Gelombang “wisata musik” kian menonjol seiring semakin banyak musisi muda Vietnam mengangkat warisan budaya ke panggung modern. Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah tur “Xẩm to School” yang dijalankan penyanyi SOOBIN di tiga wilayah, dengan tujuan memperkenalkan nilai musik tradisional kepada pelajar dan publik luas.
SOOBIN menegaskan bahwa budaya Vietnam tidak jauh atau sulit diakses. Menurutnya, ketika orang meluangkan waktu untuk mendengar dan belajar, akan banyak hal indah yang layak dibanggakan. Dalam proyek “Xẩm to School”, ia berkolaborasi dengan Pusat Promosi Warisan Budaya Takbenda Vietnam. Para siswa tidak hanya menonton pertunjukan, tetapi juga mendengarkan penjelasan para pengrajin mengenai sejarah, nilai, dan semangat Xam, mempelajari ritme serta teknik bernyanyi, lalu melakukan permainan peran dan menampilkan cuplikan lagu.
Bagi SOOBIN, promosi seni tradisional membutuhkan waktu dan ketekunan. Ia menilai pembelajaran yang dipadukan dengan pemikiran kreatif menjadi unsur penting, dengan menjadikan kutipan peneliti budaya Trinh Bach—“Nilai budaya terletak pada keberlanjutan antar generasi”—sebagai prinsip dalam proyeknya. Ia juga menyatakan akan melanjutkan program tersebut ke sekolah-sekolah pada masa mendatang.
Panggung pertunjukan menunjukkan bagaimana jarak antara “masa lalu” dan “masa kini” dapat menyempit lewat musik. Ketika lagu rakyat Quan Ho dipadukan dengan orkestrasi elektronik, penonton sempat terdiam beberapa detik sebelum kemudian bersorak. Pada momen semacam itu, musik berperan sebagai jembatan yang menghubungkan ingatan dengan kehidupan kontemporer, sekaligus memperlihatkan cara anak muda menciptakan musik “buatan Vietnam” hari ini.
Sejumlah musisi disebut menempuh jalur serupa: tidak selalu berangkat dari ambisi membawa musik Vietnam ke panggung dunia, melainkan keinginan berkontribusi melestarikan nilai tradisional melalui sentuhan kontemporer. Namun, pola pikir dan dedikasi ini justru membuat karya mereka perlahan menonjol dengan karakter yang khas.
Contoh lain datang dari Hoang Thuy Linh melalui lagu “See Tinh” yang sempat menciptakan sensasi global di TikTok. Lagu itu memadukan unsur musik rakyat Vietnam Selatan dan citra yang mengingatkan pada budaya sungai Delta Mekong dengan ritme dance-pop modern. Dampaknya, sejumlah pendengar internasional mencari informasi tentang kostum, latar, dan unsur budaya Vietnam setelah mendengarnya. Dalam album “Hoang”, ia juga mengeksplorasi lagu rakyat, peribahasa, pemujaan Dewi Ibu, serta unsur budaya rakyat Vietnam Utara untuk menceritakan kisah perempuan Vietnam modern—menempatkan musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penyampai identitas.
Di ranah pertunjukan langsung, Tung Duong lewat “Human Beings” menata ulang melodi rakyat dengan membawa Cheo dan Chau Van ke panggung yang diiringi orkestra modern. Sementara produser DTAP dan Phuong My Chi memilih pendekatan yang konsisten dengan musik rakyat dan bolero yang dipadukan unsur kontemporer. Pendekatan ini dinilai menunjukkan bahwa penonton muda tetap bersedia mendengar suara tradisional jika disampaikan kembali dalam bahasa zaman sekarang. Hoa Minzy juga disebut membangun versi rakyat kontemporernya sendiri melalui karya-karya seperti “Bac Bling”, “Thi Mau”, dan “Choi O Quan”. Rangkaian contoh tersebut menegaskan bahwa ketika warisan budaya “dihidupkan kembali” lewat tafsir baru, ia tidak berhenti di museum, melainkan terus hidup dalam daftar putar anak muda.
Di sektor pariwisata, musik kerap dipilih sebagai “jiwa” festival karena mampu meningkatkan nilai emosional perjalanan. Di Hue, Festival Hue menyediakan ruang signifikan bagi Musik Istana Kerajaan Hue—warisan yang diakui UNESCO—sehingga pengunjung tidak hanya menyambangi Benteng Kekaisaran, tetapi juga merasakan suasana melalui bunyi-bunyian istana di latar yang historis. Kombinasi ini membuat kunjungan dinilai melampaui pengalaman “check-in”.
Di Bac Ninh, lagu rakyat Quan Ho telah menjadi merek budaya. Saat Festival Lim, ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan tradisi nyanyian berbalas antara penyanyi pria dan wanita. Musik pun disebut berperan sebagai “duta lembut” yang ikut mendorong layanan akomodasi, kuliner, dan suvenir. Di wilayah barat daya Vietnam, musik rakyat Vietnam Selatan diintegrasikan ke wisata sungai: pengunjung internasional menikmati buah lokal sambil mendengarkan lagu-lagu tradisional. Melalui pengalaman semacam itu, warisan budaya hadir sebagai sesuatu yang hidup dan dinamis, bukan konsep abstrak.
Peran musik juga menguat dalam pendidikan budaya. Sejumlah sekolah memasukkan lagu rakyat dalam kegiatan ekstrakurikuler agar siswa memahami akar budaya melalui lirik dan melodi. Selain itu, proyek musik komunitas yang menciptakan kembali lagu rakyat Xoan, Then, dan Vi Giam disebut menarik minat banyak anak muda. Sejumlah individu dan organisasi pun menjalankan lokakarya dan seminar di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan musik rakyat kepada generasi muda.
Pham Thai Binh, anggota Asosiasi Seni Rakyat Vietnam, menyampaikan bahwa ia dan grup “Coi Xua” yang fokus pada musik tradisional secara rutin menggelar pertunjukan untuk memperkenalkan musik rakyat Vietnam Selatan serta bentuk seni lain yang terdaftar UNESCO sebagai warisan budaya takbenda representatif kepada kaum muda dan siswa di berbagai sekolah di Kota Ho Chi Minh. Ia mengatakan, melalui setiap pertunjukan, mereka merasakan kecintaan anak muda terhadap musik tradisional Vietnam semakin kuat, dan hal itu membuat mereka bahagia.
Menurut para ahli, keberhasilan lagu-lagu yang terinspirasi budaya rakyat dengan fondasi modern menunjukkan bahwa identitas adalah faktor pembeda. Ketika melodi Vietnam dinyanyikan oleh penonton asing, momen itu dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap budaya Vietnam. Musik memang tidak menggantikan pelestarian tradisi dalam wujud aslinya, tetapi dapat membuka jalur baru agar warisan budaya terus menyebar—dari panggung festival dan ruang kelas hingga ruang digital—sebagai “pengantar” yang membawa ingatan budaya lintas generasi.

