan identitas nasional. Ia berharap klub tidak hanya terus berkembang dan berkontribusi menjaga identitas budaya, tetapi juga dapat memperkenalkan musik tradisional Vietnam kepada mahasiswa internasional seiring meningkatnya jumlah anak muda asing yang belajar di universitas-universitas Vietnam.
Dr. dan Seniman Berprestasi Hai Phuong, yang menjadi salah satu pendukung awal klub, menyampaikan rasa haru melihat perkembangan klub lintas generasi. Menurutnya, nilai paling penting bukan terletak pada ukuran atau jumlah anggota, melainkan kesinambungan antar generasi. Ia menilai kecintaan pada musik tradisional Vietnam menjadi faktor yang menjaga keberlanjutan aktivitas klub hingga kini. “Para senior meletakkan batu bata pertama. Tetapi tanpa kelanjutan dari generasi mahasiswa berikutnya, klub ini tidak akan bisa sampai sejauh ini,” ujarnya.
Dalam rangkaian perayaan, program seni bertajuk “A Melody of Love” menampilkan rekonstruksi perjalanan 30 tahun klub melalui berbagai generasi anggota. Sejumlah melodi rakyat yang dikenal luas dibawakan dengan gaya yang lebih muda, sebagai upaya mendekatkan musik tradisional kepada mahasiswa.
Ngoc Diep, Wakil Presiden Klub Lagu Rakyat UEH periode ke-30 sekaligus Wakil Ketua panitia penyelenggara program, mengatakan peringatan ulang tahun ini menjadi kesempatan untuk menengok perjalanan klub sekaligus menghubungkan para anggotanya lintas generasi. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai panggung untuk mendekatkan lagu-lagu rakyat kepada mahasiswa melalui pertunjukan yang kaya identitas nasional, namun disajikan dengan gaya muda dan segar, sejalan dengan semangat klub “Cinta Bangsa - Antusiasme Muda”.
Menurut Ngoc Diep, kolaborasi antara anggota saat ini dan para alumni menjadi bukti bahwa musik tradisional masih memiliki daya untuk menghubungkan berbagai generasi anak muda. Perjalanan 30 tahun klub ini pun dipandang lebih dari sekadar upaya mempertahankan kegiatan ekstrakurikuler, melainkan menunjukkan bahwa musik tradisional tetap memiliki vitalitas di lingkungan universitas dan terus menemukan cara untuk terhubung dengan kaum muda di tengah kehidupan budaya yang semakin beragam.