BERITA TERKINI
Novel "Serenity" Karya Ajeng Puspita Menggali Rasa Terasing di Rumah dan Luka Kesehatan Mental

Novel "Serenity" Karya Ajeng Puspita Menggali Rasa Terasing di Rumah dan Luka Kesehatan Mental

Novel Serenity karya Ajeng Puspita menghadirkan kisah fiksi keluarga yang menyorot pencarian makna “rumah” sekaligus refleksi tentang kesehatan mental. Ceritanya bergerak sunyi dan pelan, namun menekan emosi pembaca lewat pengalaman tokoh-tokohnya yang terasa dekat dengan keseharian.

Sejak awal, novel ini menancapkan satu kalimat yang menjadi inti pergulatan batin tokoh utama, Shena Magnolia: “Semua orang mungkin memiliki rumah, tapi tidak semua orang memiliki tempat pulang.” Kutipan tersebut tidak hanya menjadi pembuka, melainkan juga penanda arah perjalanan emosional Shena.

Shena, perempuan berusia 20 tahun, mengalami perubahan besar setelah ibunya meninggal. Duka yang belum pulih bertambah ketika ayahnya, Jonathan—yang akrab dipanggil Papa Jo—memutuskan menikah lagi. Kehadiran Ambar, perempuan yang harus Shena panggil “Mama”, alih-alih mengisi kekosongan, justru memperlebar jarak antara Shena dan ayahnya. Rumah yang dulu terasa aman perlahan berubah menjadi ruang yang asing dan penuh ketegangan.

Perbedaan karakter dan cara pandang antara Shena dan Ambar memupuk kebencian yang tak pernah benar-benar selesai. Shena merasa diperlakukan tidak adil, diabaikan, dan sendirian. Dalam keseharian, ia menelan kesepian, pengorbanan, dan rasa kehilangan tanpa ruang untuk mengadu. Melalui detail-detail ini, novel menggambarkan bagaimana konflik keluarga yang tampak “biasa” dapat menggerogoti kesehatan mental seseorang secara perlahan.

Shena tidak digambarkan rapuh sejak awal. Ia tampil sebagai sosok yang kuat dan berusaha bertahan. Namun luka yang tak diobati membuatnya berubah: semakin tertutup, mudah tersulut emosi, dan cenderung memberontak. Perubahan itu diletakkan dalam konteks usia Shena yang berada di fase remaja akhir, masa pencarian jati diri yang rentan benturan perasaan.

Kesepian Shena kian dalam ketika sebuah insiden membuat Papa Jo meninggalkannya sendirian di rumah, sementara pada saat yang sama teman-temannya mulai menjauh. Titik terendahnya terjadi ketika Shena untuk pertama kali gagal dalam pertandingan badminton—hal yang selama ini menjadi pegangan identitas dan pelariannya. Kekalahan itu bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan simbol runtuhnya kepercayaan diri dan sisa harapan yang ia simpan.

Di balik sikap dingin Papa Jo, tersimpan rahasia yang membuatnya memilih menjauh dengan alasan melindungi, meski caranya justru melukai. Ketika pada akhirnya Papa Jo memeluk Shena yang rapuh, momen tersebut hadir sebagai adegan yang hangat sekaligus tragis, karena Shena digambarkan sudah terlanjur hancur—hatinya perlahan mati sebelum sempat diselamatkan sepenuhnya.

Salah satu kekuatan Serenity terletak pada cara novel ini membahas kesehatan mental tanpa nada menggurui. Tokoh Zara, yang berulang kali ingin mengakhiri hidupnya, dihadirkan dengan empati. Respons Shena yang tidak mengejek atau meremehkan membuat percakapan mereka terasa realistis dan menyentuh. Sementara itu, kehadiran Satria yang tidak menyerah pada Shena menjadi penyeimbang hangat di tengah cerita yang berat.

Melalui rangkaian peristiwa tersebut, novel ini menegaskan bahwa kesembuhan tidak semata datang dari orang lain, melainkan juga dari kesadaran dan kemauan diri sendiri. Salah satu kutipan yang ditekankan adalah, “... seengaknya, kalau lo nggak bisa kasihani orang-orang di sekitar lo, kasihani diri lo sendiri,” sebagai pengingat bagi mereka yang merasa seperti Shena bahwa diri mereka tetap berharga.

Serenity tidak menawarkan konflik bombastis. Kekuatan ceritanya justru berada pada keheningan, emosi yang tertahan, dan luka-luka yang kerap tak terlihat, termasuk rasa terasing di rumah sendiri.