Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tidak akan tunduk pada ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menegaskan hak Iran untuk merespons serangan yang diterimanya. Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan ABC News, Kamis (5/3/2026).
“Tidak ada pemimpin negara mana pun yang berhak melarang Iran merespons serangan,” kata Araghchi. Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menulis di platform Truth Social bahwa AS akan menghantam Iran dengan kekuatan “yang belum pernah terlihat sebelumnya” jika Teheran melakukan pembalasan.
Araghchi juga mengungkapkan kekecewaan terhadap jalur diplomasi dengan Washington. Ia menyebut perundingan nuklir dalam beberapa tahun terakhir sebagai “pengalaman yang sangat pahit”, terlebih karena serangan pada Sabtu (28/2/2026) terjadi ketika Iran mengklaim proses diplomatik di Jenewa sedang menunjukkan kemajuan.
Menurut Araghchi, Israel dan sejumlah penasihat Trump telah “menyeret” Presiden AS ke dalam perang, padahal ia menilai peluang kesepakatan damai sempat terbuka setelah pertemuan Kamis (26/2). Ia menuding faksi garis keras di lingkaran Trump menyabotase upaya perdamaian demi mendorong agenda yang ia sebut “Israel First”.
Di sisi militer, Araghchi mengakui Iran kehilangan beberapa komandan tinggi akibat serangan udara skala besar AS-Israel. Namun ia membantah klaim Trump bahwa kemampuan militer Iran telah hancur. “Kami kehilangan komandan, itu fakta. Tapi fakta lainnya adalah tidak ada yang berubah dalam kemampuan militer kami,” ujarnya.
Araghchi juga menyatakan militer Iran kini lebih siap dan dapat melancarkan serangan balasan lebih cepat dibandingkan saat konflik Juni 2025. Sementara itu, Trump mengklaim operasi tersebut menewaskan 48 pejabat tinggi Iran, menenggelamkan sembilan kapal perang, serta menghancurkan markas besar angkatan laut Iran. Di pihak AS, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi tiga personel militer tewas dan lima lainnya mengalami luka parah.
Araghchi turut menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang membela agresi tersebut. Melalui akun X pribadinya, Araghchi menuding Rubio secara tidak langsung mengakui bahwa AS memasuki “perang pilihan” demi kepentingan Israel, bukan karena ancaman nyata dari Iran. “Tuan Rubio mengakui apa yang kita semua ketahui: AS telah memasuki perang atas nama Israel. Tidak pernah ada yang disebut ‘ancaman’ Iran,” tulis Araghchi.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut pertumpahan darah yang terjadi menjadi tanggung jawab para pendukung Israel dan menyerukan warga AS untuk “merebut kembali negara mereka” dari kebijakan yang ia anggap merugikan. Situasi ini berlangsung di tengah kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Sabtu (28/2/2026), sementara Teheran menegaskan kesiapan untuk menggunakan hak membela diri.

