Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menghadiri agenda “Bincang Pagi” di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (9/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau karya inovasi dosen dan mahasiswa yang dipamerkan di lantai 12 At-Tauhid Tower Umsura.
Dalam forum itu, Brian membahas sejumlah isu strategis pendidikan tinggi, mulai dari pemerataan pendidikan, penguatan riset, hingga pengembangan perguruan tinggi swasta (PTS). Ia juga mengapresiasi semangat Umsura dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta menanggapi masukan Rektor Umsura terkait kebijakan kuota mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) dan penguatan riset di Indonesia.
Brian menyebut tantangan pemerataan pendidikan masih berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat. Sementara terkait riset, ia menegaskan anggaran riset nasional tidak mengalami penurunan, meski persaingan pendanaan menjadi lebih ketat karena jumlah pendaftar meningkat.
“Dana riset sebenarnya tidak turun. Yang daftar naik tiga sampai empat kali lipat dan ada honor 25 persen. Jadi jumlahnya tidak turun, justru bertambah. Namun persaingannya menjadi lebih ketat,” kata Brian.
Ia juga menyinggung kebijakan penerimaan mahasiswa baru di PTN yang dibatasi hingga maksimal 30 Juli. Dengan batas waktu tersebut, PTS dinilai memiliki kesempatan membuka pendaftaran lebih panjang hingga September atau awal Oktober.
Selain isu akademik, Brian menekankan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan kampus agar dapat diselesaikan secara mandiri di masing-masing perguruan tinggi.
Usai agenda bincang pagi, Rektor Umsura Mundakir bersama jajaran pimpinan kampus mengajak Brian berkeliling meninjau inovasi yang dipamerkan. Puluhan produk yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) ditampilkan, mencakup bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknik, hingga teknologi tepat guna lainnya, yang terpusat dalam naungan Center for Impactful Innovation (CII).
Brian mengapresiasi ragam inovasi tersebut, namun menekankan pentingnya orientasi riset yang selaras dengan kebutuhan daerah agar hasilnya dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
“Yang penting menjadi catatan, hasil-hasil riset dan inovasi itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan di daerah masing-masing. Sehingga apa yang diteliti dan dikembangkan kampus nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” tegasnya.
Sementara itu, Mundakir menyambut baik kebijakan pemerintah terkait penguatan PTS. Ia menilai penguatan kurikulum, transformasi digital, serta dukungan terhadap riset dan inovasi menjadi aspek penting dalam pengembangan kampus.
Mundakir menjelaskan, inovasi yang dipamerkan merupakan bagian dari implementasi konsep “Kampus Berdampak” yang dijalankan Umsura, dengan mengarahkan riset pada kebermanfaatan di lingkungan sekitar.
“Saya kira ini bagian dari perwujudan Kampus Berdampak. Kami mendukung program tersebut dengan mengarahkan riset-riset kampus pada kebermanfaatan di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia mencontohkan kerja sama Umsura dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam pemanfaatan panel surya untuk rumah pompa air. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya kampus agar memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Ini bagian dari bagaimana kampus bisa berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Mundakir juga menyebut Umsura terus mengembangkan program studi baru agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Hingga kini, ia mengatakan Umsura tidak pernah menutup program studi, melainkan melakukan pengembangan sesuai kebutuhan industri dan masyarakat.
Terkait inovasi energi terbarukan, Umsura saat ini menjalankan kerja sama pemanfaatan panel surya di sejumlah rumah pompa milik Pemerintah Kota Surabaya.
“Kami kemarin mendapat tiga sampai empat rumah pompa untuk tahap awal. Setelah sistem ini berjalan optimal, kami akan kembali mengajukan proposal pengembangan lebih lanjut,” pungkasnya.