Pengalaman perundungan berbasis fisik kerap meninggalkan jejak panjang pada seseorang, terutama ketika terjadi sejak usia sekolah. Hal itu juga yang dialami penulis cerita ini, yang mengaku sejak kecil sudah berhadapan dengan olok-olok karena penampilan yang dinilai jauh dari standar kecantikan.
Kisah tersebut bermula ketika ia membaca tulisan Kalis Mardiasih tentang bullying fisik yang diterima saat siaran langsung di Instagram. Cerita itu memantik ingatan pada pengalaman pribadi yang serupa: perasaan minder karena warna kulit sawo matang yang dianggap tidak menarik, bibir yang hitam alami, serta berada di antara sepupu-sepupu perempuan yang berparas cantik dan berkulit cerah.
Rasa rendah diri semakin kuat ketika dua gigi depan tumbuh maju dan menjadi bahan ejekan di sekolah. Olok-olok itu, menurutnya, begitu sering terdengar hingga memunculkan keinginan suatu hari memasang kawat gigi ketika sudah memiliki penghasilan. Di rumah, ibunya berusaha menenangkan dengan mengatakan tidak mengapa dianggap “jelek” karena itu merupakan pemberian Tuhan dan tetap patut disyukuri.
Namun, penghiburan tersebut tidak serta-merta menghapus dampak perundungan. Di masa SD, ia menyebut pernah mengalami kekerasan fisik dari sejumlah siswa. Memasuki SMA, ejekan tidak berhenti. Ia bahkan beberapa kali harus berurusan dengan ruang bimbingan konseling karena terlibat perkelahian dengan orang yang membully-nya. Pada periode itu, ia menggambarkan dirinya hidup dalam rasa marah, iri, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain—hingga menghindari foto, cermin, dan pergaulan yang membuatnya merasa lebih rendah.
Perubahan perlahan datang ketika ia mulai banyak membaca buku di perpustakaan sekolah. Dari bacaan dan kutipan-kutipan yang ia temukan, mentalnya merasa lebih kuat. Ia kemudian menekuni kegiatan menulis, mengikuti berbagai lomba, dan mulai dikenal di lingkungan sekolah. Ia merasa lebih dihargai, termasuk ketika salah satu cerpennya dimuat di Majalah Horison dan disebut ikut mendukung nilai akreditasi sekolah.
Jalur pendidikannya berlanjut dengan lebih mulus. Ia diterima melalui SNMPTN dan memperoleh beasiswa Bidikmisi. Seiring waktu, ia mengaku menjadi lebih kebal terhadap hinaan. Meski rasa tidak aman masih muncul saat kuliah, ia merasa terbantu oleh lingkungan yang suportif, pertemanan yang lebih sehat, serta proses refleksi diri yang panjang.
Pada akhirnya, ia sampai pada tahap penerimaan: menyadari dirinya tidak memenuhi standar kecantikan yang umum, tetapi menganggap hal itu bukan masalah. Ia menegaskan tetap mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi merasa bersalah atas penampilan yang tidak ia pilih. Ia juga mengutip pandangan yang sejalan dengan nasihat ibunya: manusia tidak ikut menentukan “desain” wajah maupun gen yang diwariskan, sehingga tidak perlu memikul rasa bersalah atas hal tersebut.
Dalam penutupnya, ia menyebut penerimaan dan rasa syukur sebagai langkah penting. Ia juga menilai ada sisi lain yang bisa dipetik dari pengalaman itu, seperti kemampuan memilah pertemanan yang tulus serta kesempatan mengembangkan diri tanpa terganggu oleh tekanan sosial tertentu.

