Ruang maya dinilai dapat diubah dari lingkungan yang menekan menjadi ruang yang memulihkan apabila dikelola melalui manajemen jejaring lintas sektor. Pendekatan ini menekankan kerja sama terpadu antara pemerintah, akademisi, profesional, media, dan komunitas.
Dalam penerapannya, upaya tersebut membutuhkan komitmen berkelanjutan, sistem informasi yang terbuka, serta komunikasi publik yang empatik dan berbasis data. Dengan fondasi itu, pengelolaan ruang digital diharapkan tidak hanya berfokus pada pengendalian, tetapi juga pada penciptaan ekosistem yang lebih aman dan mendukung.
Jika kerja sama lintas pihak berjalan efektif, akun media sosial disebut berpotensi tidak lagi menjadi sumber kecemasan. Sebaliknya, media sosial dapat berfungsi sebagai layanan publik digital, tempat generasi Z belajar, berbagi, dan memulihkan diri.
Gagasan ini juga dipandang dapat membantu Indonesia membangun fondasi sistem pemerintahan yang lebih manusiawi, fleksibel, dan berkelanjutan di era digital. Fokusnya tidak hanya menyasar penyelamatan generasi muda dari tekanan dunia maya, tetapi juga pembentukan tata kelola yang adaptif.
Kolaborasi pemerintah dan lembaga terkait didorong untuk meningkatkan pemahaman digital dan kesehatan mental di kalangan generasi muda. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengintegrasikan edukasi di lingkungan akademik serta menyelenggarakan kampanye yang tepat sasaran di platform media sosial, agar ruang maya menjadi ruang pemulihan dan penguatan kesehatan mental bagi generasi Z, bukan sumber tekanan dan kecemasan.
Referensi: Sosial Instagram. Educationist: Journal of Educational and Cultural Studies, 3(3), 251-257.