Cuaca mendung disertai gerimis dan hujan ringan bergantian turun di Pelataran dan Selasar Gedung II Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Sabtu (17/01/2026). Meski demikian, kegiatan kolaborasi Bakul Budaya dan AIESEC Universitas Indonesia tetap berlangsung dari pagi hingga siang.
Rangkaian kegiatan kali ini diikuti hampir 30 mahasiswa yang bergabung dalam program pertukaran mahasiswa AIESEC, selain enam puluhan anggota Bakul Budaya. Peserta terdiri dari tim AIESEC UI, delapan mahasiswa dari Filipina, Taiwan, dan India, serta delapan mahasiswa lokal dari UI, Universitas Diponegoro, dan Universitas Jenderal Soedirman.
AIESEC merupakan organisasi dunia non-pemerintah dan nirlaba yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan kaum muda berdampak sosial melalui program pertukaran mahasiswa magang dan relawan. Dalam kegiatan ini, AIESEC UI mengajukan keinginan untuk mengikuti agenda Bakul Budaya dan disambut dengan penyusunan rangkaian acara bersama.
Acara dipandu dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris oleh Kayla dan Lex dari Bakul Yuwana. Kegiatan dibuka dengan menyanyikan “Indonesia Raya” versi tiga stanza dan doa, dilanjutkan sambutan dari Ketua Umum Bakul Budaya Dewi Fajar Marhaeni, Manajer Hubungan Mahasiswa dan Alumni FIB UI James Farlow Mendrofa, S.Hum., M.Hum. (mewakili Dekan FIB UI), serta Ketua Incoming Global Exchange Department AIESEC UI Fini Safana.
Dewi menyampaikan bahwa kolaborasi kedua ini membawa misi pelestarian sekaligus pengenalan budaya Indonesia kepada generasi muda, termasuk mahasiswa luar negeri. Selain belajar menari tarian Nusantara, peserta juga diajak mengikuti agenda rutin Bakul Budaya setiap Sabtu, yakni ngariung dan transfer literasi “Kisah Kainku.” James menilai kolaborasi tersebut positif dan perlu dilanjutkan, sementara Fini menyebut kegiatan ini sebagai pengenalan budaya Indonesia yang menyenangkan agar peserta pertukaran dapat mengalami budaya secara langsung.
Memasuki sesi latihan, peserta melakukan pemanasan dan belajar menari dipandu pelatih Bakul Budaya, Nia, dibantu Anggun, Endang, dan Ina. Tari Ondel-ondel dari Betawi dipilih sebagai materi latihan. Nia menjelaskan tarian ini dipilih karena gerakannya relatif sederhana dan lincah serta berdurasi tidak panjang, mengingat sebagian peserta berasal dari luar negeri dan belum pernah mempelajari tari Indonesia.
Mahasiswa luar dan dalam negeri, perempuan maupun laki-laki, tampak antusias mengikuti gerakan demi gerakan. Mereka kemudian dibagi ke beberapa kelompok beranggotakan lima orang untuk menampilkan Tari Ondel-ondel, dengan penilaian dilakukan oleh Nia dan Dewi.
Salah satu peserta, Debangshi Gupta, mahasiswa forensik dari Chandigarh University, India, menjadi satu dari dua penampil terbaik. Ia mengatakan belajar Tari Ondel-ondel terasa menyenangkan dan menjadi pengalaman pertamanya mengenal tarian Indonesia secara langsung. Ia juga bercerita memiliki latar belakang sebagai penari profesional, meski tidak banyak mendalami tari tradisional dan belakangan tidak lagi tampil secara profesional sejak fokus kuliah.
Sesi tari ditutup dengan flashmob bersama untuk tiga tarian Nusantara, yakni Goyang Maju Mundur dari Nusa Tenggara Timur, Tamang Pung Kisah dari Saparua, Maluku Tengah, serta Keluhuran Nuswantara dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Setelah latihan dan flashmob, kegiatan berlanjut ke agenda rutin Bakul Budaya, yaitu ngariung. Ngariung dibuka dengan Tari Siri Pinang dari Nusa Tenggara Timur sebagai tarian penyambutan tamu, dibawakan oleh Feby, Hani, dan Icha dari Bakul Yuwana serta Endang dan Mery dari Bakul Budaya.
Dewi menjelaskan, ngariung merupakan bagian dari budaya Sunda yang berarti berkumpul. Dalam ngariung ala Bakul Budaya, peserta menerima informasi kegiatan, pengetahuan budaya Indonesia, serta menikmati hidangan potluck yang dibawa sukarela sambil berbincang sebagai wujud semangat gotong-royong dan kebersamaan.
Pada sesi literasi, Anita dari Bakul Budaya membawakan materi “Kisah Kainku: Selendang Nusantara.” Sejumlah selendang diperkenalkan, antara lain Ulos (Tapanuli, Sumatera Utara), selendang tenun Pandai Sikek (Minangkabau, Sumatera Barat), selendang batik sutera Jawa Tengah, selendang Sintang tenun Ulap Doyo (Kalimantan Barat), selendang tapis (Lampung), selendang Bali, selendang tenun Manggarai (Nusa Tenggara Timur), serta selendang gendong. Anita dibantu Kayla dan Lex sebagai penerjemah serta sejumlah anggota Bakul Yuwana sebagai peraga.
Materi literasi diakhiri dengan kuis bagi peserta program pertukaran AIESEC UI untuk menguji pemahaman mereka atas paparan yang disampaikan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan bersama dari hidangan potluck bertema Kuliner Nusantara, mulai dari pecel dan pempek hingga kue dadar gulung dan rujak buah. Peserta yang ikut menyantap hidangan diminta membawa alat makan awet-guna dan tumbler untuk mengurangi sampah plastik dan styrofoam, sejalan dengan gerakan peduli lingkungan “Ramah dari Rumah” dan misi Bakul Budaya “Merawat Bumi.”

