Beragam situasi sehari-hari, mulai dari dinamika di media sosial, pengalaman tidak menyenangkan seperti antrean yang diserobot, hingga arus berita di media arus utama, kerap membuat sebagian orang merasa lebih negatif dan pesimis. Secara ilmiah, kondisi semacam ini dapat memicu otak bekerja melindungi tubuh dari ancaman, sehingga seseorang cenderung melihat dunia dengan lebih waswas.
Sejumlah temuan penelitian menggambarkan kecenderungan tersebut. Disebutkan bahwa hanya 20 persen orang dewasa saat ini menilai situasi di sekitarnya baik, sementara sisanya menganggap dunia tidak lagi aman. Dampaknya, manusia lebih mudah ketakutan, murung, dan tidak bahagia.
Dalam konteks itu, peneliti Harvard Shawn Achor membagikan sejumlah langkah untuk membantu seseorang tetap optimis dan menjadi pribadi yang menyenangkan di tengah berbagai persoalan global. Gagasan tersebut ia paparkan dalam bukunya The Happiness Advantage.
Optimisme juga dikaitkan dengan manfaat praktis dan kesehatan. Penelitian dari University of Pennsylvania, misalnya, menyebutkan bahwa penjual mobil yang optimis—bukan optimisme yang dibuat-buat—mampu menjual 89 persen lebih banyak dibanding mereka yang berpikiran negatif. Riset lain menyatakan 75 orang sukses adalah mereka yang optimis. Selain itu, pribadi yang optimis disebut lebih sehat serta tidak mudah mengalami insomnia dan stres.
Berikut lima cara sederhana yang disebut dapat membantu membangun sikap optimis.
1. Belajar bersyukur
Luangkan waktu sekitar satu menit untuk melihat hal-hal yang patut disyukuri. Cobalah memikirkan tiga alasan, dimulai dari hal kecil. Contohnya, “Aku bersyukur anakku memelukku saat kuantar ke sekolah. Itu berarti aku dicintai.” Alasan lain bisa sesederhana masih bisa makan tiga kali sehari.
Rasa syukur dinilai penting karena dapat mengubah cara pandang. Penelitian menyebutkan manusia membangun pandangan tentang dunia berdasarkan fakta yang dimiliki; jika seseorang terpaku pada hal negatif, dunia yang terbentuk dalam pikirannya juga cenderung negatif. Bersyukur membantu membangun “dunia” yang berisi fakta positif. Fokus pada hal sederhana seperti sinar matahari pagi dapat dilakukan siapa pun dan di mana pun. Latihan bersyukur juga disebut bermanfaat bagi hubungan pasangan yang melakukannya secara rutin di rumah, karena mendengar tiga hal yang disyukuri dari satu sama lain dapat memperkuat alasan untuk saling menyukai dan membuat hubungan lebih langgeng.
2. Membiasakan mengucapkan terima kasih
Kebiasaan mengatakan “terima kasih” disebut sebagai langkah kuat untuk membangun optimisme. Caranya, setiap pagi pilih orang yang berbeda lalu kirim pesan singkat atau email berisi ucapan terima kasih. Penerimanya tidak harus orang terdekat; bisa guru, pelatih, klien, atau rekan kerja di masa lalu. Menulis ucapan terima kasih disebut dapat mengubah suasana hati menjadi lebih bahagia, dan tak jarang penerima akan membalas dengan hal serupa.
3. Melihat makna dari pengalaman
Coba ingat hal berarti yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Bisa berupa seseorang yang menahan pintu untuk Anda, percakapan menarik, atau kesempatan membantu orang lain. Dalam dua menit, tulis daftar detailnya, termasuk hal kecil seperti cuaca atau warna baju yang dikenakan.
Langkah ini disebut dapat membantu karena seseorang “menghidupkan kembali” pengalaman secara mental dan menjadikannya peristiwa bermakna di otak. Otak dinilai tidak banyak membedakan antara visualisasi dan pengalaman aktual, sehingga cara ini dapat menggandakan dampak momen positif: pengingat bahwa hari yang dijalani tetap berharga.
4. Bergerak dan berolahraga
Luangkan waktu 15 menit hingga setengah jam setiap hari untuk berolahraga. Dengan bergerak, jantung memompa peredaran darah. Aktivitas ini disebut setara dengan mengonsumsi obat antidepresan sehingga membantu seseorang merasa lebih bahagia.
5. Meditasi
Sediakan dua menit setiap hari untuk bermeditasi. Hentikan aktivitas sejenak dan fokus pada napas. Meditasi disebut memberi pola baru bagi otak karena konsentrasi pada napas membuat otak beralih dari multitasking ke single-tasking. Saat otak terus dibombardir informasi—baik dan buruk—otak dapat merasa terancam dan masuk ke mode defensif; meditasi membantu mengubah kondisi tersebut.
Berbagai langkah di atas menekankan perubahan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten. Meski tidak menghapus masalah yang ada, latihan-latihan ini disebut dapat membantu seseorang membangun cara pandang yang lebih positif dalam menjalani hari.

