BERITA TERKINI
Membedakan Esai dan Opini: Sama-sama Gagasan, Berbeda Tujuan dan Cara Bertutur

Membedakan Esai dan Opini: Sama-sama Gagasan, Berbeda Tujuan dan Cara Bertutur

Esai dan opini kerap terlihat serupa karena sama-sama memuat gagasan penulis. Namun, keduanya memiliki perbedaan penting, terutama pada cara berpikir, kedalaman pengolahan, serta tujuan penulisannya.

Dalam opini, penulis biasanya menyatakan sikap secara langsung. Penulis mengambil posisi yang jelas terhadap suatu isu, lalu berupaya meyakinkan pembaca. Karena itu, nada tulisan opini cenderung argumentatif, tegas, bahkan dapat terasa provokatif. Struktur opini juga umumnya lebih sederhana: ada isu yang dibahas, ada sikap penulis, lalu disertai alasan-alasan pendukung.

Sebagai contoh, kalimat “Hukuman bagi koruptor harus diperberat karena efek sosialnya jauh lebih merusak dibanding kejahatan biasa” menunjukkan posisi penulis secara gamblang. Fokus utamanya adalah persuasi.

Sementara itu, esai bergerak lebih luas dan lentur. Penulis esai tidak selalu terburu-buru mengambil sikap hitam-putih. Di dalam esai, terdapat perenungan, eksplorasi, bahkan ruang bagi keraguan. Esai dapat memadukan pengalaman pribadi, sejarah, sastra, humor, refleksi sosial, hingga pertanyaan filosofis. Tujuannya bukan semata meyakinkan, melainkan mengajak pembaca berpikir bersama.

Nuansa tersebut tampak dalam contoh kalimat: “Korupsi kadang bukan lahir dari kebutuhan, melainkan dari rasa takut kehilangan kehormatan yang dibangun oleh masyarakat sendiri.” Kalimat ini tidak langsung menghakimi, melainkan menyodorkan lapisan refleksi untuk dipikirkan.

Secara umum, perbedaan esai dan opini dapat dilihat dari empat aspek. Pertama, tujuan tulisan: opini berupaya memengaruhi sikap pembaca, sedangkan esai membuka ruang pemikiran. Kedua, gaya bahasa: opini cenderung lugas, cepat, dan langsung, sementara esai lebih artistik dan reflektif, kadang puitik. Ketiga, struktur berpikir: opini biasanya linear dan argumentatif, sedangkan esai dapat melompat-lompat namun tetap memiliki benang ide. Keempat, posisi penulis: penulis opini digambarkan seperti “pengacara gagasan”, sedangkan penulis esai seperti “pengelana pikiran”.

Meski demikian, batas antara keduanya tidak selalu kaku. Ada tulisan opini yang menggunakan gaya esai, dan ada pula esai yang menyimpan opini keras di balik refleksinya. Sejumlah kolom Goenawan Mohamad, misalnya, kerap disebut esai namun memuat opini sosial-politik yang tajam. Tulisan Mahbub Djunaidi juga dinilai sering berada di wilayah perbatasan antara esai dan opini.