BERITA TERKINI
Koreksi Lambat di Jurnal Ilmiah: Saat Kesalahan Bertahan, Publik Menanggung Dampaknya

Koreksi Lambat di Jurnal Ilmiah: Saat Kesalahan Bertahan, Publik Menanggung Dampaknya

Kesalahan dalam karya ilmiah tidak hanya berhenti sebagai catatan di jurnal. Temuan yang keliru dapat menyesatkan kebijakan, membuang dana publik, dan dalam kasus tertentu membahayakan nyawa. Namun, berbagai pengalaman menunjukkan bahwa mekanisme koreksi di jurnal-jurnal ilmiah terkemuka kerap berjalan lambat, tidak transparan, bahkan sulit diakses.

Salah satu contoh terjadi pada Maret 2025, ketika jurnal Communications Earth & Environment menerbitkan penelitian yang mengklaim sertifikasi kelapa sawit menurunkan hasil panen dan memicu pembukaan lahan baru. Setelah ditelusuri ulang, kesimpulan tersebut dinilai keliru karena penulis salah menafsirkan data citra satelit. Penurunan produksi yang terlihat ternyata bersifat sementara karena kebun sedang dalam proses peremajaan tanaman, bukan karena area produksi kelapa sawit benar-benar berkurang. Setelah dilakukan koreksi, data menunjukkan tidak ada penurunan produksi, sehingga kesimpulan bahwa sertifikasi meningkatkan pembukaan lahan dinilai tidak berdasar.

Permintaan penarikan tulisan tersebut diajukan, tetapi ditolak oleh penerbit. Sebagai gantinya, diminta pengajuan teks sanggahan. Namun, hingga hampir setahun kemudian, sanggahan itu masih berada dalam proses peninjauan.

Kasus lain merujuk pada riset yang diterbitkan jurnal Nature pada 2023 terkait perkiraan deforestasi akibat perkebunan karet. Studi tersebut disebut salah mengambil sampel, sehingga dampak deforestasi yang dilaporkan tampak jauh lebih besar daripada kenyataannya. Koreksi yang diajukan baru terbit hampir dua tahun kemudian, dan dipublikasikan di balik paywall. Sementara itu, riset bermasalah tersebut sudah dikutip 98 kali dan memengaruhi berbagai laporan kebijakan.

Dua contoh itu sama-sama lolos dari penelaahan sejawat di jurnal bereputasi. Situasi ini menunjukkan bahwa, bahkan di jurnal top internasional, kesalahan dapat tersebar semudah temuan yang benar—sementara proses memperbaikinya tidak selalu sebanding cepat.

Berbagai kasus tersebut menggambarkan apa yang disebut sebagai macetnya “mesin koreksi akademis”. Penarikan atau ralat disebut bukan prioritas banyak jurnal, sementara peneliti yang berupaya mengungkap kesalahan sering tidak memperoleh dukungan memadai. Di lingkungan akademik, hal baru kerap lebih dihargai daripada akurasi, dan karier peneliti banyak bergantung pada publikasi baru, bukan pada kerja koreksi yang teliti.

Kritik pascapublikasi pun jarang dipandang penting. Mengakui kesalahan dapat dianggap merusak reputasi, sedangkan mengungkap kekeliruan pihak lain berisiko menimbulkan kecaman. Dalam konteks ini, kesalahan yang sudah diketahui pun dapat tetap bertahan lama. Disebutkan pula contoh penarikan artikel di jurnal Nature yang baru terjadi 22 tahun setelah terbit, ketika makalah itu telah dikutip hampir 4.500 kali.

Dampak keterlambatan koreksi dapat menjadi serius. Di bidang medis, data yang keliru berpotensi memengaruhi keputusan klinis. Salah satu contoh yang disebut adalah kesalahan dalam studi Lancet (2020) tentang hidroksiklorokuin—yang kemudian ditarik—yang sempat membuat proses uji klinis vaksin COVID-19 di dunia terhenti sementara. Di bidang konservasi, perbedaan estimasi deforestasi berbasis satelit dari beragam studi dapat membingungkan pembuat kebijakan dan menggerus kepercayaan pada bukti ilmiah karena klaim yang saling bertentangan.

Persoalan ini disebut bersifat struktural dan saling terkait, dipengaruhi oleh orientasi keuntungan dan tekanan dalam sistem penerbitan. Dalam model penerbitan akademik yang berlaku luas, ilmuwan—yang sering didanai uang publik—melakukan riset dan menelaah artikel tanpa dibayar, sementara institusi mereka harus membayar mahal untuk mengakses hasilnya, dan perusahaan penerbit memperoleh keuntungan.

Contoh yang disorot adalah model bisnis yang berkembang sejak pendirian Pergamon Press oleh Robert Maxwell pada 1960-an di Inggris, yang disebut memelopori komersialisasi prestise akademik. Model serupa dinilai masih menguntungkan hingga kini. Springer Nature, misalnya, dilaporkan memiliki margin laba sekitar 28% dari pendapatan €2 miliar. Sementara itu, perusahaan lain seperti Elsevier dan Wiley disebut mencatat margin operasional yang lebih tinggi. Dalam gambaran ini, penerbitan akademik menjadi industri yang sangat menguntungkan, sementara kerja penting seperti penelaahan sejawat menyita waktu besar—disebut lebih dari 100 juta jam per tahun—tanpa bayaran.

Di sisi lain, penelaahan sejawat disebut kewalahan karena jumlah naskah terus meningkat. Produksi ilmiah yang makin cepat, termasuk dengan bantuan alat AI, ikut menambah beban. Nature bahkan menyebut situasi ini sebagai “krisis peer-review”. Jumlah riset yang ditarik penerbit telah melampaui 10 ribu pada 2023 dan terus meningkat, yang dipandang sebagai tanda krisis kontrol kualitas, bukan semata bukti sistem koreksi yang sehat.

Akses yang timpang juga menjadi hambatan. Paywall dan biaya publikasi akses terbuka (APC) dinilai menghalangi banyak peneliti untuk mengakses, menerbitkan, atau mengoreksi karya ilmiah. Sebagai contoh, biaya APC Nature disebut mencapai €10.690. Kondisi ini menyulitkan peneliti dari negara berpendapatan rendah untuk berpartisipasi penuh dalam ekosistem koreksi ilmiah.

Di tengah kenyataan bahwa sains seharusnya bersifat mengoreksi diri, sistem yang mengutamakan keuntungan dan prestise dinilai cenderung melakukan koreksi hanya jika terpaksa—dan itu pun lambat. Karena itu, diserukan perlunya reformasi yang menempatkan koreksi cepat dan terbuka sebagai bagian inti dari integritas ilmiah.

Sejumlah gagasan perbaikan yang diajukan mencakup penguatan platform koreksi terbuka, berbagi data, serta pemanfaatan alat penelaahan berbasis AI untuk mempercepat peninjauan kolektif. Namun, yang dinilai masih kurang adalah insentif dan keberanian untuk menjadikan mekanisme itu sebagai norma. Usulan lain menyebut penerbit seharusnya menyediakan koreksi terbuka, terutama jika mereka dapat meraup keuntungan dari akses berbayar. Institusi dan pemberi dana juga didorong tidak hanya menghitung jumlah makalah dan sitasi, tetapi juga menghargai koreksi.

Jurnal ilmiah didorong memastikan koreksi terlihat jelas, bergengsi, dapat disitasi, serta memperluas model diamond open access. Institusi diminta menghargai transparansi, pemberi dana mendukung verifikasi pascapublikasi, dan peneliti memilih penerbit yang mengutamakan ketelitian. Pembaca juga dapat berperan, antara lain dengan memeriksa Retraction Watch sebelum mengutip dan mendorong universitas bergabung dengan cOAlition S.

Kesalahan dalam sains disebut tak terelakkan, tetapi membiarkannya berlarut-larut bukan pilihan. Ukuran kekuatan sains, dalam pandangan ini, bukan pada klaim selalu benar, melainkan pada seberapa cepat dan terbuka ia mengakui serta memperbaiki kekeliruan.