Prevalensi stunting di Indonesia masih menjadi perhatian. Angkanya disebut mencapai 24,4 persen, yang berarti sekitar 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting. Dokter anak dr. Piprim menjelaskan, stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan oleh faktor nutrisi atau infeksi kronis. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga 14 persen. Selain Indonesia, sejumlah negara di Asia Tenggara juga menghadapi masalah serupa, seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina, mengutip United Nations Children's Fund (UNICEF).
Menurut dr. Piprim, salah satu faktor yang kerap ditemukan pada anak stunting adalah rendahnya asam amino esensial. Kondisi ini antara lain dipengaruhi pola makan yang mengutamakan rasa kenyang, misalnya dominan karbohidrat dengan asupan protein hewani yang minim. Untuk pencegahan, orang tua dianjurkan memberikan makanan sumber asam amino esensial, seperti daging sapi, unggas, ikan, telur, dan susu, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan otak. Studi yang diterbitkan dalam jurnal BMC Medicine pada 2019 mengaitkan stunting dengan keterlambatan perkembangan otak dan kinerja kognitif yang buruk. Sementara itu, penelitian dalam Jambi Medical Journal tahun 2020 menyebutkan 36 persen anak stunting memperoleh skor IQ di bawah rata-rata, dibandingkan 28 persen pada anak non-stunting.
Dr. Piprim menekankan pentingnya intervensi sejak dini. “Kalau masih awal-awal, meningkatkan asupan protein hewani bisa me-reverse stunting. Namun, kalau sudah terlanjur lama, bisa mengganggu perkembangan otaknya. Kalau terjadi gangguan pertumbuhan di fase emas, mungkin tinggi badannya akan menyusul, tetapi kecerdasannya bisa jadi tidak terkejar,” ujarnya.
Di tengah upaya pencegahan stunting, aplikasi PrimaKu hadir sebagai ekosistem digital untuk parenting dan pemantauan tumbuh kembang anak. PrimaKu berdiri pada 2017 dengan misi menjadi sistem pendukung bagi orang tua, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. PrimaKu juga disebut sebagai partner resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), serta berkomitmen menekan angka stunting melalui program edukasi Parenthood Institute by PrimaKu.
CEO PrimaKu Aditriya, yang akrab disapa Didit, menyampaikan bahwa berdasarkan PrimaKu Digital Child Health Report tahun 2022, 97 persen anak pengguna PrimaKu memiliki metrik pertumbuhan dan perkembangan yang baik sehingga dinilai lebih terhindar dari kasus-kasus stunting.
Melalui Parenthood Institute by PrimaKu, orang tua dan calon orang tua yang berdomisili serta berkewarganegaraan Indonesia dapat mengikuti empat kelas parenting online berdasarkan usia anak, yaitu 0–6 bulan, 7–12 bulan, 1–3 tahun, dan 3–5 tahun. Materi disajikan dalam format artikel pendek, video pendek, dan webinar dengan topik kesehatan, wellness, dan ekonomi.
Program ini juga menerapkan sistem poin melalui partisipasi kelas, kuis, dan misi harian. Lima peserta dengan poin tertinggi akan ditampilkan dalam papan skor PrimaParents Hall of Fame dan berhak atas hadiah utama uang tunai total Rp50 juta, serta hadiah hiburan berupa ratusan hamper produk anak. Puncak acara dijadwalkan pada 22 Desember melalui agenda kelulusan online, sekaligus pengumuman lima peraih poin tertinggi.

