BERITA TERKINI
Ligusty Poeziya Tampilkan Musikalisasi Puisi Bertema Patiayam di Serah #2 DKK Kudus

Ligusty Poeziya Tampilkan Musikalisasi Puisi Bertema Patiayam di Serah #2 DKK Kudus

KUDUS — Pegiat Lesbumi Kudus yang tergabung dalam Komunitas Sastra Ligusty Poeziya ambil bagian dalam agenda Serah #2 Dewan Kesenian Kudus (DKK) yang digelar di RKBBR Rejosari, Dawe, Sabtu malam (28/02/2026). Dalam gelaran bertema ruang pertunjukan musikalisasi puisi itu, mereka menampilkan karya yang menyoroti situs purbakala Patiayam sebagai medium ingatan kultural.

Koordinator Ligusty Poeziya, Edi Buseng, mengatakan Serah #2 merupakan forum kebudayaan yang dirancang DKK sebagai ruang perjumpaan antara karya dan publik. Dengan konsep “serah”, karya-karya yang lahir dari pengalaman batin dan refleksi sosial para seniman dipersembahkan kepada masyarakat sebagai pengalaman estetik bersama.

“Puisi dan bunyi berpadu dalam suasana intim, menciptakan ruang tafsir yang hidup,” ujar Edi Buseng.

Dalam kesempatan tersebut, Ligusty Poeziya membawakan musikalisasi puisi yang mengangkat kegelisahan atas kondisi situs purbakala Patiayam. Menurut Edi, perpaduan teks, aransemen musikal, dan ekspresi panggung dihadirkan untuk membangkitkan kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat sejarah dan identitas lokal Kudus.

Ia menegaskan sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal, tetapi juga medium refleksi sosial. Edi menyebut Patiayam bukan sekadar situs purbakala, melainkan jejak peradaban yang membentuk kesadaran masyarakat hari ini. “Lewat musikalisasi puisi, kami ingin mengajak publik kembali membaca ruang dan sejarahnya,” katanya.

Ketua Lesbumi Kudus, Abud S.B Runcing, mengapresiasi partisipasi Ligusty Poeziya dalam forum tersebut. Ia menilai keterlibatan komunitas sastra dalam ruang-ruang kebudayaan menjadi bagian penting dari ikhtiar merawat warisan lokal.

“Lesbumi hadir untuk memastikan kebudayaan tidak terputus dari akar sejarah dan nilai-nilai masyarakatnya. Patiayam adalah identitas kultural yang harus terus dihidupkan melalui berbagai medium, termasuk sastra dan pertunjukan,” ujar Abud.

Melalui partisipasi dalam Serah #2, Lesbumi Kudus menyatakan komitmennya untuk merawat kebudayaan berbasis kearifan lokal. Abud menambahkan, panggung sastra dinilai penting sebagai ruang tumbuh ekosistem seni yang berkelanjutan sekaligus memperkuat relasi antara teks, ruang, dan identitas masyarakat Kudus.

Selain Ligusty Poeziya, sejumlah penampil lain turut meramaikan panggung, mulai dari kelompok pelajar hingga sastrawan muda yang membawakan karya dengan pendekatan musikal kontemporer.