BERITA TERKINI
Menemukan Musik Underground di Bangkalan: Distorsi sebagai Identitas di Tengah Dominasi Dangdut

Menemukan Musik Underground di Bangkalan: Distorsi sebagai Identitas di Tengah Dominasi Dangdut

Seorang penulis asal Bangkalan, Madura, menceritakan pengalaman personalnya mengenal musik underground di lingkungan yang sehari-hari lekat dengan dangdut. Menariknya, kawan yang dahulu memperkenalkannya pada musik underground kini justru dikenal sebagai penyanyi dangdut di Bangkalan.

Di Bangkalan, dangdut digambarkan sebagai selera mayoritas masyarakat. Di luar musik religius seperti hadrah, kabupaten ini juga dikenal berupaya membangun citra sebagai “Kota Dzikir dan Sholawat”. Namun dalam keseharian, terutama pada hari Minggu, dangdut bukan sekadar hiburan. Musik dari rumah-rumah warga disebut kerap berubah menjadi “kompetisi” volume sound antartetangga, seolah saling mengadu siapa yang paling keras atau paling mahal perangkat audionya.

Di tengah situasi itu, penulis mengenang masa SMP ketika seorang teman mengenalkannya pada musik underground—genre yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai dalam pergaulannya. Perkenalan itu tidak langsung membuatnya jatuh cinta. Ia menggambarkannya sebagai pengalaman yang “membikin pusing” di awal, karena telinganya terbiasa dengan musik pop, atau paling jauh Avenged Sevenfold, lalu tiba-tiba berhadapan dengan musik yang lebih keras dan berisik. Dari lagu “Dear God”, ia mendadak melompat ke “Pasukan Mati” milik Dead Squad. Meski sempat terasa berat, ia mengaku lama-lama justru ketagihan.

Di rumah, dangdut juga menjadi bagian dari rutinitas. Ayahnya disebut memiliki selera musik yang fleksibel—kadang memutar R&B saat suasana hati sedang baik, tetapi dalam keseharian dangdut tetap menjadi pilihan utama. Bagi penulis dan beberapa temannya yang sudah terlanjur menyukai musik underground, perbedaan selera itu membuat mereka kerap mencari ruang lain untuk mengekspresikan diri. Mereka memilih berkumpul di warung kopi, membicarakan band, mengulik lagu, atau sekadar saling adu daftar putar. Bukan karena membenci dangdut, melainkan karena merasa hidup pada “frekuensi” yang berbeda.

Seiring waktu, musik underground bagi mereka tidak lagi sekadar soal apa yang didengar, melainkan juga identitas. Penulis menggambarkan bagaimana atribut menjadi bagian dari penanda: kaos hitam berlogo band yang nyaris tak terbaca, ripped jeans, jaket penuh patch, rambut ala emo, hingga helm yang ditempeli stiker band. Bahkan di sekolah, kampus, dan tempat kerja, unsur itu tetap hadir, setidaknya lewat earphone dan kebiasaan mengangguk-angguk mengikuti irama—kadang disertai gerakan kaki seolah memainkan double pedal.

Menjadi metalhead di lingkungan yang didominasi sarung dan peci, menurut penulis, terasa seperti memakai seragam yang salah di acara yang benar. Ia juga membandingkan cara ekspresi di panggung: jika konser dangdut identik dengan joget dan angkat jempol mengikuti alunan musik, maka skena underground memiliki headbang, pogo, dan moshing. Konsekuensinya pun berbeda. Jika orang pulang dari dangdutan dengan senyuman, mereka kerap pulang dengan leher kaku dan badan remuk—kadang disertai “oleh-oleh” bogeman atau tendangan saat moshing. Meski begitu, justru di situlah letak keseruannya.

Di mata orang tua dan tetangga, gerakan dalam musik underground itu disebut kerap terlihat seperti orang “kerasukan”. Namun bagi penulis, itu adalah bentuk katarsis paling murni yang mereka miliki—cara lain untuk merayakan musik dan menegaskan diri di tengah dominasi irama yang berbeda.