Letnan Kolonel sekaligus penulis Nhu Binh, Kepala Departemen Topik Khusus Surat Kabar Kepolisian Rakyat dan anggota dewan juri dalam sebuah kontes puisi bertema musim semi, menilai banyak karya yang masuk menunjukkan sinyal menggembirakan. Namun, ia juga mencatat persoalan yang mengganggu: sejumlah puisi tampak rapi secara teknik dan indah dalam pilihan kata, tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam karena miskin pengalaman hidup.
Menurut Nhu Binh, persoalan “meminjam” emosi atau ingatan sastra bukan hanya terjadi pada kompetisi puisi Tahun Baru, melainkan menjadi kenyataan yang patut dipikirkan dalam puisi dan sastra kontemporer. Ia bahkan melihat penurunan kualitas pada sebagian karya penyair mapan yang telah memiliki banyak penghargaan. Dalam pandangannya, beberapa puisi terasa kehilangan “jiwa” karya asli, hampa, dan tandus baik dari sisi citra maupun inspirasi puitis.
Meski demikian, ia menegaskan setiap penulis membutuhkan kenangan dan pengalaman sebagai bahan. Yang menentukan adalah cara memprosesnya. Jika penulis tidak menempatkan diri sebagai pusat pengalaman dan tidak berani menatap kehidupan spesifiknya sendiri, ia menilai penulis akan sulit mencapai kedalaman. Dalam kontes puisi musim semi yang ia jurikan, Nhu Binh mengatakan ia tetap menemukan banyak karya yang bertumpu pada pengalaman nyata dan kisah nyata, yang memberi emosi berharga bagi penulisnya.
Ia juga menyoroti tantangan khas puisi musim semi yang lekat dengan kegembiraan dan harapan. Risiko tergelincir menjadi ilustrasi, slogan, atau kedangkalan emosi, menurutnya, selalu ada. Batas yang perlu dijaga adalah keaslian. Nhu Binh menyebut batas antara emosi dan slogan kerap menjadi ujian, terutama ketika penulis terlalu larut dan tidak mampu mengendalikan perasaan. Dalam kondisi demikian, penulis mudah memasukkan kata-kata muluk dan perbandingan berlebihan, sehingga puisi berubah menjadi wacana dan terasa artifisial.
Dalam penilaiannya, penulis perlu berperan sebagai “sutradara utama” yang bijaksana atas jiwa dan intelektualnya sendiri agar karya benar-benar memikat pembaca. Ia membedakan emosi positif—yang muncul spontan sebagai respons atas realitas—dengan emosi yang lebih dalam yang menuntut pemikiran intelektual. Emosi positif, kata dia, perlu “diolah” terlebih dahulu sebelum penulis menyelam ke refleksi, kontemplasi, dan generalisasi pesan. Kebingungan antara dua jenis emosi ini, menurutnya, cukup tampak pada banyak karya, terutama dari penulis non-profesional, dan sebagian besar berasal dari kalangan kepolisian.
Soal anggapan bahwa sebagian peserta menulis untuk menyenangkan juri, Nhu Binh mengaku jarang—bahkan hampir tidak pernah—menemukan unsur tersebut saat membaca karya 2–3 kali dalam proses penjurian. Ia menilai hal itu juga sulit dilakukan karena lima juri memiliki selera puisi yang berbeda. Baginya, puisi adalah “momen emosi yang mekar”. Jika penulis memilih menulis demi selera juri alih-alih berdialog jujur dengan diri sendiri dan pembaca, ia menilai penulis tersebut telah gagal.
Nhu Binh kembali menekankan bahwa profesionalisme tidak berhenti pada keterampilan teknis. Teknik yang terlalu tampak, menurutnya, justru dapat mengurangi daya seni. Bahkan jika sebuah karya sangat dipoles, ia menilai karya tetap gagal bila tidak memiliki sentuhan pribadi yang meninggalkan kesan abadi. “Sentuhan pribadi selalu diperlukan dalam setiap karya,” ujarnya.
Terkait puisi bertema kepolisian, Nhu Binh mengaku terkejut sekaligus bangga karena jumlah karya yang membahas polisi cukup banyak dan kualitasnya relatif kuat serta konsisten. Ia menyebut panitia sempat khawatir karena tema kepolisian tergolong sulit, terlebih untuk menghasilkan karya yang baik. Namun, setelah karya diterima, baik panitia maupun juri merasa lega karena banyak puisi dinilai substansial dan menyentuh. Ia menyebut total karya yang dinilai hampir 3.000 puisi, sehingga tidak mudah mengingat semua penulis yang menulis tema kepolisian dengan baik.
Di antara karya yang berkesan baginya, Nhu Binh menyebut kumpulan puisi Hoang Anh Tuan—juga seorang Letnan Kolonel di pasukan Keamanan Publik yang bertugas di Lao Cai. Meski ada yang menilai gaya Tuan cenderung kuno, Nhu Binh mengaku menyukai gaya tradisional tersebut. Ia menilai puisi Tuan mengalir alami, sederhana, mengharukan, dan indah, tanpa kesan dipaksa. Ia juga menyebut preferensinya pada puisi yang memiliki rima dan musikalitas, sekalipun ia sendiri banyak menulis puisi bebas dan tetap ingin puisi bebas yang kaya melodi dan rima.
Selain itu, ia mencontohkan penulis seperti Ly Hoang Cung, Dau Hoai Thanh, dan Ngoc Minh—yang pernah bertugas di kepolisian—dengan puisi tentang polisi yang sederhana dan bersahaja, tetapi menyentuh karena keaslian kisah hidup para petugas.
Menurut Nhu Binh, kesulitan terbesar menulis puisi tentang polisi adalah mengakses dan mengeksplorasi keindahan dedikasi, pengorbanan, serta kedalaman batin subjek. Untuk itu, penulis perlu kontak dekat dan keseharian dengan subjek, baik dalam hidup sehari-hari maupun pekerjaan yang sangat spesifik. Ia mengingatkan, ketika banyak orang merayakan Tahun Baru Imlek, para petugas tidak selalu memiliki hari libur atau perayaan. Ia juga menyinggung adanya petugas yang gugur saat bertugas, sehingga “darah terus tertumpah di masa damai”.
Ia menekankan bahwa petugas polisi, pertama-tama, adalah manusia. Ketika puisi berani menggali momen-momen sunyi di balik seragam—kecemasan, dedikasi, pengorbanan diam-diam, hingga konflik batin—barulah citra polisi menjadi hidup. Menurutnya, kehormatan benar-benar bernilai ketika berpijak pada perspektif manusiawi yang beragam.
Bagi penulis yang merupakan petugas kepolisian, Nhu Binh melihat keuntungan besar berupa pengalaman praktis yang tidak dimiliki semua penulis. Namun, hambatannya adalah bagaimana memisahkan karya dari perspektif profesional yang sepihak, agar mampu berempati dan memahami tragedi serta kemalangan di balik kehidupan setiap orang. Pengalaman, katanya, adalah bahan; tetapi puisi membutuhkan jarak, kontemplasi, dan keberanian refleksi diri. Ia menilai petugas di lapangan kerap pendiam atau terlalu sadar stereotip, pekerjaan, serta pengaruh opini publik, sehingga mudah jatuh pada puisi ilustratif.
Di akhir, Nhu Binh menyampaikan pesan agar kontes semacam “Musim Semi Baru” tidak hanya dipenuhi puisi yang indah, melainkan suara-suara jujur yang lahir dari kehidupan dengan suka duka dan sedikit penderitaan. Bagi dia, suara yang mungkin terdengar kasar tetap bernilai selama memuat detak jantung yang tulus, aspirasi yang jujur, dan keinginan sepenuh hati dari manusia masa kini. Musim semi, menurutnya, bukan hanya tentang sinar matahari dan bunga, tetapi juga transformasi, awal dialog baru, dan refleksi diri. Ia menegaskan, karya seni seharusnya tidak kekurangan sedikit pun “bekas luka” pengalaman manusia.

