BERITA TERKINI
Kontroversi Adegan Sơn Tùng Berdiri di Atas Burung Lạc: Perdebatan Batas Kreativitas dan Penghormatan Simbol Budaya

Kontroversi Adegan Sơn Tùng Berdiri di Atas Burung Lạc: Perdebatan Batas Kreativitas dan Penghormatan Simbol Budaya

Video musik Come My Way karya Sơn Tùng M-TP memicu perdebatan publik setelah menampilkan adegan sang penyanyi berdiri di atas model burung Lạc, simbol mitologis yang kerap dikaitkan dengan warisan budaya Vietnam. Hingga pagi 31 Mei, video tersebut telah meraih lebih dari 17 juta penayangan di YouTube.

Perdebatan yang muncul memperlihatkan dua pandangan besar. Sebagian publik menilai adegan tersebut sebagai tindakan tidak menghormati simbol budaya yang dianggap sakral. Mereka menyebut tindakan “berdiri di atas” burung Lạc sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan identitas, bahkan membandingkannya dengan tindakan menaiki simbol nasional negara lain. Beragam komentar menekankan bahwa tidak semestinya simbol budaya leluhur diperlakukan seperti properti biasa dalam karya hiburan.

Namun, kelompok lain berpandangan sebaliknya. Mereka menilai adegan itu tidak mengandung unsur penghinaan dan justru merupakan pernyataan visual yang inovatif tentang identitas serta keterhubungan budaya dengan dunia modern. Sejumlah komentar menilai upaya memasukkan unsur budaya ke dalam video musik pop dapat memantik rasa ingin tahu penonton untuk mengenal budaya, serta memberi ruang bagi kreativitas agar tidak terbelenggu oleh tafsir yang terlalu kaku.

Kontroversi penggunaan simbol budaya, agama, dan etnis dalam karya populer bukan hal baru. Dalam industri musik dan hiburan modern, peminjaman elemen identitas sering digambarkan seperti “berjalan di atas tali” antara pencapaian artistik dan risiko menyinggung komunitas tertentu.

Beberapa contoh terdahulu kerap dijadikan rujukan. Video musik How You Like That (2020) milik BlackPink menuai kritik karena menampilkan patung Ganesha yang diletakkan di lantai, sementara Lisa berada di dekatnya dengan sepatu—hal yang dianggap tabu oleh sebagian penganut Hindu. Kontroversi itu berujung pada penghapusan gambar patung tersebut dari video musik. Kasus lain datang dari Dark Horse (2014) Katy Perry, ketika adegan yang melibatkan kalung bertuliskan “Allah” memicu kemarahan umat Muslim dan mendorong tim produksi menghapus tulisan itu melalui penyuntingan digital setelah muncul petisi besar. Madonna juga pernah menghadapi seruan boikot atas Like a Prayer karena adegan yang dianggap menantang batasan agama dan norma sosial.

Berbagai polemik tersebut menunjukkan bahwa simbol keagamaan dan budaya tidak sekadar elemen estetika, melainkan terkait nilai, keyakinan, dan identitas kolektif. Ketika karya seni dinilai “menodai kesakralan”, mendistorsi, atau memindahkan simbol dari konteksnya, reaksi penolakan dapat muncul cepat—terutama di era digital ketika perdebatan menyebar dengan intensitas tinggi.

Terkait kasus Sơn Tùng, Dr. Nguyen Viet, Direktur Pusat Prasejarah Asia Tenggara, menyatakan bahwa sebagai “putra Vietnam”, Sơn Tùng M-TP memiliki hak untuk menggunakan simbol tradisional seperti burung Lạc atau figur Ibu Âu Cơ sebagai bahan karya kreatif, yang juga bisa dibaca sebagai bentuk keterikatan pada akar budaya dan keinginan mempromosikan citra negara. Menurutnya, yang perlu dinilai adalah sikap dan perilaku dalam penggunaan simbol tersebut.

Ia menekankan bahwa tindakan seperti menginjak, menendang, atau menari secara berlebihan di atas simbol dapat dianggap menyinggung. Namun, setelah menonton video musiknya, ia menyatakan tidak menemukan unsur yang menyinggung.

Dari sudut pandang komunikasi publik, Profesor Madya Dr. Nguyen Van Thang Long, Wakil Kepala Departemen Komunikasi Profesional di Universitas RMIT Vietnam, menilai perdebatan yang terjadi justru lebih penting daripada sekadar menilai individu seniman. Menurutnya, diskusi ini dapat mendorong masyarakat membahas secara serius batas antara rekreasi budaya dan penghinaan budaya—topik yang sering kali hanya dibicarakan di ruang akademik.

Ia juga menilai gelombang penolakan awal banyak bertumpu pada penafsiran kesakralan genderang perunggu yang mengandung simbol burung Lạc. Penafsiran tersebut, menurutnya, masih bersifat subjektif. Ia menambahkan bahwa penggunaan istilah seperti “tidak diperbolehkan” atau “menyinggung” untuk menggambarkan tindakan berdiri di atas model burung Lạc belum sepenuhnya mendapatkan konsensus publik.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa bentuk musik baru membutuhkan ruang untuk bereksperimen dengan simbol budaya dalam konteks modern. Dalam kasus ini, unsur rakyat dan simbol budaya ditempatkan dalam bahasa musik pop dan kehidupan perkotaan modern yang bersifat global, sehingga memiliki risiko penafsiran yang beragam. Karena itu, ia mendorong publik melihat persoalan ini dengan perspektif yang lebih ringan.

Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa memasukkan simbol budaya untuk menghormati citra Vietnam tetapi memisahkannya dari konteks sejarah dapat membuat konten terasa dangkal. Isu serupa kerap muncul dalam perdebatan tentang sejumlah film dan program hiburan, ketika peminjaman kostum, ritual, atau bentuk seni dianggap berlebihan hingga identitas nasional terasa dipakai sebagai dekorasi atau unsur pemancing perhatian, bukan benar-benar dirayakan dan dipromosikan.

Perdebatan seputar adegan burung Lạc dalam Come My Way pada akhirnya memperlihatkan ketegangan yang terus berulang dalam budaya populer: bagaimana seniman menafsirkan simbol tradisi di ruang modern, dan sejauh mana publik menerima eksperimen kreatif tanpa merasa nilai bersama mereka dilanggar.