Para perantau yang hidup jauh dari kampung halaman kerap menemukan ketenangan lewat lagu daerah. Musik tradisional yang diputar di kamar kos, kontrakan, atau saat berkumpul dengan teman senasib, menjadi cara untuk meredakan rindu sekaligus menguatkan ikatan pada keluarga dan identitas budaya.
Sejumlah kajian mencatat peran musik tradisional sebagai medium ekspresi emosional. Dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, misalnya, lagu tradisi Minangkabau disebut mewakili pengalaman merantau dan membantu mengobati kerinduan. Lirik dan melodi dipandang mampu menjadi saluran bagi perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung lewat kata-kata.
Temuan tersebut sejalan dengan studi dalam Frontiers in Psychology yang membahas hubungan musik tradisional dan kesejahteraan psikologis. Musik yang memiliki ciri budaya kuat dinilai dapat menumbuhkan rasa keterhubungan sosial serta memperkuat identitas ketika seseorang berada di lingkungan baru.
Riset dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga menunjukkan kecenderungan serupa. Perantau yang rutin mendengarkan musik tradisional dilaporkan mengalami penurunan stres dan kecemasan. Dalam temuan itu, musik tradisional disebut berfungsi sebagai alat regulasi emosi yang memberi kenyamanan psikologis saat individu jauh dari keluarga.
Di keseharian, fenomena ini kerap tampak di ruang kos atau kontrakan, terutama pada sore hingga malam hari ketika lagu daerah diputar. Bagi banyak perantau, lagu menjadi pengingat rumah, rutinitas masa kecil, dan kisah-kisah yang mudah dipahami oleh sesama perantau.
Psikolog budaya menjelaskan, musik tradisional dapat memicu rasa aman dan keterikatan yang mendukung kesejahteraan emosional. Dalam konteks perantauan, lagu dari kampung halaman kerap menjadi penopang batin untuk menjaga keseimbangan emosi di tengah tuntutan hidup jauh dari tempat asal.

