Institut Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Vietnam pada 29 Mei resmi meluncurkan Kompetisi Penyanyi Muda Nasional 2026 di Akademi Musik Nasional Vietnam. Ajang ini mengusung tema “Membangkitkan Semangat – Membina Bakat Musik Vietnam” dan melibatkan jajaran juri dari kalangan seniman serta komposer, termasuk Seniman Rakyat Trung Hieu, Seniman Berprestasi Phuong Nga, Seniman Berprestasi Pham The Vi, serta komposer Do Bao dan Giang Son.
Ketua Panitia Penyelenggara, Nguyen Van Tuan, mengatakan kompetisi ini digelar dengan dukungan profesional dari Departemen Seni Pertunjukan di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata. Menurutnya, kompetisi berskala nasional ini ditujukan bagi siswa dan anak muda berusia 6 hingga 25 tahun yang memiliki minat pada seni vokal.
Menanggapi kekhawatiran soal perbedaan usia peserta yang cukup lebar, Tuan menyatakan panitia membagi kompetisi ke dalam lima kategori terpisah agar penilaian lebih adil. Pembagian dilakukan berdasarkan kelompok usia—mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa dan tingkat profesional—serta memisahkan genre musik seperti musik anak-anak, musik ringan, musik rakyat/tradisional, dan musik klasik.
“Kalian akan memiliki platform sendiri, tanpa dibingungkan antara profesional dan amatir, antara besar dan kecil, atau antara genre musik yang berbeda,” kata Tuan. Ia juga menyebut panitia berencana menjajaki kerja sama dengan organisasi di Korea Selatan dan Jepang untuk membuka peluang lebih luas bagi peserta pada masa mendatang.
Salah satu sorotan kompetisi ini adalah babak penyisihan daring yang mengharuskan peserta bernyanyi 100% secara langsung (tanpa rekaman, tanpa mikrofon, tanpa pengeditan) melalui platform TikTok. Tuan menjelaskan pemilihan TikTok didorong oleh perkembangan masyarakat digital dan kemampuan media sosial menyebarkan informasi secara cepat dan efektif, sekaligus memudahkan panitia dalam menerima karya peserta.
Meski demikian, Tuan menegaskan media sosial bukan penentu utama hasil kompetisi. TikTok diposisikan sebagai sarana pendukung untuk mengunggah dan menyebarkan penampilan serta membantu peserta membangun citra sejak awal. Skema penilaian menetapkan 80% skor berasal dari juri dan 20% dari voting penonton.
“Para peserta dapat tenang. Jika mereka memiliki kemampuan, semangat, dan berpartisipasi dalam kompetisi dengan serius, mereka akan memiliki banyak kesempatan untuk melaju lebih jauh. Hasilnya tidak sepenuhnya bergantung pada popularitas atau tingkat pengaruh di media sosial,” ujar Tuan.
Dalam konferensi pers, penyanyi Duy Khoa (Sao Mai Rendezvous 2008) menilai kompetisi musik menjadi kesempatan belajar yang penting bagi anak muda. Ia mengingatkan bahwa “akan ada lebih banyak orang yang gagal daripada yang berhasil,” namun kegagalan dapat menjadi pelajaran untuk menambah pengalaman dan kedewasaan.
Duy Khoa menyampaikan empat saran bagi peserta. Pertama, memilih lagu yang sesuai usia dan kemampuan. Ia memberi contoh, kontestan muda yang menyanyikan lagu bertema pengalaman hidup yang belum dimiliki berpotensi tidak mendapat nilai tinggi karena kurangnya kedalaman dalam pembawaan. Kedua, peserta perlu membangun ciri khas di tengah banyaknya pendaftar melalui kreativitas dan latihan serius. Ketiga, ia menyarankan orang tua tidak memberi tekanan berlebihan agar anak dapat mengekspresikan diri secara bebas. Keempat, ia menilai media sosial bisa menjadi saluran membangun citra, tetapi pertumbuhan berkelanjutan tetap membutuhkan bakat, gairah, serta pelatihan dan peningkatan diri secara konsisten. Tanpa itu, menurutnya, seseorang berisiko hanya menjadi “fenomena” sesaat.
Babak penyisihan daring dijadwalkan berlangsung dari 29 Mei hingga 31 Agustus 2026. Peserta yang lolos akan mengikuti babak semifinal langsung di Hanoi, Da Nang, dan Ho Chi Minh City, sebelum melaju ke final nasional yang direncanakan pada Desember 2026 di Hanoi. Penyelenggara menyebut kompetisi ini telah menerima lebih dari 3.000 pendaftaran.