BERITA TERKINI
Lagu “Baru” Adele dan Bruno Mars Ramai di YouTube, Ternyata Hasil Kloning Suara AI

Lagu “Baru” Adele dan Bruno Mars Ramai di YouTube, Ternyata Hasil Kloning Suara AI

Sejumlah lagu berjudul “Letters I’ll Never Send”, “One More Night Alone”, “Love Me Like You Used To”, hingga “Goodbye” belakangan sering muncul dalam daftar putar yang disarankan di YouTube. Video-video tersebut meraih puluhan ribu penonton hanya dalam beberapa hari dan terdengar meyakinkan: suara serak khas Adele, pengucapan yang rapi, serta vibrato yang membuat sebagian penonton kesulitan membedakannya dari rekaman asli.

Namun, judul-judul itu bukan bagian dari proyek resmi Adele. Lagu-lagu tersebut merupakan hasil teknologi kloning suara berbasis kecerdasan buatan (AI), yang menciptakan versi digital suara penyanyi untuk menyanyikan materi apa pun sesuai permintaan pengguna. Dalam kasus ini, video musik “Letters I’ll Never Send” disebut menggunakan AI untuk meniru vokal Adele.

Fenomena serupa juga menimpa Bruno Mars. Di YouTube dan TikTok, beredar rangkaian lagu yang diklaim sebagai “demo baru” Bruno Mars dengan nuansa funk ceria. Bahkan, muncul pula versi cover lagu artis lain—misalnya “Flowers” milik Miley Cyrus—yang telah meraih jutaan penonton dan membuat sebagian orang percaya Bruno Mars benar-benar menyanyikannya.

Sebelumnya, lagu berjudul “Heart on My Sleeve” yang meniru Drake dan The Weeknd sempat mendapatkan lebih dari 600.000 pendengar di Spotify dan jutaan penayangan di TikTok sebelum akhirnya dihapus. Meningkatnya realisme suara AI dinilai semakin mengaburkan batas antara karya kreatif dan peniruan.

Di balik viralnya “hit virtual”, muncul perdebatan soal wilayah abu-abu hak cipta dan etika. Isu ini tidak lagi dipandang sekadar lelucon atau eksperimen penggemar teknologi, melainkan memunculkan tantangan hukum yang lebih serius, mulai dari pelanggaran hak pribadi, kekacauan algoritmik, hingga risiko penipuan.

Universal Music Group (UMG)—yang mengelola Adele dan Drake—dilaporkan telah mengirim surat peringatan kepada platform online seperti Apple Music dan Spotify. UMG meminta agar layanan AI diblokir dari penggunaan melodi dan vokal artis mereka, serta menyebut praktik tersebut sebagai “penipuan” dan pelanggaran hukum hak cipta.

Di sisi lain, Bruno Mars dan sejumlah artis lain, melalui organisasi hak-hak artis, berkampanye untuk mendorong pengesahan Undang-Undang ELVIS (Electronic Voice and Image Protection Act) di Amerika Serikat. Aturan ini disebut sebagai undang-undang pertama yang secara khusus bertujuan melindungi artis dari penyalahgunaan AI.

Penyanyi Hozier juga menyatakan kesiapannya untuk melakukan mogok kerja jika AI terus mengancam nilai kerja manusia. “Saya siap berjuang untuk melindungi seni agar tidak digantikan oleh algoritma tanpa jiwa,” ujarnya.

Sejumlah media menyoroti dampak yang lebih luas dari tren ini. The Guardian menyebutnya sebagai “Era kekacauan musik”. Sementara Variety menekankan aspek ekonomi, termasuk klaim bahwa kanal YouTube yang “menumpang” pada vokal selebriti dapat meraup ribuan dolar pendapatan iklan setiap bulan, sementara artis asli tidak menerima apa pun.

Bagi penonton, ada beberapa tanda yang bisa diperiksa untuk menghindari terkecoh. Pertama, perhatikan saluran pengunggah: video semacam ini kerap muncul di akun tidak resmi seperti VelvetEcho_Lyrics atau Vynez Beats, bukan di kanal resmi terverifikasi artis, misalnya Adele (AdeleVEVO). Kedua, baca deskripsi video dengan saksama karena sebagian kanal mencantumkan catatan kecil seperti “lagu yang dihasilkan AI” atau “terinspirasi oleh…”. Ketiga, cek judul lagu: jika tidak tercantum dalam album, EP, atau single resmi sang artis, besar kemungkinan konten tersebut bukan rilisan asli.