BERITA TERKINI
Museum Perkebunan Indonesia di Medan Padukan Sejarah, Seni, dan Teknologi

Museum Perkebunan Indonesia di Medan Padukan Sejarah, Seni, dan Teknologi

Museum Perkebunan Indonesia di Jalan Brigjen Katamso, Medan, menawarkan cara berbeda dalam menyajikan sejarah perkebunan. Alih-alih menumpuk arsip dan teks panjang, museum ini memadukan narasi sejarah dengan seni kontemporer serta teknologi untuk menghadirkan pengalaman yang lebih mudah diakses pengunjung.

Salah satu pendekatan yang ditampilkan adalah komik bersuara berjudul Sukma Hilang karya Masdar. Komik ini mengangkat kisah kehidupan petani dan buruh di kawasan Deli, wilayah yang pernah dikenal luas sebagai penghasil tembakau berkualitas. Pengunjung dapat menyimak cerita melalui bantuan headset, sehingga pengalaman membaca tidak hanya bergantung pada visual, tetapi juga didukung elemen audio.

Di ruang pamer lain, museum menampilkan instalasi seni bertajuk Artemis & Aphrodite: Melebur dengan Ingatan Sang Daun Emas (2025). Instalasi ini menggunakan panel tekstil transparan berlapis yang menelusuri jejak tembakau Deli dari masa kolonial hingga perubahan sosial di lingkungan perkebunan modern. Karya tersebut juga dirancang agar dapat dinikmati melalui sentuhan, memperkuat pendekatan taktil dalam memahami pameran.

Pengalaman berbasis suara hadir melalui instalasi Catch The Sound (2025) karya Wasis Tanata. Komposisi berdurasi tujuh menit ini menyajikan dua suasana berbeda: lima menit pertama menghadirkan lanskap bunyi alam seperti kicau burung, aliran air, dan hembusan angin; sementara dua menit terakhir beralih pada deru mesin panen sawit serta suara pembuatan dodos yang beradu dengan logam. Pergeseran bunyi itu menggambarkan perubahan dari suasana ekologis menuju mekanisasi dalam aktivitas perkebunan.

Museum ini juga melibatkan indera penciuman melalui sensor aroma yang ditempatkan di beberapa titik pameran. Pengunjung dapat mencium aroma sejumlah komoditas perkebunan, seperti tembakau, kakao, kopi, kelapa sawit, tebu, dan lainnya. Kehadiran aroma dimaksudkan untuk menghadirkan gambaran yang lebih konkret tentang komoditas yang selama ini kerap dikenali melalui gambar atau teks.

Di tengah penggunaan teknologi dan instalasi seni, peran pemandu menjadi bagian penting dalam membantu pengunjung memahami konteks pameran. Salah satu pemandu, Fiki, digambarkan hadir dengan pendekatan yang ramah dan komunikatif, sehingga pengalaman berkunjung tidak berhenti pada melihat karya, tetapi juga memahami rangkaian cerita yang menyertainya.

Melalui berbagai pendekatan tersebut, Museum Perkebunan Indonesia di Medan menampilkan sejarah perkebunan bukan semata sebagai catatan produksi dan komoditas, melainkan sebagai narasi yang menyangkut perubahan sosial, kerja manusia, dan transformasi zaman. Model penyajian yang menggabungkan sejarah, seni, dan teknologi ini memperlihatkan upaya museum untuk menjembatani masa lalu dengan cara yang lebih dekat bagi pengunjung masa kini.