BERITA TERKINI
Museum Musik Indonesia di Malang Ramai Dikunjungi Gen Z, Musik Lawas Kembali Dilirik

Museum Musik Indonesia di Malang Ramai Dikunjungi Gen Z, Musik Lawas Kembali Dilirik

Di tengah dominasi platform streaming dan budaya digital yang serba cepat, minat Generasi Z terhadap musik lawas justru menguat. Kaset pita, piringan hitam, CD jadul, hingga poster retro kembali dilirik. Tren itu terlihat di Museum Musik Indonesia (MMI) di Kota Malang, yang belakangan semakin ramai dikunjungi generasi muda.

Berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana, museum ini menawarkan pengalaman berbeda dari anggapan umum tentang museum sebagai ruang sunyi yang ditinggalkan zaman. MMI menghadirkan suasana nostalgia sekaligus ruang kreatif bagi anak muda untuk mengenal sejarah musik Indonesia secara lebih dekat.

MMI menyimpan ribuan koleksi dari berbagai era, mulai dari piringan hitam, kaset pita, CD, alat musik klasik, hingga arsip visual musisi legendaris. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat memutar musik dan mencoba pengalaman mendengarkan melalui perangkat analog. Bagi Gen Z, pengalaman ini memberi sensasi berbeda dibanding mendengar lagu lewat aplikasi digital, karena menghadirkan nilai emosional, sejarah, dan kesan autentik.

Fenomena tersebut menunjukkan era digital tidak sepenuhnya menghapus budaya analog. Media sosial justru ikut memicu kebangkitan minat pada warisan budaya lama. Konten bertema vinyl, kaset lawas, turntable, hingga lagu-lagu era 1980–1990-an banyak beredar di TikTok, Instagram, dan YouTube. Budaya retro kemudian berkembang menjadi gaya hidup yang dianggap lebih artistik, estetik, dan personal.

Di sisi lain, tren ini memperlihatkan Gen Z tidak hanya dikenal sebagai generasi digital, tetapi juga pencari pengalaman bermakna. Di tengah banjir informasi dan konten cepat, muncul kerinduan pada ruang budaya yang lebih nyata. Musik tidak semata menjadi hiburan, tetapi juga pintu untuk memahami cerita, sejarah, dan perjalanan budaya di baliknya.

Dalam konteks itu, museum dinilai menemukan relevansi baru. Museum tidak lagi cukup diposisikan sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan perlu menjadi ruang interaktif, kreatif, dan edukatif yang dekat dengan gaya hidup generasi muda. Pengalaman menjadi aspek penting, bukan sekadar pajangan.

MMI dinilai mulai menangkap perubahan ini melalui ruang musik interaktif, koleksi unik, dan atmosfer nostalgia. Sebagian pengunjung datang untuk belajar sejarah musik, sementara yang lain memanfaatkannya untuk membuat konten kreatif, dokumentasi media sosial, atau mencari inspirasi seni.

Fenomena meningkatnya ketertarikan pada museum juga sejalan dengan perubahan pola konsumsi budaya. Ketika penggunaan internet terus meningkat, muncul kecenderungan baru di kalangan anak muda untuk mencari pengalaman langsung atau experiential culture: hadir secara fisik di ruang budaya yang memiliki nilai historis sekaligus daya tarik visual.

Karena itu, museum modern dipandang perlu memadukan kekuatan fisik dan digital. Langkah seperti digitalisasi arsip musik, promosi melalui media sosial, pameran multimedia, serta kolaborasi dengan komunitas kreatif dianggap penting agar museum tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Malang disebut memiliki peluang besar untuk mengembangkan arah tersebut. Sebagai kota pendidikan dan kota kreatif, Malang memiliki ekosistem anak muda yang kuat. Kehadiran Museum Musik Indonesia dapat menjadi simpul pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus destinasi wisata edukatif.

Pada akhirnya, meningkatnya kunjungan Gen Z menjadi sinyal bahwa ketertarikan anak muda terhadap akar budaya masih ada. Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, mereka tetap membutuhkan ruang refleksi, nostalgia, dan pengalaman budaya yang autentik. Museum pun berpotensi menjadi jembatan antara masa lalu, teknologi masa kini, dan identitas generasi masa depan.