BERITA TERKINI
MV “Come My Way” Sơn Tùng M-TP Tuai Pujian dan Kontroversi soal Penggunaan Simbol Budaya

MV “Come My Way” Sơn Tùng M-TP Tuai Pujian dan Kontroversi soal Penggunaan Simbol Budaya

Video musik terbaru Sơn Tùng M-TP berjudul “Come My Way” yang dirilis pada malam 28 Mei langsung menjadi perbincangan di media sosial. Karya ini menandai kembalinya Sơn Tùng dengan produk visual berskala besar yang turut menampilkan bintang internasional Tyga. Di tengah sambutan luas, MV tersebut memunculkan diskusi tentang upaya memperkenalkan budaya Vietnam melalui musik populer, sekaligus memantik perdebatan mengenai batas kreativitas saat bersinggungan dengan simbol budaya yang dianggap sakral.

Salah satu aspek yang paling menonjol dari “Come My Way” adalah penggabungan musik kontemporer dengan seni rupa tradisional. Video musik ini menampilkan gambar dari empat karya lukisan pernis dan cat minyak yang berasal dari koleksi Museum Seni Rupa Vietnam, yakni “Mengenang Sore Hari di Vietnam Barat Laut” karya Phan Ke An, “Tanah dan Air” karya Nguyen Quang Tho, “Gunung Merah dan Kuda Putih” karya Nguyen Van Da, serta “Jalan Saus Ikan” karya Bui Xuan Phai.

Direktur Museum Seni Rupa Vietnam, Nguyen Anh Minh, menilai gagasan kreatif tim Sơn Tùng M-TP sebagai pendekatan inovatif dalam penyebaran budaya. Menurutnya, menggabungkan karya seni dengan musik populer dapat memberi pengaruh kuat dalam kehidupan kontemporer dan membantu publik mengakses seni dengan cara yang lebih mudah, sekaligus memperkenalkan seni Vietnam kepada audiens internasional.

Nguyen Anh Minh juga menyebut arah tersebut sejalan dengan upaya museum selama bertahun-tahun yang rutin menggelar kegiatan untuk menghubungkan seni rupa dengan bidang seni lain, seperti musik, konser musik kamar, simfoni, dan berbagai pertunjukan di ruang museum. Ia memandang pilihan seorang seniman muda dan berpengaruh seperti Sơn Tùng M-TP untuk menggunakan seni rupa sebagai materi kreatif sebagai pertanda positif, karena menunjukkan seni tradisional dapat didekati melalui cara baru yang lebih dekat dengan selera generasi muda.

Namun, MV “Come My Way” juga menuai kontroversi. Sejumlah kritik muncul, mulai dari pengucapan bahasa Inggris yang dinilai kurang tepat, pilihan kostum yang dianggap tidak sesuai, hingga adegan yang paling disorot: Sơn Tùng berdiri di atas model burung Lac mitos pada bagian awal video.

Tim produksi menempatkan simbol burung Lac dan gendang perunggu Dong Son dalam latar Los Angeles (Amerika Serikat) sebagai representasi pertukaran budaya dan integrasi internasional. Akan tetapi, burung Lac dipandang sebagai simbol suci yang telah ada sejak ribuan tahun lalu dan melambangkan aspirasi kebebasan serta vitalitas abadi masyarakat Vietnam kuno. Karena itu, adegan berdiri di atas model burung tersebut membuat sebagian penonton menilai tindakan itu sebagai bentuk penghinaan budaya.

Di sisi lain, sebagian penonton yang mendukung karya ini berpendapat bahwa dalam bahasa seni visual, berdiri di atas simbol atau maskot tidak otomatis bermakna merendahkan atau menginjak. Mereka membandingkannya dengan representasi mitologis seperti menunggang naga atau berdiri di atas elang, yang dapat dimaknai sebagai ekspresi aspirasi untuk menaklukkan, memimpin, dan menyertai kekuatan budaya nasional.

Selain perdebatan soal unsur sejarah dan budaya, MV “Come My Way” yang disutradarai Phuong Vu dan diproduksi tim AntiantiArt juga mendapat tanggapan beragam terkait gaya visual. Beberapa penonton mengkritik sejumlah segmen yang dianggap “mirip” dengan MV “Open Your Eyes” milik MONO, terutama dalam penempatan karakter di ruang alam yang luas, penggunaan sudut lebar, gerak lambat, dan nuansa film seni yang mistis. Sementara itu, sebagian penggemar menilai kemiripan tersebut bisa muncul karena keduanya memiliki “DNA visual” yang serupa, bukan karena menyalin secara langsung.

Di tengah perdebatan, Nguyen Anh Minh menyatakan tidak ingin mengomentari detail spesifik karena setiap seniman memiliki bahasa ekspresi dan cara kreatifnya sendiri. Ia menilai “Come My Way” menunjukkan ambisi Sơn Tùng M-TP untuk menghubungkan musik dengan unsur tradisional. Terlepas dari pro dan kontra mengenai penempatan simbol budaya serta kesamaan visual, ia menilai karya tersebut telah membuka dialog antara seni kontemporer dan warisan nasional, sekaligus mendorong minat publik untuk membahas dan menelusuri sejarah seni Vietnam, termasuk asal-usul burung Lac.