Tradisi pulang kampung masyarakat Minangkabau kerap lekat dengan lagu-lagu bertema rantau yang sarat makna kerinduan. Musik Minang bukan sekadar hiburan selama perjalanan jauh, tetapi juga menjadi pengingat akan keluarga dan sanak saudara yang menunggu di kampung halaman.
Menjelang mudik Lebaran 2026, sejumlah lagu Minang bertema rindu kampung halaman kembali banyak diputar untuk menemani perjalanan. Berikut lima lagu yang kerap direkomendasikan karena lirik dan nuansanya menggambarkan perasaan perantau saat hendak pulang.
1. “Taragak Pulang”
Lagu “Taragak Pulang” dikenal sebagai salah satu lagu mudik Padang yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Lagu ini diciptakan oleh Dira Sati dan dinyanyikan ulang oleh sejumlah penyanyi, termasuk Ayu Atari. Kisahnya menggambarkan kerinduan seorang perantau untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, dan merayakan kebersamaan di hari raya.
2. “Rantau Den Pajauah”
Dipopulerkan oleh Ipank dan Rayola, “Rantau Den Pajauah” kerap menjadi pilihan selama perjalanan mudik Lebaran. Video lirik lagu ini disebut telah ditonton sebanyak 101 juta kali. Lagu tersebut bercerita tentang perantau yang harus jauh dari kampung halaman karena tuntutan hidup, menerima suratan takdir, namun tetap menyimpan cinta dan kerinduan yang tidak pernah hilang.
3. “Mudiak Arau”
“Mudiak Arau” merupakan ciptaan Ajis ST Sati dan pertama kali dipopulerkan oleh Ria Amelia. Video musiknya disebut mencapai 6,5 juta tayangan di YouTube. Lagu ini menggambarkan kehidupan sederhana masyarakat desa yang penuh kerja keras dan kepasrahan pada nasib, sekaligus memuat rasa cinta, rindu, dan beban batin yang harus ditanggung.
4. “Pulanglah Uda”
Lagu “Pulanglah Uda” diciptakan oleh Syam Tanjung dan Youngky RM serta dirilis pada 1991. Lagu ini sempat populer lewat Hetty Koes Endang, lalu dinyanyikan ulang oleh Ria Amelia pada 2010. Ceritanya menampilkan rasa rindu, kecewa, dan penantian panjang seorang gadis yang cintanya digantung tanpa kepastian, sembari berharap kekasihnya kembali menepati janji di kampung halaman.
5. “Kampuang Nan Jauh Di Mato”
“Kampuang Nan Jauh Di Mato” kerap disebut sebagai lagu mudik Padang yang ikonik. Lagu ini dipopulerkan oleh Oslan Husein pada dekade 1960-an dan Chiquita Meidy pada pertengahan 1990-an, serta disebut diciptakan pertama kali oleh Oslan Husein pada 1931. Liriknya menggambarkan kerinduan mendalam perantau pada kampung halaman, termasuk keindahan alam, kebersamaan masyarakat, serta kenangan bersama keluarga dan sahabat lama.
Kelima lagu tersebut memperlihatkan bagaimana musik Minang menjadi medium untuk menyuarakan kerinduan perantau pada kampung halaman, sekaligus menemani perjalanan mudik dengan nuansa emosional yang khas.

