Setiap tanggal 5 tiap bulan, sebuah rumah di gang kawasan Zona 18, Kelurahan Nga Bay, kembali dipenuhi suara musik dan nyanyian. Di tempat itu, Klub Musik Tradisional Selatan yang dipimpin Seniman Berjasa Nguyen Tinh berkumpul secara rutin. Sejumlah anggota bahkan menempuh jarak hingga sekitar 20 kilometer untuk hadir. Pertemuan biasanya dibuka dengan lagu Nam Xuan dan Luu Thuy Truong, sementara menjelang pulang para anggota menyanyikan penggalan Truong Tuong Tu—momen yang disebut membuat mereka merasa gembira.
Klub tersebut berdiri sekitar tahun 2004. Pada awalnya, Tinh merintisnya bersama kerabat dan orang-orang di lingkungan sekitar. Seiring waktu, kabar tentang klub menyebar dan semakin banyak orang datang untuk bersosialisasi sekaligus belajar. Latar belakang para anggota beragam, mulai dari petani, pekerja pabrik, ibu rumah tangga, pedagang, hingga guru dan pegawai negeri. Kini, setiap pertemuan dihadiri sekitar 20–30 orang.
Perjalanan membangun klub tidak selalu mulus, terutama pada masa awal ketika sulit menemukan orang yang mampu memainkan berbagai instrumen. Tanpa pengajar, keberlanjutan klub dinilai akan sulit dijaga. Karena itu, Tinh memilih belajar secara serius. Saat ayahnya masih hidup, ia mempelajari gitar dan biola dua senar. Setelah itu ia mencari guru untuk mendalami instrumen lain. Dengan latihan berkelanjutan, ia kemudian mampu memainkan beragam alat musik, di antaranya kìm, cò, sến, gitar berfret cekung, độc huyền cầm, seruling, hingga biola.
Di mata banyak anggota, Tinh bukan sekadar pemimpin klub, melainkan juga “guru”. Dari lebih dari 70 orang yang pernah dibimbingnya, sebagian disebut telah mampu memperoleh penghasilan dari keterampilan bernyanyi dan bermain musik. Le Thi Hue, warga Komune Dai Hai, Kota Can Tho, menuturkan ia belajar di klub selama dua tahun. Sebelumnya, ia hanya mengenal lagu-lagu tradisional lewat YouTube. Melalui bimbingan Tinh dan anggota lain, ia belajar teknik, ketepatan ritme, serta cara bernyanyi yang lebih baik. Ia mengaku kini lebih sering menerima undangan tampil dan dapat mencari nafkah. Hue juga mengingat pesan Tinh bahwa ketika kehidupan lebih stabil, semangat bernyanyi dan bermain musik akan semakin kuat.
Klub yang dipimpin Tinh disebut sebagai salah satu dari dua klub musik tradisional di Kelurahan Nga Bay yang berjalan sistematis dan teratur. Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Urusan Sosial Komite Rakyat Kelurahan Nga Bay, Nguyen Van Binh, menyatakan klub itu tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi juga berperan mendukung upaya promosi musik tradisional. Ia mencontohkan, saat Kelurahan Nga Bay mengembangkan pariwisata, Tinh bersama anggota menggubah sejumlah karya yang mengangkat pemandangan tujuh sungai dan potensi wisata kebun, sebagai cara menghubungkan musik tradisional dengan kehidupan setempat.
Untuk mendanai perluasan kegiatannya, Tinh bekerja sama dengan lokasi wisata dan resor dengan menyediakan pertunjukan musik tradisional Vietnam Selatan sesuai permintaan. Sementara untuk urusan keluarga, ia dan istrinya membagi waktu mengelola pekerjaan, serta berkoordinasi dengan saudara-saudara dalam pengaturan yang diperlukan.
Dedikasi Tinh pada musik tradisional tidak lepas dari latar keluarganya. Ayahnya pernah bergabung dengan Grup Cai Luong Kien Giang 1 (dulu Provinsi Kien Giang, kini An Giang), sementara ibunya juga dikenal sebagai penyanyi dalam grup tersebut. Sejak kecil, Tinh dan lima saudaranya tumbuh dengan irama tepuk, petikan kecapi, gesekan alat musik ayahnya, serta suara nyanyian ibunya.
Tinh mengungkapkan, pengalaman melihat kesulitan orang tuanya membuatnya berupaya menempuh pendidikan dan mempelajari profesi. Setelah lulus, ia bekerja di kepolisian sekitar 10 tahun, sebelum beralih ke bisnis agar dapat menyediakan lebih banyak waktu untuk musik tradisional Vietnam. Ia juga mengingat pesan ayahnya sebelum meninggal: agar anak-anaknya berusaha melestarikan tradisi musik dan nyanyian. Menurutnya, kini seluruh keluarga berupaya meneruskan apa yang telah dilakukan orang tua mereka.
Kecintaan pada Cai Luong juga mempertemukan Tinh dengan istrinya, Tran Ngoc Hieu. Keduanya berbagi minat yang sama, dan Tinh kemudian mengajarkan seni Cai Luong kepada sang istri. Hieu mengatakan mereka rukun dalam berbagai hal, dari pekerjaan dan urusan rumah tangga hingga musik dan nyanyian. Ia menilai gairah terhadap musik dan nyanyian turut memperkuat keluarga mereka.
Regenerasi juga tampak pada anak-anak mereka. Dari tiga putra, anak tengah yang masih duduk di kelas enam disebut telah mampu menyanyikan banyak lagu tradisional dan percaya diri mendampingi ayahnya tampil dalam pertunjukan, kompetisi, dan festival. Putranya, Nguyen Tran Thien Qui, mengatakan ia sudah bisa menyanyikan musik tradisional Vietnam Selatan sejak usia lima tahun dan pernah meraih penghargaan di festival serta kompetisi. Ia menegaskan ketertarikannya lahir dari kesukaan pribadi dan bukan karena paksaan orang tua.
Nguyen Tinh diakui sebagai Seniman Berprestasi pada 2022 dan telah menyelesaikan pengajuan ke Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk memperoleh pengakuan sebagai Seniman Rakyat. Sementara itu, istrinya disebut sedang dipertimbangkan untuk mendapatkan gelar Seniman Berprestasi. Pada usia 46 tahun, dengan hampir 40 tahun mengabdikan diri pada musik tradisional Vietnam, Tinh terus menjaga semangat Don Ca Tai Tu dan mewariskan seni Cai Luong di daerahnya—sebuah pilihan hidup yang, baginya, telah menyatu dengan keseharian.