Peran budaya kembali ditegaskan sebagai landasan spiritual masyarakat sekaligus kekuatan pendorong pembangunan. Sejalan dengan arahan tersebut, pembangunan budaya dipandang perlu berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi, politik, dan sosial. Dalam kerangka itu, sastra dan seni dinilai memiliki posisi penting karena tidak hanya merefleksikan kehidupan, tetapi juga ikut membentuk nilai, karakter, dan orientasi estetika masyarakat.
Di Provinsi Thai Nguyen—wilayah dengan tradisi sejarah, budaya, dan revolusioner—kebutuhan membangun lingkungan budaya yang sehat, aman, dan beridentitas kian mengemuka. Situasi ini juga terkait dengan proses penggabungan unit administratif yang memperluas ruang budaya Thai Nguyen, mempertemukan beragam wilayah budaya, kelompok etnis, serta tradisi sejarah. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang lahirnya produk budaya yang khas, namun sekaligus menuntut upaya pelestarian, bimbingan kreatif, dan promosi identitas yang lebih kuat dalam konteks pembangunan baru.
Di sisi lain, berbagai tantangan turut mengemuka, mulai dari pengaruh ekonomi pasar, ledakan ruang digital, masuknya unsur budaya asing, hingga perubahan cepat dalam kehidupan sosial. Tantangan tersebut mendorong kebutuhan agar para seniman dan penulis di Thai Nguyen terus menegaskan peran serta berinovasi dalam metode kerja untuk menjawab tuntutan era baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan sastra dan seni di Thai Nguyen disebut mengalami perkembangan positif melalui kepemimpinan Komite Partai, pengelolaan pemerintah, dan partisipasi masyarakat, termasuk kalangan seniman dan penulis. Sejumlah karya dinilai memiliki nilai ideologis dan artistik serta berkontribusi pada penyebaran tradisi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Aktivitas kreasi, promosi, dan pertukaran budaya juga dipertahankan, sementara klub seni berbasis komunitas tumbuh seiring kebutuhan masyarakat dan dukungan kebijakan provinsi. Berbagai model kegiatan budaya dan seni yang melekat pada komunitas dipandang efektif dalam memperkaya ruang budaya, menjaga identitas, dan memperkuat kohesi sosial.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah keterbatasan. Di antaranya kualitas dan jangkauan beberapa karya yang dinilai belum tinggi, ketimpangan aktivitas sastra dan seni antarwilayah, kekurangan infrastruktur dan lembaga budaya, serta tantangan baru akibat lingkungan digital yang memengaruhi orientasi estetika dan cara masyarakat menerima budaya.
Sejumlah pengalaman tersebut memperkuat pandangan bahwa sastra dan seni memegang peran inti dalam tiga aspek: membentuk nilai sosial dan estetika, memperkaya kehidupan spiritual serta membangun karakter manusia, dan berkontribusi pada pengembangan ekonomi budaya serta industri kreatif.
Untuk mengkonkretkan kebijakan dan resolusi terkait pengembangan budaya dan manusia Vietnam di era baru, sekaligus memperjelas peran sastra dan seni dalam membangun lingkungan budaya yang sehat dan manusiawi bagi pembangunan cepat dan berkelanjutan di Thai Nguyen, Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi Thai Nguyen—atas penugasan Komite Rakyat Provinsi—memimpin penyelenggaraan konferensi ilmiah bertema “Mempromosikan peran sastra dan seni dalam membangun lingkungan budaya dan pembangunan berkelanjutan di Thai Nguyen”.
Dalam persiapan, Persatuan Asosiasi berkoordinasi dengan Komite Rakyat kelurahan Bac Kan dan Duc Xuan serta instansi terkait. Panitia menyusun rencana dan materi konferensi, mengirim undangan dan usulan topik kepada lembaga, ilmuwan, dan seniman di provinsi, serta mengelola penerimaan, penyuntingan, dan seleksi makalah untuk prosiding dan presentasi. Aspek logistik, dokumentasi, dan komunikasi juga disiapkan, termasuk koordinasi tempat dan survei lokasi.
Topik konferensi mencakup tiga kelompok utama, yakni kepemimpinan dan manajemen, lembaga dan unit khusus, serta pemimpin cabang, seniman, dan penulis dari Persatuan Asosiasi. Namun, panitia mencatat kontribusi makalah dari kelompok kepemimpinan dan manajemen serta lembaga khusus masih terbatas.
Makalah yang dipresentasikan menyoroti kehidupan budaya dan aktivitas sastra serta seni di provinsi tersebut, yang secara umum dikelompokkan menjadi empat bahasan. Pertama, diskusi tentang kerja ideologis, budaya, dan pendidikan yang menekankan peran seni-budaya dalam penyebaran nilai sejarah, tradisi, dan identitas Thai Nguyen sebagai kekuatan pembentuk kesadaran dan penguat landasan spiritual. Sejumlah paparan juga menyinggung praktik pendidikan, pentingnya kolaborasi keluarga–sekolah–masyarakat, pemanfaatan sastra dan seni sebagai metode pendidikan estetika, dampak lingkungan digital, serta kebutuhan transformasi digital dalam pendidikan budaya.
Kedua, diskusi mengenai lembaga budaya dan model akar rumput menampilkan contoh dari daerah, termasuk model klub budaya dan kegiatan seni berbasis komunitas di Bac Kan dan Duc Xuan, serta model klub budaya dan seni “Van Lang Unique” dari Komite Rakyat komune Van Lang. Paparan ini menekankan peran organisasi akar rumput dalam menghadirkan lingkungan budaya secara nyata di masyarakat.
Ketiga, diskusi tentang seniman dan organisasi menyoroti kebutuhan inovasi peran kreator dan organisasi pada konteks baru, dari semata menghasilkan karya menjadi ikut menciptakan nilai. Pembahasan juga menekankan pentingnya keterhubungan Persatuan Asosiasi dengan basis masyarakat, penguatan relasi, dan sosialisasi untuk meningkatkan efektivitas kegiatan.
Keempat, diskusi mengenai transformasi digital dan industri budaya menegaskan tren penerapan teknologi dalam pelatihan, kreasi, dan promosi. Arah ini dinilai membuka peluang pengembangan produk budaya digital serta ekonomi kreatif yang berkaitan dengan identitas lokal.
Secara keseluruhan, rangkaian makalah dinilai memberikan gambaran beragam yang memadukan teori dan praktik dari tingkat provinsi hingga akar rumput, sekaligus mulai mengusulkan solusi yang dapat diterapkan untuk memperjelas peran sastra dan seni dalam membangun lingkungan budaya dan mengembangkan manusia di era baru.
Berdasarkan tujuan konferensi dan isi makalah, panitia mengusulkan empat fokus tindak lanjut. Pertama, memperjelas peran sastra dan seni di Thai Nguyen dalam membangun lingkungan budaya yang sehat, aman, dan manusiawi, termasuk bagaimana sastra dan seni meresap ke kehidupan sosial, membimbing nilai dan perilaku, mendidik generasi muda, memupuk karakter, memelihara jiwa, dan melestarikan identitas.
Kedua, mengidentifikasi kebutuhan inovasi kegiatan sastra dan seni dalam konteks transformasi dan integrasi digital, termasuk adaptasi terhadap perubahan ruang publik dan ruang kreatif. Ketiga, mendorong penguatan sistem lembaga budaya serta model kegiatan budaya dan seni di tingkat akar rumput melalui replikasi praktik yang dinilai efektif. Keempat, menyempurnakan mekanisme dan kebijakan, sekaligus meningkatkan peran organisasi sastra dan seni—terutama Persatuan Asosiasi—dalam menghubungkan sastra dan seni dengan pengembangan ekonomi budaya, pariwisata, dan industri kreatif, serta memanfaatkan nilai budaya khas tiap daerah di Thai Nguyen.
Panitia juga menilai konferensi ini menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan persepsi dan perilaku dalam kerja kreatif serta tata krama sosial, sekaligus memperkuat peran sastra dan seni dalam membangun lingkungan budaya yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan lokakarya di wilayah utara provinsi yang kaya budaya dipandang mempertegas relevansi praktis tema yang dibahas serta memberikan masukan bagi kepemimpinan, pengelolaan, dan pengembangan budaya pada periode baru.