Program seni khusus “Gema Tanah Air” yang digelar pada 28 April di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, menjadi pembuka rangkaian program politik dan seni “Bangga Menjadi Orang Vietnam” tahun 2026. Acara yang berada di bawah arahan Departemen Propaganda dan Mobilisasi Massa Pusat itu disebut menarik hampir 40.000 peserta di lokasi, serta menjangkau jutaan pemirsa melalui televisi dan platform digital.
Antusiasme penonton terlihat sejak awal. Banyak orang datang sangat pagi meski cuaca siang terik, menghadirkan suasana yang mengingatkan pada konser pop dan fenomena “mengikuti idola”. Dalam konteks ini, generasi muda dinilai tidak lagi merasa “asing” dengan musik yang berorientasi politik, terutama ketika disajikan dengan pendekatan artistik yang lebih dekat dengan selera mereka.
“Gema Tanah Air” memilih cara bercerita yang menampilkan kembali sejarah dan identitas nasional melalui bahasa artistik kontemporer. Program ini menonjol lewat perpaduan musik semi-klasik, simfoni rock, dan instrumen tradisional, yang menciptakan ruang musikal megah sekaligus modern.
Selain “Gema Tanah Air”, sejumlah program seni nasional lain selama libur 30 April juga mencatat kehadiran penonton yang padat, dengan dominasi anak muda. Di antaranya pertunjukan langsung “Kejayaan Vietnam” dan Karnaval Ha Long 2026 bertema “Keajaiban yang Bersinar di Era Baru”, yang berlangsung pada 30 April di Lapangan 30 Oktober.
Untuk waktu yang cukup lama, istilah “musik politik” kerap diasosiasikan anak muda dengan kesan kering dan bernuansa propaganda, bukan sebagai karya yang menyentuh emosi. Namun, beberapa tahun terakhir, persepsi itu berubah cepat. Dari remix yang ramai di media sosial hingga lagu-lagu bertema tanah air yang menjadi tren, kebangkitan ini digambarkan tidak datang karena paksaan, melainkan muncul dari kebutuhan anak muda akan identitas, kebanggaan, dan koneksi komunitas.
Perubahan juga terlihat pada cara para musisi mengolah materi. Jika sebelumnya pertunjukan cenderung mengikuti pola yang dianggap familiar—lirik menyerupai slogan dan harmoni tradisional—generasi seniman baru disebut mengubah pendekatan dengan memasukkan unsur folk ke dalam pop, EDM, rap, dan indie. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari dan menanamkan emosi personal ke dalam semangat nasional.
Sejumlah lagu seperti “Continuing the Story of Peace” dan “The Country Full of Joy” yang diaransemen ulang dengan gaya modern di TikTok disebut meraih jutaan penonton. Sementara itu, karya yang menggabungkan musik tradisional dan kontemporer dari sejumlah artis seperti Hoa Minzy, Den, dan Hoang Thuy Linh juga terus memberi dampak kuat pada penonton muda.
Dalam lanskap media sosial, kebanggaan nasional hadir dalam bentuk yang lebih dekat dan sehari-hari. Ia dapat muncul dari musik latar Vietnam dalam video perjalanan, tampilan bendera merah berbintang kuning di konser internasional, hingga momen ribuan anak muda bernyanyi bersama lagu tentang tanah air.
Generasi ini dinilai mengekspresikan patriotisme secara lebih natural dan personal. Mereka tidak ragu mengenakan ao dai yang dimodernisasi, menikmati musik rakyat yang diaransemen ulang, merasa bangga ketika artis Vietnam tampil di panggung internasional, atau terharu oleh kisah sejarah yang dikemas dengan bahasa modern.
Media sosial turut mendorong pergeseran ini dengan menjadikan patriotisme bagian dari pengalaman budaya populer, tidak semata terbatas pada acara perayaan. Dalam “Gema Tanah Air”, misalnya, program dibuka dengan pertunjukan yang menampilkan ratusan pemain, tata cahaya, efek asap, dan musik yang membangun kesan panggung. Salah satu puncak acara adalah pembentukan bunga lotus dan peta Vietnam oleh para seniman sebagai simbol persatuan nasional. Menjelang akhir, suasana bergeser lebih modern dan dinamis melalui pertunjukan kontemporer dan aksi band rock yang membentuk klimaks emosional.
Di sisi lain, musik juga dipandang sebagai bagian dari “kekuatan lunak” budaya. Sejumlah negara Asia telah lama menunjukkan pengaruh budaya populer melalui produk hiburan—Korea Selatan dengan K-pop, Jepang dengan anime, dan Tiongkok dengan investasi besar pada hiburan tradisional. Vietnam disebut mulai menempatkan musik sebagai salah satu jalur untuk memperluas pengenalan budaya.
Ketika lagu yang memadukan unsur budaya Vietnam meraih puluhan hingga ratusan juta penayangan, atau ketika ao dai, gendang tradisional, dan lagu rakyat tampil dalam video musik modern, hal itu dipandang bukan sekadar hiburan, melainkan cara agar budaya Vietnam diakui dan tersebar lebih luas. Para artis muda juga dinilai memahami bahwa penonton internasional tidak mencari tiruan musik AS-Inggris atau K-pop, melainkan keunikan identitas budaya.
Karena itu, tren menggabungkan unsur tradisional ke dalam musik pop dipandang bukan hanya upaya menciptakan konten viral, tetapi juga bagian dari pembentukan identitas musik Vietnam di era globalisasi. Lebih luas, musik patriotik modern disebut dapat membantu membangun koneksi sosial yang positif, terutama di tengah media sosial yang kerap dipenuhi kontroversi, narasi negatif, dan polarisasi.