Setiap kali Sơn Tùng M-TP melakukan comeback, perilisan karyanya umumnya dipersiapkan dan diumumkan dengan cermat beberapa hari sebelumnya. Video musiknya kerap memicu perhatian besar dan meraih jutaan penonton dalam waktu singkat.
Di tengah arus perhatian tersebut, sejumlah artis domestik justru memilih merilis karya pada waktu yang sama. Langkah ini kerap dianggap berisiko karena berpotensi “tenggelam” oleh trafik besar yang dibawa Sơn Tùng. Namun, dalam praktiknya, perilisan serentak juga bisa menjadi strategi yang diperhitungkan, terutama untuk mengejar performa penayangan di YouTube.
YouTube telah lama menjadi platform utama distribusi video musik bagi artis domestik. Selama bertahun-tahun, indikator seperti posisi di daftar Trending Teratas (yang kini tidak lagi dibatasi) atau jumlah penayangan pada hari pertama sering dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan rilis. Dalam konteks ini, merilis video musik berdekatan dengan momen trafik tinggi dapat memberi keuntungan dari sisi algoritma distribusi dan besarnya volume penonton yang aktif pada saat bersamaan.
Menurut panduan resmi kreator YouTube, jumlah pengguna yang aktif secara bersamaan dapat berubah-ubah. Rilisan Sơn Tùng disebut kerap menarik ratusan ribu hingga jutaan penonton domestik yang mengakses platform pada waktu yang sama. Peristiwa semacam ini, yang dikenal sebagai Acara Unggulan (Tentpole Events), dapat membuat total trafik dari satu negara meningkat tajam.
YouTube juga menyarankan kreator yang kurang dikenal untuk memanfaatkan lonjakan pengguna tersebut dengan menjadwalkan perilisan video yang terkait dengan topik yang sedang ramai, sehingga berpeluang ikut terdorong oleh arus penonton dari acara utama. Di sisi lain, menurut Cristos Goodrow, Wakil Presiden Teknik di YouTube, platform tersebut berupaya memperpanjang Waktu Tonton Sesi. Artinya, ketika banyak pengguna menonton satu konten besar, sistem rekomendasi akan mencari dan menampilkan konten relevan agar pengguna tetap berada di aplikasi.
Dokumen yang tersedia untuk umum menyebutkan bahwa mekanisme pemilihan, rekomendasi, dan distribusi video di YouTube melibatkan rumus matematika kompleks dengan banyak parameter. Secara garis besar, platform menjalankan dua tahap utama: mengidentifikasi kandidat video dan memberi peringkat. Faktor seperti relevansi, CTR (rasio klik-tayang), dan rasio penayangan menjadi pembobot penting dalam proses tersebut.
Bagi artis dengan metrik yang lemah saat merilis karya secara mandiri, ada tantangan yang sering disebut sebagai “awal yang dingin”. Karena minim data interaksi historis, algoritma harus menebak audiens yang tepat dengan mendistribusikan video uji secara lebih acak. Jika hasil uji menunjukkan CTR rendah, distribusi dapat cepat dihentikan sehingga video berisiko sulit berkembang.
Dalam kondisi itu, perilisan serentak dengan konten yang memiliki karakteristik serupa—misalnya sama-sama video musik dari artis Vietnam—dapat menciptakan domain data yang lebih mudah dipetakan oleh algoritma. Dengan adanya keterkaitan konteks dan lonjakan aktivitas pengguna pada saat yang sama, video lain berpeluang ikut masuk ke tahap pemeringkatan untuk distribusi yang lebih luas.
Meski demikian, strategi “merilis bersamaan dengan Sơn Tùng” tidak selalu menghasilkan dampak yang sama. Pola ini disebut telah muncul secara konsisten selama sekitar delapan tahun terakhir, dengan hasil yang bervariasi.
Salah satu contoh paling menonjol adalah lagu Bích Phương berjudul “Bùa Yêu” (Mantra Cinta), yang dirilis tepat tengah malam pada 12 Mei 2018 bersamaan dengan “Chạy Ngay Đi” (Lari Segera) milik Sơn Tùng. Saat itu, “Bùa Yêu” mampu bersaing di tangga lagu YouTube dan mencapai peringkat nomor 2 dalam daftar trending global. Lagu tersebut juga disebut menjadi hit terbesar bagi penyanyi perempuan asal Quảng Ninh itu.
Strategi serupa kembali digunakan Bích Phương pada momen “Super Friday” 8 Maret 2024, ketika ia merilis video musik “Nâng Chén Tiêu Sầu” (Mengangkat Cangkir untuk Menghilangkan Kesedihan) bersamaan dengan “Chúng Ta Của Tương Lai” (Masa Depan Kita) milik Sơn Tùng. Namun kali ini, lebih banyak artis lain juga memilih tanggal rilis yang sama, termasuk Suboi (“Đầu Thiên Hạ”), Cao Thái Sơn (“Chẳng Sao Cả”), Phúc Du (“Để Cho Anh Của”), dan MCK (“Không Quan Trọng”). Meski ramai, tidak semua video musik tersebut meraih kesuksesan penonton seperti “Bùa Yêu”.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilisan bersamaan dengan artis bertaraf trafik besar dapat menjadi strategi untuk memanfaatkan dinamika algoritma dan lonjakan penonton, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada respons audiens dan performa metrik video masing-masing.