BERITA TERKINI
Padat Karya Kementerian PU Libatkan 44.954 Pekerja Lokal untuk Pemulihan Pascabencana di Sumatera

Padat Karya Kementerian PU Libatkan 44.954 Pekerja Lokal untuk Pemulihan Pascabencana di Sumatera

Genangan lumpur masih terlihat di sudut-sudut ruang kelas SMK 3 Aceh Tamiang pada Senin (19/1/2026). Material sisa banjir bandang belum sepenuhnya hilang dari sejumlah bangunan layanan publik. Namun, di tengah puing-puing bencana, upaya pemulihan mulai berjalan melalui keterlibatan warga setempat.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjalankan Program Padat Karya Tunai untuk mendukung pemulihan pascabencana. Program ini diarahkan tidak hanya untuk mempercepat pembersihan dan perbaikan infrastruktur, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat terdampak agar kembali memiliki penghasilan.

Menteri PU Dody Hanggodo menekankan bahwa penanganan pascabencana tidak cukup berhenti pada pembangunan fisik. Menurutnya, pemulihan juga perlu menggerakkan kembali aktivitas ekonomi warga.

“Tugas kita salah satunya bersih-bersih, dan itu kita kerjakan 24 jam, di support penuh oleh TNI, Polri, dan masyarakat melalui pola padat karya. Kita harus bergerak cepat supaya perekonomian segera bergulir lagi. Masyarakat harus segera punya income kembali, apalagi banyak yang sebelumnya petani dan usahanya rusak akibat bencana,” kata Dody.

Di lokasi yang sulit dijangkau alat berat, Kementerian PU mengoptimalkan pekerja padat karya dengan dukungan peralatan berukuran kecil. Pola ini ditujukan agar pembersihan tetap efektif dan dapat menjangkau area terdampak hingga permukiman serta fasilitas umum.

Salah satu pekerja padat karya, Tri Kurniawan, warga Karang Baru, Aceh Tamiang, menyebut dirinya telah terlibat selama dua pekan terakhir dalam kegiatan pembersihan lumpur dan material sisa bencana. Area yang dibersihkan meliputi lingkungan permukiman dan fasilitas publik, termasuk kantor Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang, SMK 3 Aceh Tamiang, serta SMP Negeri 2 Karang Baru.

“Alhamdulillah, ada pekerjaan. Kita kan sudah tidak pekerjaan setelah banjir. Kemarin diajak kakak yang kerja di Huntara,” ujar Tri sambil bekerja.

Tri mengatakan upah yang diterimanya menjadi sumber penghidupan utama untuk membantu orang tua yang tidak lagi bisa bekerja akibat bencana. Sebagian penghasilannya juga disisihkan untuk kebutuhan orang tua.

Hal serupa disampaikan Ikhsan Putra, warga Kuala Simpang. Ia mengaku sejak bencana melanda harus menghentikan aktivitas ekonominya sebagai pedagang kecil makanan ringan. Kini, Ikhsan ikut dalam pembersihan saluran drainase dan lingkungan fasilitas umum melalui program tersebut.

“Sejak banjir, warung saya tidak bisa jalan karena rumah dan lingkungan kotor semua. Dengan ikut padat karya ini, saya bisa tetap punya penghasilan sambil membersihkan daerah sendiri,” tutur Ikhsan. Ia menyebut upah harian dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya.

Berdasarkan data per 17 Januari 2026, Kementerian PU telah memberdayakan 44.954 tenaga kerja lokal melalui penanganan bencana berbasis Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM). Program ini menyasar wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sekaligus menjadi bantalan ekonomi bagi warga yang kehilangan mata pencaharian.