Mitologi Yunani sejak lama menawarkan cara imajinatif untuk menggambarkan kuatnya perasaan cinta romantis. Salah satu kisah yang paling dikenal adalah tentang Aphrodite, Dewi Cinta dan Kecantikan, yang memiliki putra bernama Cupid. Dalam cerita itu, Cupid digambarkan bertugas memanah hati seseorang setelah terbang mencari dua manusia yang akan menjadi targetnya.
Sebelum membidik, Cupid konon mencelupkan panahnya ke ramuan cinta rahasia milik Aphrodite. Begitu panah itu mengenai sasaran, korban disebut akan langsung jatuh cinta kepada orang yang ada di hadapannya. Mitos semacam ini kemudian melahirkan berbagai legenda cinta yang terkenal, di antaranya “Apollo dan Daphne”, “Helen of Troy”, “Antony dan Cleopatra”, serta “Romeo dan Juliet”.
Namun, di masa kini, sensasi “terhantam romansa” tidak hanya dipahami lewat cerita mitologis. “Akan tetapi di zaman sekarang, kita bisa tahu bahwa hantaman romansa dapat dijelaskan sebagian oleh biokimia,” ucap Carrol.
Carrol menjelaskan, tanda-tanda yang kerap muncul saat jatuh cinta—seperti jantung berdebar cepat hingga membuat seseorang terengah-engah, gemetar, dan diliputi kerinduan untuk bersama orang yang dikasihi—berkaitan dengan meningkatnya bahan kimia dan hormon tertentu di otak dan darah. Salah satunya adalah PEA (phenylethylamine), amfetamin alami yang juga ditemukan dalam cokelat dan ganja.
Selain PEA, perasaan cinta juga dipengaruhi endorfin yang meningkatkan kenikmatan sekaligus mengurangi rasa sakit. Ada pula oksitosin, hormon yang mendorong rasa terikat dan keinginan untuk memeluk orang terkasih.
Menurut Carrol, kombinasi berbagai zat tersebut dapat membuat sistem tubuh berada dalam kondisi euforia dan menghasilkan energi yang luar biasa. “Semua ini membuat sistem tubuh kita euforia dan menghasilkan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya, tidur dan makan tampak tidak penting lagi,” ungkapnya.
Dampaknya tidak berhenti pada reaksi fisik. Carrol menambahkan, jatuh cinta juga dapat mengubah cara seseorang memandang pasangannya. “Perspektif kita menjadi sangat miring, sehingga kita hanya melihat apa yang baik dan indah pada kekasih kita, dan kita buta terhadap yang lainnya,” pungkasnya.

