JAKARTA — TikTok belakangan kerap disebut sebagai “mesin waktu” bagi industri musik. Sejumlah lagu yang dirilis satu hingga tiga dekade lalu mendadak kembali populer, bahkan mampu bersaing dengan rilisan terbaru di tangga lagu global. Fenomena ini terlihat pada karya musisi seperti Mariah Carey hingga Backstreet Boys yang kembali ramai digunakan di berbagai konten video pendek.
Ada beberapa faktor yang membuat lagu lawas bisa kembali viral dan menguasai lini masa. Pertama adalah efek nostalgia. Bagi generasi milenial dan Gen X, lagu-lagu tertentu dapat memunculkan ingatan masa remaja. Namun di TikTok, nostalgia juga terjadi lintas generasi: Gen Z dan Gen Alpha yang belum lahir ketika lagu tersebut dirilis justru menemukan musik itu untuk pertama kali melalui video pendek. Bagi mereka, lagu lama dapat terdengar segar, unik, dan memiliki karakter berbeda dari formula pop modern.
Faktor kedua adalah tren koreografi dan challenge yang mudah ditiru. TikTok merupakan platform yang mengandalkan visual dan partisipasi pengguna. Lagu biasanya ikut terangkat bukan semata karena didengar, melainkan karena ada kreator yang membangun tren di sekitarnya. Lagu boyband era 1990-an, misalnya, dinilai memiliki ketukan ritmis yang cocok untuk dance challenge. Sementara lagu diva seperti Mariah Carey kerap dipakai sebagai latar video transisi makeup atau fesyen karena karakter vokalnya yang dramatis dan bertenaga.
Alasan lain datang dari struktur musik yang dianggap lebih “menempel”. Lagu pop era 1990-an hingga awal 2000-an banyak dibangun dengan chorus dan hook yang kuat—bagian yang paling mudah diingat. Dalam format TikTok yang mengandalkan cuplikan 15 hingga 30 detik, hook yang bombastis membuat penonton cepat tertarik dan terdorong mencari versi utuh lagunya.
Fenomena viralnya lagu lawas ini juga berdampak pada industri musik global. Lagu yang kembali ramai di TikTok terpantau mengalami lonjakan angka streaming di platform seperti Spotify dan Apple Music. Popularitas digital tersebut turut menjadi katalis bagi konser reuni, ketika promotor melihat kembali potensi pasar untuk tur dunia atau perilisan album spesial. Di sisi lain, label rekaman juga mulai menyesuaikan strategi dengan tidak hanya mempromosikan artis baru, tetapi membentuk upaya khusus untuk mengoptimalkan katalog lagu lama agar dapat kembali menjangkau pendengar.
Secara keseluruhan, kembalinya lagu-lagu lawas ke pusat perhatian menunjukkan bahwa karya yang kuat dapat terus hidup melintasi zaman. TikTok menjadi medium yang menjembatani musik masa lalu dengan kebiasaan konsumsi masa kini, sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam satu potongan melodi yang sama.