Pematung Nguyen Kim Xuan kembali menyiapkan karya untuk menyambut Tahun Kuda 2026. Bagi seniman yang dikenal lewat monumen Saint Gióng itu, kuda bukan sekadar objek artistik, melainkan citra yang dekat dengan kehidupan manusia—tentang vitalitas, kekuatan, kebebasan, dan karakter Vietnam. Kedatangan musim semi yang ia wujudkan melalui figur kuda juga menjadi ruang perenungan atas perjalanan hidupnya sendiri.
Di bengkelnya, aroma tanah, kayu, cat, hingga perunggu bercampur menjadi suasana khas keseharian seorang pematung. Jejak tangan dan emosi Nguyen Kim Xuan tampak dalam berbagai skala karya: dari patung Saint Gióng yang berdiri di puncak gunung Sóc Sơn hingga patung-patung kecil yang menghuni sudut taman. Di ruang kerja itu, kuda hadir sebagai hewan suci sekaligus sahabat karib.
Nguyen Kim Xuan dikenal tidak membatasi diri pada satu material. Ia bereksperimen dengan tembaga, batu, keramik, komposit, kayu, bahkan besi bekas, karena meyakini setiap bahan memiliki “jiwa” sendiri. Baginya, serpihan terakota yang pecah atau noda karat yang muncul acak dapat memunculkan imaji luka kuda perang setelah pertempuran.
Memilih keheningan sebagai jalan kreatif, ia jarang berbicara tentang dirinya. Karya-karyanya, menurutnya, yang berbicara ketika telah bertemu publik. Sejumlah patung kuda ia hadirkan dalam ragam gestur: ada yang melesat cepat, ada yang menundukkan kepala seolah menyampaikan salam kepada Ibu Pertiwi. Dalam setiap ukuran karya, ia menyisipkan filosofi tentang hidup.
Pengunjung yang datang ke halaman bengkelnya, yang dipenuhi patung-patung kuda, kerap disambut senyum sang pematung. Ia pernah berujar, “Kuda-kuda itu tidak puas; mereka menunggu musim angin berikutnya.” Kalimat itu mengisyaratkan dunia batin yang ia bangun: patung-patung seakan memiliki kehidupan sendiri, mengenal penantian dan kerinduan, sebagaimana emosi penciptanya.
Dalam budaya Vietnam, kuda kerap dikaitkan dengan pahlawan, perjalanan panjang, kebebasan, dan ambisi. Di mata Nguyen Kim Xuan, kuda juga menjadi simbol musim semi melalui gerak dan gagasan kelahiran kembali. Karena itu, setiap Tet (Tahun Baru Imlek), ia membuat karya-karya baru sebagai caranya menyambut musim semi.
Karya-karya Nguyen Kim Xuan hadir di banyak ruang budaya, dari monumen hingga museum, dari taman hingga galeri. Menjelang Tet, ia bekerja tekun dari hari ke hari, mengolah tanah liat di roda tembikar. Meski memiliki murid dari berbagai generasi, ia memilih merendah. “Guru sejati adalah Ibu Pertiwi. Kita hanya membantu bumi untuk berbicara,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, patung kuda dan manusia karyanya disebut muncul di banyak tempat, terutama di taman dan ruang pameran tanpa atribusi. Ada pula pendapat yang menyebut ia termasuk seniman yang paling banyak ditiru di dunia patung, hingga ia sendiri kadang tidak menyadari bagaimana karyanya telah “dimodifikasi”. Menanggapi hal itu, ia memilih sikap tenang. Baginya, banyaknya tiruan justru menandakan karya-karya tersebut memiliki kehidupan sendiri. Ia tidak menempuh jalur hukum dan tidak menyimpan dendam, karena meyakini keindahan tidak semestinya dibatasi oleh satu nama, melainkan dapat berkembang di tangan banyak orang.
Dari sekian banyak figur kuda yang ia pahat, lukis, dan bayangkan, Nguyen Kim Xuan menyimpan tempat khusus bagi kuda hitam pekat—gelap seperti malam sebelum fajar, memantulkan garis cahaya laksana bara yang terbawa angin. Ia memandang kuda hitam sebagai sosok yang tenang dan abadi, ia samakan dengan semangat Vietnam, dengan tanah setelah hujan, atau ladang setelah panen. Kuda, baginya, bukan hanya pejuang, tetapi juga teman dalam perjalanan panjang.
Di sudut bengkelnya di Bến Bắc, dan belakangan di Bát Tràng, ia kadang duduk diam menatap patung kuda hitam yang belum selesai: sebongkah tanah liat hitam dengan kilau tembaga samar. Dalam keheningan itu, ia merasa seolah melihat dirinya sendiri tercermin.
Nguyen Kim Xuan digambarkan memiliki pembawaan elegan khas Hanoi, dari cara menuangkan teh dan menawarkan kopi di pagi hari hingga senyum yang santai. Di usia lebih dari tujuh puluh tahun, ia menjalani hidup sederhana, menghabiskan sebagian besar waktu di bengkel dan tungku pembakaran, menunggu karya-karyanya terbentuk.
Pada hari-hari awal 2026, sambil menyeruput kopi di bengkelnya dengan cahaya menyinari patung kuda yang sedang berlari, ia mengenang proses pembuatan monumen Saint Gióng. “Saat membuat patung itu, saya berpikir patung itu harus memiliki hati, baik untuk Santo Giong maupun kudanya,” katanya. Ia bercerita tentang dua “hati” yang dibuat dengan sangat indah dan diisi emas hasil sumbangan masyarakat serta pelaku usaha. Di dalam hati Saint Gióng, ia juga menempatkan sebuah buku kecil sebagai lambang kecerdasan, semangat, dan kesetiaan kepada Tanah Air—detail yang ia sebut jarang ditemukan pada monumen lain.
Meski telah berkali-kali memahat dan melukis kuda, ia mengaku tantangannya tidak pernah berkurang. Bagian tersulit, menurutnya, adalah menghadirkan kekuatan penuh dan kesiagaan, namun tetap menjaga keanggunan dan kelincahan. Sketsa monumen Saint Gióng pun harus direvisi berkali-kali. Ia mengenang rumah keluarganya di Cửa Bắc pernah “goyah” ketika ia mengerjakan sketsa patung setinggi tiga meter. Ia juga menyebut kebanggaan dan kebahagiaan terbesarnya datang dari dorongan serta dukungan antusias para pemimpin Partai, Negara, dan Kota Hanoi.
Selain karya besar seperti Saint Gióng, Nguyen Kim Xuan juga membuat patung berskala besar yang menggambarkan Presiden Ho Chi Minh, tokoh-tokoh terkenal, dan pahlawan nasional, yang dipajang dalam berbagai proyek budaya besar di seluruh negeri. Ia juga kerap menghadiahkan patung kepada teman, murid, dan para pecinta seni. Namun di rumahnya, yang tersisa justru versi kecil patung Saint Gióng—berukuran pas untuk diletakkan di atas meja—yang ia hadiahkan kepada cucunya agar kecintaan pada kehidupan, budaya, dan semangat nasional dapat tumbuh sejak dini.
Ia mengingat momen ketika membawa cucunya ke Sóc Sơn dan berdiri di depan patung Saint Gióng di tengah kabut. Anak itu duduk tenang di antara awan putih yang berputar, lalu menyentuh dasar patung dengan tangan kecilnya. Bagi sang pematung, peristiwa itu menghadirkan luapan cinta yang menenangkan seluruh kesedihan dari tahun-tahun kerja keras dan kreativitas yang tak kenal lelah.

