Kerajaan-kerajaan Islam memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, termasuk dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Sejumlah kerajaan yang kerap disebut dalam perjalanan sejarah tersebut antara lain Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Mataram.
Dalam buku Kerajaan Islam di Jawa karya Alik Al Adhim (2019:7), Islam diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Pada masa itu, ajaran Islam berkembang pesat melalui berbagai jalur, seperti perdagangan, kesenian, pernikahan, dan tasawuf.
Jejak kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dapat ditelusuri melalui beragam peninggalan seni bercorak Islam. Salah satunya adalah seni sastra yang banyak ditemukan di wilayah Jawa dan Sumatera. Mengacu pada buku Seri IPS Sejarah karya Drs. Prawoto, M.Pd. (2006:97-99), terdapat beberapa jenis seni sastra peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia.
Babad
Babad merupakan kisahan berbahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, Sasak, dan Madura yang berisi sejarah. Beberapa contoh yang dikenal antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Demak, dan Babad Gianti.
Syair
Syair menjadi salah satu karya sastra yang masih populer hingga kini. Bentuknya berupa sajak dalam satu bait yang terdiri dari empat baris, dengan bunyi akhir yang sama pada setiap baris. Salah satu contohnya adalah Syair Sidang Fakir.
Suluk
Suluk disebut sebagai karya sastra Kerajaan Islam tertua di Tanah Air. Karya ini memuat ajaran tasawuf dan identik dengan wali. Contohnya antara lain Suluk Syarab Al Asyiqin dan Suluk Sukarsam.
Hikayat
Hikayat merupakan karya sastra Melayu yang menampilkan dongeng atau cerita yang melibatkan tokoh sejarah. Hikayat dibaca untuk hiburan, membangkitkan semangat, atau meramaikan pesta. Beberapa contoh yang dikenal ialah Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Amir Hamzah.

