BERITA TERKINI
Komunitas Konco Sket Malang Pamerkan 60 Sketsa Hitam-Putih dengan Goresan Bambu

Komunitas Konco Sket Malang Pamerkan 60 Sketsa Hitam-Putih dengan Goresan Bambu

MALANG – Puluhan karya gambar sketsa memenuhi dinding Galeri Karya Taman Biru, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (18/1/2026). Karya-karya tersebut merupakan hasil para perupa muda yang tergabung dalam Komunitas Konco Sket Malang.

Setidaknya ada 60 sketsa hitam putih tanpa bingkai yang dipamerkan. Keunikan pameran ini terletak pada teknik yang digunakan: para perupa menggambar memakai potongan bambu jenis petung yang diruncingkan sebagai pengganti alat gambar, dipadukan dengan tinta hitam.

Ketua pelaksana pameran, Khozin Kafabika, menjelaskan prosesnya dilakukan dengan cara sederhana. Bambu yang sudah dibuat lancip dicelupkan ke tinta, lalu digunakan untuk menggambar di kertas HVS putih. Menurutnya, kekuatan sketsa terletak pada hasil hitam-putih yang ditampilkan.

Khozin menyebut, karya-karya yang dipamerkan lahir dari beragam kesempatan menggambar yang dilakukan anggota komunitas. Jenis gambar yang ditampilkan terbagi dua, yakni sketsa model dan sketsa outdoor yang merekam suasana luar ruangan.

Ia menambahkan, komunitas memiliki aktivitas rutin menggambar di ruang publik. Lokasi yang pernah menjadi tempat berkarya antara lain pasar, area camping, Kayutangan Heritage, Stadion Kanjuruhan Malang, dan sejumlah tempat lainnya.

Dalam pembuatan sketsa, ketepatan detail seperti objek aslinya bukan menjadi fokus utama. Gambar lebih banyak dibuat abstrak, dengan penekanan pada perpaduan hitam dan putih. Khozin mencontohkan sketsa yang diambil dari suasana tenda camping di wisata Bedengan Selorejo, Dau, yang digarap dengan menonjolkan objek-objek yang tampak lebih kuat karena pencahayaan sinar matahari.

Meski menggunakan alat sederhana, Khozin menilai teknik sketsa tinta dengan bambu tetap memiliki tingkat kesulitan. Ia menyebut kemampuan perupa biasanya terlihat saat menggambar model, terutama pada model tunggal yang memiliki batasan waktu penyelesaian.

Menurutnya, di tengah perkembangan era kekinian, sketsa tetap memiliki peminat. Selain pameran, karya dan teknik sketsa komunitas ini juga kerap dihadirkan dalam workshop atau menjadi bahan pelatihan di kampus-kampus.