Sơn Tùng M-TP kembali menjadi pusat perhatian lewat proyek musik terbarunya, “Come My Way”, setelah 24 bulan sejak “Don’t Break My Heart” dan enam tahun sejak kolaborasinya dengan Snoop Dogg. Dalam 14 jam, video musik tersebut mendekati 10 juta penayangan di YouTube dan sempat menempati peringkat nomor 1 tangga YouTube Music Video global pada 28 Mei. Capaian itu kembali menegaskan daya tariknya di Vpop, setidaknya dari sisi gaung media dan kemampuan menciptakan dampak massal.
Namun, di luar performa penayangan, “Come My Way” memantik perdebatan luas. Banyak penonton menyoroti kepadatan unsur budaya Vietnam yang ditampilkan dalam video musik, yang memicu berbagai upaya “membongkar” simbol-simbolnya di media sosial. Di saat yang sama, tidak sedikit kritik muncul karena dinilai terlalu banyak memasukkan ikon budaya ke dalam sebuah lagu pop-hip-hop bertema cinta.
Secara bentuk, video musik ini tidak menghadirkan alur cerita yang koheren dan nyaris menanggalkan narasi. Sebagai gantinya, “Come My Way” bergerak seperti rangkaian gambar yang menumpuk berbagai lapisan simbol: dari budaya Đông Sơn melalui burung Lạc, motif naga Dinasti Lý, elemen folklor, hingga lanskap dan ingatan nasional seperti Tràng An serta Khuê Văn Các.
Sejak awal, visual menonjol ditampilkan ketika citra Sơn Tùng M-TP muncul bertahap di punggung burung Lạc dengan latar lanskap perkotaan Los Angeles. Burung Lạc kerap dikaitkan dengan gendang perunggu Đông Sơn dan dipandang sebagai simbol identitas nasional serta semangat kuno Vietnam. Kontras antara ikon budaya Vietnam kuno dan latar modern Barat membangun suasana mistis yang mendorong dialog visual antara Vietnam dan dunia.
Detail lain yang disorot adalah ornamen naga Dinasti Lý pada kerah dan lengan busana yang dikenakan Sơn Tùng M-TP, yang merujuk pada seni Vietnam abad pertengahan. Sementara itu, topeng tradisional Xuân Phả—yang berulang kali muncul dalam video musik dan materi pemasaran—dianggap sebagai elemen yang menyiratkan ambisi membawa unsur budaya Vietnam ke ranah global.
Dalam konteks sejarah, Dr. Hoang Minh Tuong menulis di Jurnal Warisan Budaya bahwa Xuân Phả dahulu digunakan untuk merefleksikan posisi Đại Việt dan hubungan diplomatiknya, melalui adegan negara-negara tetangga datang memberi penghormatan, menari, bernyanyi, serta memberi selamat kepada raja dan istana setelah kemenangan atau dalam upacara besar. Dari sana, Xuân Phả dipahami sebagai pesan tentang bangsa Đại Việt yang merdeka, mandiri, dan memiliki daya tarik di kawasan.
Selain itu, “Come My Way” menyisipkan beragam elemen rakyat dan lanskap Vietnam lain, seperti pacuan banteng Tujuh Gunung (An Giang), sirkus sepeda motor terbang di Vietnam Barat Daya, patung kerbau giok yang dimodifikasi secara mekanis, Tràng An, hingga versi Khuê Văn Các di Pagoda Bái Đính.
Video musik ini juga menampilkan penghormatan pada sejumlah karya seni rupa Vietnam abad ke-20. Adegan Sơn Tùng M-TP berdiri sendiri di tengah lanskap pegunungan luas mengingatkan pada “Mengenang Sore Hari di Vietnam Barat Laut” (1955) karya Phan Kế An. Setelah itu, video membangkitkan “Tanah dan Air” (1978) karya Nguyễn Quang Thọ yang menyorot relasi erat dua elemen dasar kehidupan Vietnam. Karya lain yang dirujuk adalah “Gunung Merah dan Kuda Putih” (1986) karya Nguyen Van Da, serta “Jalan Hang Mam” (1984) karya Bùi Xuân Phái yang menggambarkan Hanoi tua yang tenang namun tetap hidup.
Di bawah tangan Phuong Vu, elemen-elemen inti dari lukisan-lukisan tersebut—warna, komposisi, garis, ruang, dan simbolisme—disusun ulang menjadi ruang visual yang dinamis. Video musik membentuk ritme adegan berkelanjutan sehingga penonton berpindah dari satu citra ke citra lain tanpa jeda yang tegas.
Meski dipuji karena investasi visualnya, “Come My Way” tetap menuai kritik karena dianggap berlebihan. Banyak simbol budaya dinilai hadir tanpa hubungan yang cukup jelas untuk membangun pesan utuh. Gambar-gambar yang kuat secara individual, menurut kritik, justru berisiko tampak bertumpuk dan berlebihan ketika disatukan.
Ketiadaan narasi yang koheren juga menjadi sorotan. Alih-alih menuntun penonton melalui perjalanan emosional dengan awal, perkembangan, dan klimaks, video dinilai menyerupai potongan adegan yang terputus dan lebih berorientasi pada daya pikat visual. Dampaknya, sebagian penonton mengaku kesulitan menangkap cerita yang ingin disampaikan, termasuk mengapa simbol-simbol budaya tertentu dimasukkan.
Perdebatan turut dipicu oleh ketidaksesuaian antara audio dan visual. Lagunya merupakan lagu cinta berbahasa Inggris yang berputar pada ajakan, ketertarikan, dan nuansa “menaklukkan” orang lain. Sementara visualnya tampil sebagai presentasi budaya berskala besar yang menonjolkan warisan, identitas, dan simbol rakyat. Ketimpangan ini memunculkan pertanyaan tentang kesesuaian konsep dan menghasilkan respons yang beragam.
Salah satu detail yang paling diperdebatkan adalah adegan Sơn Tùng M-TP berdiri di atas model burung Lạc. Bagi sebagian penonton, tindakan itu dianggap kurang pantas karena dinilai tidak menempatkan burung Lạc pada posisi terhormat sesuai makna budayanya. Dalam wawancara dengan Tri Thức - Znews, Profesor Madya Dr. Tran Huu Son, Direktur Institut Penelitian Budaya dan Pariwisata Terapan, menyebut burung Lạc sebagai simbol bersama yang diidamkan seluruh bangsa, sehingga adegan tersebut dinilai berpengaruh terhadap pemirsa muda. Ia menekankan tanggung jawab seniman berpengaruh untuk menyebarkan patriotisme dan identitas nasional, bukan tindakan yang memicu penilaian sebaliknya.
Sementara itu, peneliti cerita rakyat Nguyen Hung Vi menilai adegan tersebut sebagai kesalahan kecil yang perlu dipelajari tim Sơn Tùng. Ia berpendapat penyanyi seharusnya tidak bertindak dengan cara yang dianggap tidak menghormati ikon budaya, tetapi juga menekankan bahwa tindakan itu tidak semestinya berujung pada kecaman berlebihan.
Di luar isu simbol budaya, sebagian penonton juga menyoroti kemiripan beberapa adegan “Come My Way” dengan “Open Your Eyes”, karya yang sebelumnya dirilis MONO. Kesamaan yang disebut antara lain cara membangun ruang visual yang luas, komposisi tokoh berdiri di tengah alam, pergerakan kamera yang lambat, serta palet warna yang mistis. Namun, ada pula pandangan yang menyatakan kemiripan tersebut lebih berada pada persepsi visual dan gaya pementasan, dan belum cukup untuk menyimpulkan plagiarisme, mengingat pendekatan alam, simbolisme, dan visual performatif lazim dalam produksi musik bergaya film seni.
Dengan respons yang terbelah antara pujian dan kritik, “Come My Way” menegaskan posisi Sơn Tùng M-TP sebagai figur yang mampu memicu percakapan besar. Di saat video musiknya diapresiasi karena keberanian mengolah simbol budaya dan seni rupa, perdebatan juga menguat mengenai batas kepantasan, koherensi pesan, serta kesesuaian antara tema lagu dan presentasi visual yang dipilih.